<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Another try</title>
	<atom:link href="http://bla3x.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bla3x.wordpress.com</link>
	<description>Just comments on daily life or thoughts that come out from my little tiny brain</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Jul 2009 14:25:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bla3x.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/f606ea810ae3208443add7dd979bf66a?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Another try</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Lelah</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com/2009/07/11/lelah/</link>
		<comments>http://bla3x.wordpress.com/2009/07/11/lelah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 14:25:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bla3x.wordpress.com/2009/07/11/lelah/</guid>
		<description><![CDATA[Ingin menyerah.
Bahkan kegagalan pun terlihat sungguh nyaman.
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=210&subd=bla3x&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ingin menyerah.<br />
Bahkan kegagalan pun terlihat sungguh nyaman.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bla3x.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bla3x.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bla3x.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bla3x.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bla3x.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bla3x.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bla3x.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bla3x.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bla3x.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bla3x.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=210&subd=bla3x&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bla3x.wordpress.com/2009/07/11/lelah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53c1f08e248032c04c31c3cdb7e5f65c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Pipit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tidak amankah Jenewa?</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com/2008/11/01/tidak-amankah-jenewa/</link>
		<comments>http://bla3x.wordpress.com/2008/11/01/tidak-amankah-jenewa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2008 01:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jenewa - Geneva]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bla3x.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa blog ini dibiarkan telantar tanpa tulisan baru. Sebenarnya bukan maksud untuk tidak menulis, tapi apa daya penelitian saya di benua kangguru dan Indonesia telah menyita energi dan keinginan untuk menulis.
Walau banyak sudah kesan, pesan, dan tentunya keluh kesah tentang penelitian di 3 negara dan 5 kota yang ingin saya tulis, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=203&subd=bla3x&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa blog ini dibiarkan telantar tanpa tulisan baru. Sebenarnya bukan maksud untuk tidak menulis, tapi apa daya penelitian saya di benua kangguru dan Indonesia telah menyita energi dan keinginan untuk menulis.</p>
<p>Walau banyak sudah kesan, pesan, dan tentunya keluh kesah tentang penelitian di 3 negara dan 5 kota yang ingin saya tulis, tapi ceritanya harus menunggu lain waktu. Kali ini saya mau bercerita (kembali) tentang hidup di Jenewa sebagai reaksi terhadap berbagai cerita tentang tidak amannya Jenewa dari beberapa orang Indonesia yang ketumpuan sial di kota kediaman tercinta saya itu.</p>
<p>Setelah menerima surat dari seorang teman baru yang akan tinggal sementara di Jenewa sebentar lagi yang mengutarakan kekhawatirannya akan keamanan kota Jenewa, saya sempat tercengang. Tak hanya karena teman saya itu tinggal di Jakarta, tapi lebih karena cerita-cerita horor tentang Jenewa itu ternyata sudah terlalu banyak diceritakan oleh mereka orang Indonesia yang pernah tinggal atau berkunjung ke sini.</p>
<p>Saya terus terang sebal dengan cerita heboh yang kemudian dijadikan generalisasi dan memberikan citra ketidakamanan kota Jenewa. Jadi, ijinkanlah saya menceritakan sedikit tentang kota ini dan bagaimana saya tetap merasa hidup saya jauh lebih aman daripada di Indonesia.</p>
<p>Saya cinta sekali dengan Jenewa, bukan hanya karena tata kota yang cantik, transportasi publik yang kenyamanan dan pelayanannya telah memberikan standar ideal bagi apapun yang menamakan dirinya transportasi publik, berbagai taman kota yang indah dan rindang, atau berbagai cafe dan restoran langganan saya. Tapi karena kota Jenewa itu AMAN untuk seorang pipit, seorang perempuan yang penakut dan tidak punya jiwa petualang sama sekali. Mungkin saya subjektif, mungkin saya termasuk yang beruntung, tapi mungkin juga tidak.</p>
<p>Banyak orang menggerutu akan meningkatnya tingkat kriminalitas di Swiss dan <a href="http://substratum.blog.tdg.ch/archive/2008/07/09/criminalite-a-geneve-des-chiffres-alarmants.html">Jenewa</a>, dan menuduh peningkatan jumlah imigran (gelap) sebagai sebabnya. Untuk yang mengikuti perkembangan politik di Jenewa dan Swiss pastinya tidak asing akan topik ini. Sebagai seorang pendatang dan pelajar ilmu politik, saya sungguh merasa cemas akan perkembangan yang dengan gampangnya memberikan pembenaran akan generalisasi dan diskriminasi. Tidak semua pendatang tipe maling, dan tidak semua kejahatan dilakukan oleh pendatang. Jadi sebelum dengan gampangnya ikut-ikutan menyalahkan para imigran, sebaiknya pikirkan dulu konsekuensi pendapat tersebut.</p>
