Poto, kamera, dan liburan
Saya tidak suka dan tidak nyaman dengan kamera. Berdiri di depan kamera selalu menghasilkan suatu penyesalan. Aslinya memang sudah tidak pantas jadi model, tapi entah kenapa setiap dipoto wajah yang sudah pas-pasan ini malah semakin tidak karuan. Pose yang tegang seperti menunggu hukuman tembak atau senyum meringis sering menghiasi poto berisikan wajah saya. Berdiri di belakang kamera lebih parah lagi. Tidak fokus, miring, atau penuh dengan bayang-bayang jari telunjuk, adalah berbagai karakter poto-poto yang saya ambil. Sewaktu masih kuliah, saya pun terkenal sebagai “dia yang tidak bisa dipercaya untuk memegang kamera.” Setiap ada acara poto-poto centil dengan teman-teman kuliah, pasti semua langsung teriak panik ketika saya menawarkan diri untuk mengambil poto bersama.
Akhirnya, teknologi kamera digital bisa menjadi ajang pelatihan saya dalam memegang kamera. Tetap saja tidak pantas menjadi model, wong tidak ada kamera digital yang bisa merubah wajah saya menjadi lebih menarik di poto; tapi paling tidak sekarang saya bisa mencoba untuk mengambil gambar tanpa menghasilkan hujatan dari para pemirsa hasil cepretan saya itu.
Musim panas ini merupakan ajang latihan yang harus dimanfaatkan. Akhirnya saya bisa mengundang kedua orang tua saya dan menghadiahkan liburan ke Swiss untuk mereka berdua. Mereka yang sudah penasaran ingin melihat tempat tinggal anaknya, terutama setelah mendengar ocehannya tentang indahnya kota Jenewa dan negara Swiss, akhirnya punya kesempatan untuk melihat dengan mata kepala mereka sendiri.
Cuti dua minggu, berbagai proyek jalan-jalan sudah dirancang untuk memaksimalkan kunjungan orang tua, dan niat bulat sudah tercapai untuk mengasah kemampuan mengabadikan keindahan negara ini. Lagian kuping sudah panas ngedengerin sindiran teman-teman yang mempertanyakan kemanakah bukti keindahan Swiss yang saya ceritakan.
Akhir minggu pertama dihabiskan dengan jalan-jalan ke berbagai pusat turis di Jenewa. Diawali dengan kunjungan ke depan kantor PBB yang sekarang dihiasi dengan air mancur yang melatarbelakangi si kursi berkaki tiga simbol kampanye anti landmines. Fitur air mancur ini adalah fitur baru kota Jenewa. Diperuntukkan untuk berbagai aktivitas demonstrasi yang sering menghiasi gerbang depan PBB, lapangan ini diperindah dengan puluhan air mancur dan bangku-bangku kota dengan gaya minimalis-modern, yang kemudian menjadi tempat anak-anak untuk main air di tengah-tengah teriknya matahari.
Menelusuri Avenue de la Paix menuju ke danau Leman, kami pun sempat mengunjungi Jardin Botanique. Taman favorit saya. Taman kota yang merangkap tempat konservasi, menyuguhkan indahnya alam di tengah-tengah kota. Pohon-pohon tua dengan rantingnya yang hampir menyentuh tanah, berbagai koleksi tanaman dari berbagai lokasi di Swiss dan dunia, ramainya warna dan bentuk bunga yang menghiasi berbagai lokasi di taman, dan koleksi berbagai hewan cantik, menjadikan taman ini tempat ideal bagi mereka yang ingin beristirahat dari penatnya kehidupan kota dan berusaha menenggelamkan diri sejenak ke heningnya alam.
Keluar dari Jardin Botanique, danau Leman sudah menanti untuk menunjukkan pesonanya. Menyusuri danau Leman, mata pun akan disuguhkan oleh pemandangan biru yang menyejukkan, jet d’eau (air mancur) yang menjulang dan mencolok mata, rimbunnya barisan taman kota yang melingkari danau, barisan kapal layar, dan berbagai bangunan tua nan megah.
Kota tua, museum keramik Ariana, museum seni dan sejarah, dan berbagai taman kota lainnya, juga telah menunjukkan persona lain dari kota Jenewa ke kedua orang tua saya. Papa saya bahkan sempat membayangkan nikmatnya bermain catur di tengah rimbunnya taman kota seperti halnya di taman Bastion. Parc de Bastion
bersambung



hi pipit saya fito nongol lagi. saya udah kirim email balasan ke kamu mudah2an kamu udah baca. bodohnya..aku kira kamu tinggal di jakarta, aku bener2 tidak tau kalo kamu tuh tinggal di swiss. maaf juga ttg pertanyaan kamu kerja dimana krn mungkin gak sopan kali ya??
menyenangkan ya tinggal di swiss, jd tiap hari bisa ngeliat salju, hehe…
aduuuu…tenyata kamu anak yg sangt berbakti, ortumu pasti sangat senang sekali diajak jalan2 ke swiss. mereka beruntung punya anak seperti kamu dan tentunya kamu juga beruntung punya ortu spt mrk. karena bagaimanapun kamu tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa andil ortu mu kan? kalo boleh aku pengen banget foto gunung alpen yg ada saljunya (mungkin tiap hari apa ya, ada saljunya? biasalah wong ndeso jadi katrok, hehe…)
kok tulisannya keputus se..belum selesai ya? liburannya udah selesai kan? tapi masih sibuk urusan lain kali ya?
oke deh. makasih, cerita kamu nambah inspirasi walopu juga ada efek sampingnya: ‘pengen ke swiss dulu sebelum mati’ hehe…mimpi kaliye…..
fito
July 23, 2007
aku gk bisa ngomong apa22.. * *
0
“cma bisa mlongo doank_dnger kmu crita”
yang jelas “kamu hebat”
aku salut ama kmu..!!
..lam knal
make_over99@yahoo.com
July 26, 2007
Hi Pipit! Ini Santi dari Illinois. Tadi gw kasih comment di postingan yg ini http://bla3x.blogspot.com/2006/05/bahasa-saya-bahasa-kamu.html
.
Hehehe suami gw juga begitu… tegang kalau difoto, dan tidak bisa mengambil foto dgn baik. Emang harus latihan ya Pit .. dan hasilnya udah keliatan nih di foto2 Geneva
santi
July 28, 2007
Oaaah, Geneve di kala summer. Panas tinggal nyebur ke lac Leman atuh!
eheh, ikut seneng. Daripada di JKT nan gersang berdebu ini. Makan ati di sini, percaya kata aye!
unmacchiato.blogspot.com
macchi
August 9, 2007
Kapan mampir dan foto2 di headquarters disini?
Seneng bisa mampir ke blognya, salam hangat dari afrika barat!
Domba Garut!
August 13, 2007
hi pit apa kabar?
waah senangnya ortu sedang berkunjung ya
semoga liburan mereka menyenangkan ya
Rona
Ronce
August 13, 2007
mbak, foto yg parc-de-bastion2.jpg nya asik juga
ni ngambil gambarnya sambil berdiri ya?
Mungkin bisa dicoba ngambil gambarnya dengan posisi kamera yg lebih rendah. Sambil jongkok mungkin. Kadang2 hasilnya bisa lebih mengesankan loh..
haikal
September 2, 2007