<p>Seberapa tidak amankah Jenewa? Menurut <a href="https://www.osac.gov/Reports/report.cfm?contentID=61643">penelitian</a> dari Overseas Security Advisory Council, peningkatan tingkat kejahatan di Jenewa memang cukup mencengangkan. Peningkatan tingkat kejahatan seksual di tahun 2004-2005 misalnya, sampai mencapai lebih dari 50%  atau 71 kasus yang dilaporkan.  Tapi apakah ini berarti kekerasan seksual sesuatu yang jauh lebih banyak terjadi di Jenewa daripada di Jakarta? Saya ragu. Saya tidak naif dan tidak percaya sepenuhnya bahwa ada kota yang <em>benar-benar aman</em> di dunia ini untuk seorang perempuan, nama lain untuk obyek tindakan kejahatan. Tapi bila dibandingkan dengan tingkat kejahatan di Jakarta misalnya, paling tidak 3,200 <a href="http://gmu.edu/facstaff/sexual/brochures/WorldStats2005.pdf">kasus pemerkosaan</a> di tahun 1993 (saya yakin angka ini jauh lebih rendah daripada banyak kasus yang sebenarnya terjadi mengingat korban pemerkosaan mendapatkan tekanan sosial untuk tidak melaporkan kasusnya di Indonesia), Jenewa jauh lebih aman. Memang data statistik tersebut tidak dapat benar-benar dibandingkan mengingat perbedaan waktu dimana statistik tersebut diambil, apalagi mengingat tingginya angka kekerasan seksual sewaktu kerusuhan tahun 1999 di Jakarta. Tapi paling tidak bisa memberikan sedikit gambaran.</p>
<p>Rendahnya atau <a href="https://www.osac.gov/Reports/report.cfm?contentID=79761">tidak adanya </a>statistik kejahatan yang bisa dipercaya bagi Indonesia tidak berarti bahwa angka nominal yang disebutkan untuk negara lain merupakan bukti bahwa negara tersebut jauh lebih rawan! Angka kecopetan di Jenewa memang cukup memalukan, 4,546 kasus yang tercatat di tahun 2004-2005, tapi apakah angka tersebut jauh lebih banyak dari Jakarta? Saya ragu. Memangnya kasus kecopetan selalu dilaporkan dan selalu dicatat di Jakarta? Untuk bisa membandingkan secara objektif antara tidak amannya Jenewa dan kota besar lainnya di Indonesia cukup mustahil, karena tidak adanya statistik kejahatan yang dapat dipercaya untuk Indonesia. Terlebih lagi, <a href="http://www.wikiforum.ch/node/434">laporan</a> terakhir dari kepolisian neuchâteloise (canton tetangga Jenewa) menyatakan bahwa tingkat kejahatan di Swiss menurun pada tahun 2007.</p>
<p>Data statistik secara obyektif ternyata tidak membantu banyak untuk membandingkan keamanan di Jenewa daripada di Indonesia. Bagaimana dengan pengalaman subyektif?</p>
<p>Saya datang ke negara Swiss pada tahun 2001, sewaktu saya belum genap berumur 23 tahun. Berhubung saya berasal dari keluarga sederhana, saya belum pernah jalan-jalan keluar negeri sebelumnya. Saya sendiri seorang yang penakut, dan pengalaman tinggal di kota Lampung dan didikan orang tua membuat saya sangat waspada akan kejahatan. Jadi bayangkan takutnya saya ketika harus tinggal di negeri orang, sendirian.</p>
<p>Tapi ternyata, Swiss dan Jenewa-lah yang membuat saya bisa mengatasi berbagai ketakutan saya sebagai seorang perempuan. Selama 6 tahun lebih saya tinggal di Jenewa, tidak terhitung banyaknya waktu dimana saya harus pulang naik bis umum pada malam hari (kadang sampai jam 11 malam) sendirian. Kegiatan yang tidak akan pernah saya lakukan di Indonesia! Tapi tidak pernah saya mendapatkan masalah. Deg-degan pasti, karena saya takut dengan gelap. Diganggu orang di bis? Tidak pernah.</p>
<p>Kenapa saya merasa aman di bis bahkan di malam hari? Bis dan tram di Jenewa sangat nyaman dengan jendela yang buesar. Pada malam hari, lampu di dalam bis atau tram akan menyala dengan sangarnya. Jadi tidak ada itu pojok remang-remang yang mengundang aktivitas kejahatan. Lagipula, setiap sopir angkutan umum bisa menghubungi polisi atau ambulans langsung dari bisnya. Setiap dia melihat ada kegiatan yang mencurigakan di bisnya (setiap bis dilengkapi kamera atau kaca) dia bisa dengan gampangnya menelpon polisi yang kemudian akan tiba di pemberhentian bis berikutnya.</p>
<p>Jalan-jalan di Jenewa pun kebanyakan memiliki penerangan jalan yang sangat baik. Kebanyakan trotoar diterangi lampu malam yang sangat membantu saya merasa aman.</p>
<p>Ditambah, yang namanya kerusuhan massa itu bisa dibilang hampir tidak ada. Kalau di Indonesia saya sering ketakutan setiap melihat gerombolan massa, di sini, jumlah penduduk yang sedikit dan relatif lebih gampang diatur sangat menyejukkan. Di sini tidak ada tawuran antar pelajar, pengeroyokan maling, tawuran antar kampung atau antar ras. Pendek kata, Buser akan sepi berita kalau harus meliput Jenewa.</p>
<p>Demonstrasi sekalipun jarang yang berbuah kekacauan, kecuali beberapa demonstrasi anti globalisasi yang pernah mencoreng kota Jenewa karena ditunggangi oleh kelompok anarkis pada tahun 2003 (<a href="http://www.cnn.com/2003/WORLD/europe/06/02/summit.protests/index.html">berita</a>). Saya ingat bagaimana masalah ini menjadi topik pembicaraan dan debat selama beberapa bulan kemudian, dan bahkan menyebabkan mundurnya beberapa pejabat.</p>
<p>Demonstrasi memang makanan sehari-hari di kota ini, tapi tidak pernah saya merasakan was-was seperti halnya setiap ada demonstrasi di Indonesia. Selain peristiwa tahun 2003 itu, seingat saya tidak ada masalah kekerasan yang berbuah atau mewarnai demonstrasi. Satu yang perlu diingat, berdasarkan hukum, militer tidak diperkenankan untuk ikut campur dalam pengamanan demonstrasi. Ini disebabkan suatu peristiwa berdarah pada tahun 1960-an (kalau tidak salah) di kota tersebut yang tugunya selalu saya lihat setiap ingin ke University of Geneva. Saya harus konfirmasi dulu dengan suami saya yang tahu lebih jelas tentang peristiwa tersebut.</p>
<p>Lucunya lagi, demonstrasi selalu dijadwalkan dan diberitahukan secara luas kepada publik untuk mencegah terganggunya aktivitas yang lain. Bis dijadwal dengan baik dan mengumumkan berbagai rute yang akan terjadi kemacetan. Demonstrasi pun secara umum berjalan sangat damai dan bahkan menyenangkan. Lagipula banyak demonstrasi di sini yang memiliki motivasi yang jauh dari kekerasan.</p>
<p>Saya pernah tinggal sendirian di apartemen selama satu tahun tanpa suami, tidak pernah mendapatkan masalah apapun. Bisa tidur dengan nyenyak waktu malam, dan bisa dengan nyaman meninggalkan apartemen kosong setiap harinya.</p>
<p>Saya tidak pernah kecopetan, kecolongan, ditodong, menjadi korban pelecehan seksual, atau dikompas. Sayangnya semua hal tersebut (kecuali ditodong) pernah saya alami di Indonesia, terlepas dari sederhananya saya dalam hidup dan berpenampilan.</p>
<p>Tapi mungkin juga gaya hidup saya yang kutu buku dan waspada yang selalu &#8220;melindungi&#8221; saya. Saya memang tidak suka ke pub atau bar di malam hari, kecuali bila diajak dengan teman ramai-ramai. Saya tahu diri untuk tidak mengundang kejahatan dengan tidak berada di titik-titik rawan kota di malam hari sendirian, seperti di beberapa pojok gelap stasiun kota, beberapa tempat di daerah Pâquis dan des Eaux-Vives, atau berjalan sendirian tengah malam menyusuri taman kota yang gelap. Saya tidak lengah menaruh tas setengah terbuka di kursi di bis, memamerkan emas 10 kilo di badan saya, atau lengah dalam menjaga tas tangan saya di keramaian. Saya juga selalu waspada bila berjalan di daerah yang penuh dengan cafe atau pub, karena saya takut dengan orang yang mungkin tipsy atau sedikit mabuk. Tapi apakah ini artinya saya merasa Jenewa tidak aman?</p>
<p>Bukannya sikap waspada juga selalu dianjurkan di Indonesia? Saya hanya melakukan hal yang sama dengan apa yang akan saya lakukan di Indonesia, bahkan kurang! Mana berani saya naik bis kota setelah jam 8 malam di Indonesia sendirian. Saya waspada bukan karena saya takut, tapi karena saya berpikir dan sudah terbiasa.</p>
<p>Inilah salahnya. Mungkin banyak orang Indonesia yang mentang-mentang berada di Swiss langsung menjadi naif kemudian menjadi lengah, dan ketika sial menimpa langsung menghujat ketidakamanan Swiss. Suatu komentar yang sungguh tidak proporsional.</p>
<p>Untuk menghindari kejahatan di Jenewa resepnya ya sama saja dengan dimana saja. Waspada. Ketahui titik-titik rawan kota (yang semua kota juga ada) dan hindarilah. Itu saja.</p>
<p>Mungkin Jenewa memang sudah kurang aman dibandingkan 10 atau 20 tahun lalu (banyak sekali komentar dan cerita tentang amannya Swiss dan Jenewa pada waktu lalu bila dibandingkan dengan sekarang), tapi tidak berarti Jenewa tidak aman. Saya merasa jauh lebih aman di kota tersebut dibandingkan dengan kota manapun yang pernah saya tinggali atau kunjungi.</p>
<p>Jadi, jangan takut untuk datang dan berkunjung ke Jenewa. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bla3x.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bla3x.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bla3x.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bla3x.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bla3x.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bla3x.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bla3x.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bla3x.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bla3x.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bla3x.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=203&subd=bla3x&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bla3x.wordpress.com/2008/11/01/tidak-amankah-jenewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53c1f08e248032c04c31c3cdb7e5f65c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Pipit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>And yet, another visa problem</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com/2008/01/24/and-yet-another-visa-problem/</link>
		<comments>http://bla3x.wordpress.com/2008/01/24/and-yet-another-visa-problem/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 21:28:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan pelajar - Student life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bla3x.wordpress.com/2008/01/24/and-yet-another-visa-problem/</guid>
		<description><![CDATA[It&#8217;s January, a beginning of another year.I have stopped to be optimistic on the new year when I embarked on a PhD journey. But this time, the self-pity level has reached a dangerous level. This time, the year was not only started with &#8220;darn&#8230;another year of &#8220;trying to finish the thesis&#8221;", it was also started [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=202&subd=bla3x&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>It&#8217;s January, a beginning of another year.I have stopped to be optimistic on the new year when I embarked on a PhD journey. But this time, the self-pity level has reached a dangerous level. This time, the year was not only started with &#8220;darn&#8230;another year of &#8220;trying to finish the thesis&#8221;", it was also started with administrative problems commonly faced by the citizens of not-favorable-nations. I was supposed to be in a different continent, fighting 10 hours jet-lag, crying my heart out for missing home, and working my ass to finally have some work done. In fact, I am still at home, crying my heart out and missing so many hours of sleep, wondering when I will finally get a free-to-come stamp on my passport. While life-threatening situation is a much bigger problem than some paper issues, I assure you, having your life in limbo awaiting a visa status is quite an experience.I cannot wait to the time when I can think of this moment in a nostalgic mode.  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bla3x.wordpress.com/202/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bla3x.wordpress.com/202/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bla3x.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bla3x.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bla3x.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bla3x.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bla3x.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bla3x.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bla3x.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bla3x.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bla3x.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bla3x.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=202&subd=bla3x&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bla3x.wordpress.com/2008/01/24/and-yet-another-visa-problem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53c1f08e248032c04c31c3cdb7e5f65c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Pipit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>To Flo</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com/2007/10/24/to-flo/</link>
		<comments>http://bla3x.wordpress.com/2007/10/24/to-flo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 19:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bla3x.wordpress.com/2007/10/24/to-flo/</guid>
		<description><![CDATA[Rigot, office no. 21, is where everything started. The small dusty room which then become our common playground, our dear office a.k.a tea room. The office where we met, worked together, calmed each other when the stress level had reached a dangerous level, took tea with anything from biscuits to fondant au chocolat, shared ideas, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=201&subd=bla3x&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rigot, office no. 21, is where everything started. The small dusty room which then become our common playground, our dear office a.k.a tea room. The office where we met, worked together, calmed each other when the stress level had reached a dangerous level, took tea with anything from biscuits to <i>fondant au chocolat</i>, shared ideas, debated ideas, or laughed at our tragic PhD lives and cheered to anything good that life brought us.It was four years ago.Four years of a beautiful friendship. A friendship which proves clash of civilization is just rubbish.Four years full of common, silly, important, sad, happy moments. Four years of our daily luncheons, our weekly movies, dinners, shoppings, our laughs, and our countless discussions. All together unforgetable moments. Moments which I have taken for granted and will miss so dearly after Friday.I still remember when you cleaned up your desk and moved to another professional life. So proud of you, and so glad that your office was just 10 minutes down the road.I still remember when I accompanied you during your wedding preparation. So honored to be trusted to witness the beginning of your new life and so happy to see your smile when you walked down the aisle.This Friday you will start a new life in a strange yet must be exciting place. Unfortunately this time it&#8217;s not 10 minutes down the street. It&#8217;s 7 hours by plane and I will have to check the time differences before calling you up.I will miss you my dear friend. I will miss our chats, our last-minutes plans to brighten up the gloomy days, your optimistic attitude and phrase &#8220;mais non, ca va aller&#8221; whenever you see me going into my usual mode, and the always ready pat on my back to remind me that whatever happen I will always have friends and people who love me. But most of all, I will miss your presence.I believe I never said thank you.Thank you, Flo, for being my friend. Thank you for your care, tolerance, understanding, and for remember that I don&#8217;t like <i>câpres</i>, <i>anchois</i>, <i>olives</i> and <i>saumon</i> on my pizza. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> I hope I have been a good friend to you as you are to me.Good luck dear Flo. I am sure you will do fine, as always. My thought will always be with you.With love.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bla3x.wordpress.com/201/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bla3x.wordpress.com/201/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bla3x.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bla3x.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bla3x.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bla3x.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bla3x.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bla3x.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bla3x.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bla3x.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bla3x.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bla3x.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=201&subd=bla3x&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bla3x.wordpress.com/2007/10/24/to-flo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53c1f08e248032c04c31c3cdb7e5f65c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Pipit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kursus bahasa Inggris: Kegunaan lain continous tense</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com/2007/09/21/kursus-bahasa-inggris-kegunaan-lain-continous-tense/</link>
		<comments>http://bla3x.wordpress.com/2007/09/21/kursus-bahasa-inggris-kegunaan-lain-continous-tense/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Sep 2007 17:52:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kursus bahasa Inggris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bla3x.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya, setelah lama absen, saya mau menulis lagi tentang kursus bahasa Inggris. Iya, masih tentang continous tense. Ternyata, setelah ngeliat contekan ada beberapa hal yang sangat menarik tentang si continous tense yang saya sendiri juga kurang sadar.
Present tense with a future meaning: penggunaan present continous tense untuk menyatakan suatu rencana yang akan dilakukan pada masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=200&subd=bla3x&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Akhirnya, setelah lama absen, saya mau menulis lagi tentang kursus bahasa Inggris. Iya, masih tentang continous tense. Ternyata, setelah ngeliat contekan ada beberapa hal yang sangat menarik tentang si continous tense yang saya sendiri juga kurang sadar.</p>
<p><strong>Present tense with a future meaning:</strong> penggunaan <em>present continous tense</em> untuk menyatakan suatu <em>rencana</em> yang akan dilakukan pada <em>masa yang akan datang</em>.</p>
<p>Lho kok?</p>
<p>Iya..<em>present continues tense</em>, yang sudah saya jelaskan sedikit di <a href="http://bla3x.wordpress.com/2006/04/22/pelajaran-english-grammar-1/">sini</a> ternyata bisa digunakan untuk menandakan rencana seseorang. Caranya cukup dengan menambahkan keterangan waktu di masa depan.</p>
<p>Contoh: <strong>I am watching a movie with my friends this evening</strong>.</p>
<p>Nah, dengan menambahkan keterangan this evening, ini menandakan suatu rencana. Beda bila kita hanya bilang: <strong>I am watching a movie</strong>, yang menggambarkan kegiatan menonton film saat ini juga.</p>
<p>Cara lainnya adalah dengan menggunakan <em>“going to”</em>. Jadi, kita bisa juga mengatakan <strong>I am going to watch a movie this evening with my friends</strong>.</p>
<p>Beda antara penggunaan keduanya secara grammatical hampir tidak ada, karena keduanya sama-sama menerangkan suatu kegiatan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang. Tapi dalam penggunaan ada nuansa yang berbeda. Menurut contekan saya, <em>“going to”</em> digunakan bila kita <em>sudah memutuskan/berniat</em> <strong>(intend)</strong> untuk melakukan suatu kegiatan tertentu; dimana niat tersebut sudah diputuskan sebelum kita bicara dan bisa segera dilaksanakan. <em>Present continous tense</em> digunakan bila kita ingin menceritakan suatu <em>rencana</em> <strong>(arrange)</strong> untuk melakukan kegiatan tertentu.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><strong>1. I am meeting a friend tonight.</strong></p>
<p><strong>2. I am going to sleep early tonight.</strong></p>
<p>Nah…di contoh pertama, saya berencana untuk bertemu dengan seorang teman, sedangkan di kalimat kedua saya memang sudah berniat untuk tidur lebih awal malam ini, misalnya sejak tadi siang, dan baru menceritakan niat saya tersebut sekarang. <img src="http://bla3x.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=")" class="wp-smiley" /></p>
<p>Kalau begitu kenapa tidak menggunakan<em> future tense</em> saja?</p>
<p>Menurut buku panduan saya penggunaan <em>future tense</em> untuk sesuatu yang <em>sudah kita rencanakan</em> tidak pas.  Saya rasa kata kuncinya adalah<em> personal arrangement</em>, rencana pribadi (yang sudah diputuskan). Untuk <em>personal arrangement</em>, gunakan <em>present continous tense</em> + keterangan waktu (masa depan).</p>
<p>Contoh:</p>
<p>1.<strong> She is getting married next month</strong>. Dalam kalimat ini kita sudah terima undangan pernikahan dan menceritakan rencana pernikahan tersebut kepada orang lain.</p>
<p>2. <strong>They will marry after graduation</strong>. Di kalimat ini belum ada rencana pasti kapan si they bakal menikah, jadi kita bisa menggunakan <em>future tense</em>.</p>
<p><em>“Going to”</em> juga bisa digunakan untuk menggambarkan suatu prediksi yang menurut si pembicara sudah pasti akan terjadi. Misalnya, kita lihat awan mendung dan petir sudah menggelegar kita bisa bilang:<strong> it is going to rain</strong>.</p>
<p>Terakhir, <em>“going to”</em> digunakan untuk menceritakan suatu niat yang tidak terlaksana di masa kini. Contoh: <strong>I was going to shop but in the end decided to stay home</strong>.</p>
<p>Banyak kan kegunaan si <em>“going to”</em> dan<em> continous tense.</em> Singkatnya:</p>
<p>1. Untuk menceritakan suatu niat <em>(intention) </em>yang akan dilaksanakan di masa depan dimana niat tersebut sudah diputuskan <em>(have decided)</em> sebelum berbicara gunakan: <strong>S+ to be + going to + verb</strong></p>
<p>2. Untuk menceritakan suatu niat di masa lampau yang tidak terlaksana di masa kini gunakan: <strong>S+ was/were + going to + verb</strong></p>
<p>3. Untuk menceritakan suatu rencana <em>(arrangement)</em> yang sudah diputuskan untuk dilaksanakan di masa yang akan datang gunakan: <strong>S + to be + verb + ing + time</strong></p>
<p>4. Untuk menceritakan suatu prediksi yang menurut kita pasti akan terjadi gunakan: <strong>S + to be + going to + verb </strong></p>
<p>Kembali, pengunaan <em>present continous tense</em> dan<em> “going to”</em> tidak memiliki perbedaan grammatical mendasar, hanya dalam nuansa. Jadi tidak perlu terlalu &#8220;takut&#8221; dalam menggunakan keduanya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terus terang, sebelum lihat contekan saya hanya pakai perasaan, dan sekarang akhirnya tahu penggunaan yang lebih tepat untuk keduanya. Semoga penjelasan ini berguna juga bagi anda.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bla3x.wordpress.com/200/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bla3x.wordpress.com/200/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bla3x.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bla3x.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bla3x.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bla3x.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bla3x.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bla3x.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bla3x.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bla3x.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bla3x.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bla3x.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=200&subd=bla3x&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bla3x.wordpress.com/2007/09/21/kursus-bahasa-inggris-kegunaan-lain-continous-tense/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53c1f08e248032c04c31c3cdb7e5f65c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Pipit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bla3x.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Turis kritis</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com/2007/09/19/turis-kritis/</link>
		<comments>http://bla3x.wordpress.com/2007/09/19/turis-kritis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2007 15:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jenewa - Geneva]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bla3x.wordpress.com/2007/09/19/turis-kritis/</guid>
		<description><![CDATA[Inginnya menyambung cerita jalan-jalan bersama orang tua, tapi apa daya foto-foto yang patutnya melengkapi cerita tersimpan di komputer rumah. Ingin terus berusaha melakukan penelitian yang datanya hampir mustahil tersedia di dunia maya kecuali kalau saya fasih dalam membaca abjad cina dan huruf kanji, tapi apa daya frustasi sudah memuncak. Jadilah saya akan meneruskan cerita dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=198&subd=bla3x&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Inginnya menyambung cerita jalan-jalan bersama orang tua, tapi apa daya foto-foto yang patutnya melengkapi cerita tersimpan di komputer rumah. Ingin terus berusaha melakukan penelitian yang datanya hampir mustahil tersedia di dunia maya kecuali kalau saya fasih dalam membaca abjad cina dan huruf kanji, tapi apa daya frustasi sudah memuncak. Jadilah saya akan meneruskan cerita dengan menuturkan berbagai komentar orang tua saya selama di sini. Macam-macam komentarnya, dari yang heran, berkeluh kesah, kagum, berbau nasionalis, sampai iseng.</p>
<p><strong>Bener Pit, Swiss bersih banget!</strong><br />
Ini komentar pertama kedua orang tua saya. Keluar bandara dan selama perjalanan menuju rumah, orang tua saya terkagum-kagum melihat rindang dan bersihnya jalanan kota Jenewa. Keduanya langsung berhandai-handai..wah, enak banget nih kalau mau lari pagi. Trotoarnya adem tidak gersang seperti di Indonesia.</p>
<p>Pertama kali berdiri di balkon apartemen, papa langsung menikmati kesegaran udara, terlepas dari kenyataan kalau apartemen saya terletak di samping jalan besar. &#8220;Seger&#8230;enak untuk tidur ini,&#8221; begitu celetuknya.</p>
<p>Sewaktu Mama saya melihat mobil sapu, dia cuma bisa komentar&#8230;&#8221;ya ampun, jalanan aja disapu sampai begitu. Bener-bener kurang kerjaan deh. Tapi bener, kok ya ndak ada sampah sama sekali.&#8221;</p>
<p>Pertama kali masuk ke kamar kecil umum Mama juga sampai terkagum-kagum. &#8220;Halah&#8230;toilet umum stasiun kota aja kinclong begini. Bener&#8230;bener&#8230;Swiss memang bersih!&#8221;</p>
<p><strong>Jenewa aman banget ya&#8230;kalau di Indonesia sudah&#8230;</strong><br />
Kedua orang tua saya juga kagum dengan amannya Jenewa. Mama saya sempet kaget sewaktu melihat saya dengan santainya meletakkan kotak berisi berbagai macam pesanan dari Indonesia di balkon rumah. &#8220;Kok ditaruh di luar, nanti diangkut orang lho!&#8221; Sewaktu saya dengan santainya bilang, &#8220;Pipit mau lihat siapa sih maling yang mau merayap sampai lantai dua buat menggondol mie instan. Lagian mama, di sini nggak ada maling yang berkunjung ke balkon.&#8221; Beliau cuma bisa senyum-senyum kecil.</p>
<p>Jalan-jalan di kota, orang tua sempat kaget jiwa dan raga melihat mobil mewah terparkir dengan jendela yang terbuka. &#8220;Wah&#8230;kalau di Indonesia, dua menit itu jas yang disenderin di kursi mobil sudah raib; kalau enggak mobilnya sekalian.&#8221; Sewaktu melihat orang dengan santainya meninggalkan mobil tidak dikunci dengan kunci mobil masih bertengger di slotnya karena keluar sebentar membeli koran di pinggir jalan, orang tua saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kenekatan orang di Jenewa. Mobil-mobil mewah juga kadang diparkir begitu saja di parkiran terbuka dan terpencil.</p>
<p>Papa saya yang kadang suka sinis langsung nyeletuk, &#8220;Lha iyalah mereka cuek, wong kalau dicolong ada asuransi yang bakal mengganti rugi semuanya. Mereka tinggal beli mobil baru. Lagian di sini mana ada orang yang mau beli mobil colongan.&#8221;</p>
<p><strong>Kalau transportasi umumnya begini sih enak!</strong><br />
Begitu komentar papa dan mama selama kunjungan di Jenewa. Mereka berdua takjub melihat efisiennya sistem kereta api di Swiss yang nota bene negeri bergunung. <a href="http://mct.sbb.ch/mct/en/top_angebot.htm">Kereta api</a> menjangkau berbagai penjuru negeri, sampai ke puncak gunung yang tingginya <a href="http://www.flickr.com/photos/pipit6/826977528/">lebih dari 1000 m</a> sekalipun. Topografi pegunungan tidak menghalangi perambahan rel kereta api, pembuatan terowongan menembus gunung sudah menjadi salah satu keahlian teknisi Swiss.</p>
<p>Kereta api yang canggih, tepat waktu, bersih, dan nyaman membuat mama saya sangat bahagia. Naik kereta InterCity yang bertingkat, mama langsung maksa untuk duduk di lantai dua. Papa dan mama terkagum-kagum melihat interior design kereta yang tidak hanya cantik tapi juga egronomis dan canggih. Pintu antar kompartemen dengan sensor gerak, meja samping tempat duduk yang bisa dilipat, tempat sampah di bawah meja yang tidak macet dan bersih, cantolan jas di samping setiap tempat duduk, beragamnya tempat penyimpanan bagasi, kompartemen khusus sepeda, dan lantai kompartemen yang dilapisi karpet yang tidak dipenuhi dengan noda dan debu. Sayang kami lupa untuk poto-poto.</p>
<p>Nanti ya &#8216;pa, kalau pipit pergi-pergi, pipit bakal potoin isi dalam kereta.</p>
<p><a href="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/09/di-dalam-tram2.jpg" title="Di dalam tram"></a>Papa juga sempet ngidam naik<a href="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/09/di-dalam-tram2.jpg" title="tram"> tram</a> kota. Tram kota yang sungguh bersih, designnya yang sungguh cantik, dengan kamera video untuk keamanan, kursi yang nyaman dan tidak empet-empetan, ruang gerak yang sungguh luas, ber-AC, layar TV yang menunjukkan pemberhentian tram berikutnya, membuat kedua orang tua saya betah keliling-keliling kota naik tram. Saya pun tidak terlalu merasa bersalah dan sedih karena tidak memiliki mobil.</p>
<p>Melihat pengamen di tram, papa langsung berceletuk ringan, &#8220;wah ada juga pengamen di Jenewa ya. Kayak di Indonesia aja.&#8221;</p>
<p>Orang tua saya cuma kadang suka capek harus terburu-buru, karena bis dan kereta selalu tepat waktu. &#8220;Paling tidak&#8221;, mama bilang, &#8220;kita tahu pasti kapan harus berangkat dan kapan sampai. Nggak seperti kereta Lampung-Palembang. Nggak jelas kapan bakal sampai. Kalau sudah ada kereta babaranjang, bisa nunggu berjam-jam.&#8221;</p>
<p>Mereka pun akhirnya mengerti keputusan saya untuk tidak membeli mobil (kenyataan yang selalu membuat orang tua sedih, membayangkan miskinnya hidup saya di sini). &#8220;Lha kalau transportasi umumnya begini, nggak perlu punya mobil. Bis dan tram banyak, bersih, dan selalu tepat waktu.&#8221; Begitu komentar mereka.</p>
<p>Xaf sempet iseng: &#8220;Mama, coba dengerin bunyi keretanya&#8230;nggak ribut kayak kereta di Indonesia kan yang gruduk gruduk bising.&#8221; Mama cuma bisa nyengir dan ketawa, &#8220;Sialan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bener ya pit, keretanya nggak bising. Jalannya juga mulus, nggak gradak gruduk. Kita bisa tidur. Nggak kayak di Indonesia, boro-boro mau tidur, kalau lengah bisa-bisa jatuh ngeguling dari kursi,&#8221; komentar mama saya selama perjalanan ke Lucerne. Sedangkan papa saya sudah dengan nyamannya tidur di kursi depan.</p>
<p>Sewaktu mau pulang, mama sempet bilang, &#8220;Mama puas pit. Udah naik kereta berbagai macam bentuknya selama di Swiss. Banyak cerita yang mama bisa ceritain sama temen-temen di Lampung. Tinggal nanti di Jepang, mama mau naik Shinkansen!&#8221; Komentar mama saya yang tiba-tiba jadi pencinta kereta api.</p>
<p><strong>Orang Swiss toleransinya tinggi ya&#8230;.</strong></p>
<p>Saya yang denger sempet bingung. Ternyata mama saya mengomentari sopannya para penduduk Jenewa di tempat umum. &#8220;Iya pit, naik ke bis atau ke kereta nggak dorong-dorongan. Jalan di trotoar pun nggak grasak grusuk. Di mana-mana antri. Terus&#8230;coba, mana ada di Indonesia mobil yang mau berhenti sewaktu kita mau menyebrang. Yang ada, semakin dilihat orang mau nyebrang semakin digas mobilnya. Iseng&#8230;.biar kita terbirit-birit,&#8221; penjelasan singkat mama saya.</p>
<p>Mama saya yang clean and control freak kayaknya nyaman banget dengan teraturnya masyarakat Jenewa.</p>
<p><strong>Aduh kembangnya&#8230;kok bisa begitu bagusnya?</strong><br />
Kedua orang tua yang sangat cinta tanaman dan kembang, terkagum-kagum melihat tata kota Jenewa yang penuh dengan taman yang dihiasi berbagai bunga warna-warni. Trotoar pun dihiasi dengan pot-pot bunga besar yang penuh dengan untaian bunga.</p>
<p>Mama saya sempet kalap melihat bunga-bunga &#8220;nganggur&#8221; di pinggir jalan. &#8220;Kok bisa rimbun dan subur begitu. Kalau di Indonesia dua hari aja pasti sudah gundul, dipotelin sana-sini. Kok nggak ada yang iseng nyabutin bunga? Di rumah, bunga mama di balik pagar aja masih digondol maling,&#8221; renung mama saya. Mama dan papa saya sibuk mengagumi berbagai susunan bunga di pinggir jalan, di balkon berbagai apartemen, dan taman kota setiap saat kami keluar rumah.</p>
<p>Duduk di taman<a href="http://www.flickr.com/photos/pipit6/213191452/"> pinggir danau</a>, mama berceletuk, &#8220;Kalau ibu-ibu ada di sini, kita udah gelar tiker, nyambel sambil bakar ikan asing. Pasti seru.&#8221; Mama sibuk membayangkan nyamannya arisan di lapangan rumput hijau di kelilingi oleh pohon-pohon tua sambil menikmati semilir angin danau dan lenggok puluhan tangkai bunga berwarna-warni. Sambil memandangi danau dan angsa, mama komentar ke papa &#8220;Seandainya aja kita bisa bahasanya, enak pensiun di sini. Sore-sore bisa duduk-duduk di taman kayak begini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Punya anak kecil di sini juga enak. Banyak taman bermain untuk anak kecil. Ngedorong kereta anak sambil menyusuri danau, enaknya&#8230;. &#8221; komentar mama saya sambil mengamati berbagai keluarga yang juga sedang menikmati sore di taman pinggir danau.</p>
<p><strong>Kebanyakan peraturan!</strong><br />
Kedua orang tua saya ngedumel. Nggak bisa masak malam-malam, nggak bisa ngobrol bebas di bis, nggak bisa bersih-bersih malam-malam, nggak boleh ini nggak boleh itu. &#8220;Mama mau masak dan klontang klontang kapan aja kayak di rumah,&#8221; gerutu mama saya sewaktu saya ingatkan untuk tidak terlalu membuat keributan di dapur malam-malam.</p>
<p><strong>Hidup di Jenewa mahal!</strong><br />
Keluh kesah kedua orang tua. Kayaknya setiap kita jalan-jalan keluar kota, orang tua selalu melihat harga tiket kereta api sambil agak sendu. Mungkin sibuk ngitung berapa banyak biaya yang saya keluarkan untuk acara jalan-jalan mereka.</p>
<p>&#8220;Mama nggak rela bayar 15 ribu cuma untuk buang air kecil (di Jenewa, toilet umum kadang diurus oleh perusahaan swasta. Dan untuk bisa menggunakannya kita harus membayar CHF 2 untuk perempuan. CHF 2 itu sekitar Rp 15.000). Memang sih toiletnya bersih dan wangi, tapi tetep aja mama nggak rela. Di Indonesia aja cuma bayar 500 perak!&#8221; dumel mama saya.</p>
<p>Papa juga sama, sewaktu mau membeli oleh-oleh sampai surut semangatnya. &#8220;Haduh&#8230;nggak ada ya oleh-oleh yang di bawah CHF 5 ya? Kalau harus beli pena CHF 15 untuk setiap orang kemahalan,&#8221; keluh papa.<br />
Acara belanja pun jadi acara perbandingan harga. Dari harga tomat, beras, sampai ke sepatu dan tas tangan. Orang tua saya yang mungkin sempat mimpi-mimpi shopping di Jenewa, jadi hilang semangatnya sewaktu melihat daftar harga yang jauh lebih mahal dari di Indonesia. Paling tidak, sekarang mereka sadar kenapa saya selalu berusaha berhemat setiap saat. Tapi sempet sedih juga, karena minimnya keuangan saya menjadikan saya tidak bisa memberikan dana yang cukup untuk orang tua untuk berbelanja sepuas hati.</p>
<p>Nanti ya &#8216;pa, &#8216;ma, pipit selesai kuliah dan dapet kerjaan yang bener, papa sama mama bisa ke Eropa lagi, dengan budget yang berbeda. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Orang di sini beda ya pit?</strong></p>
<p>&#8220;Orang tua di sini mandiri sekali ya pit,&#8221; kata mama saya setiap melihat para manula yang dengan gagahnya naik bis atau belanja sendirian. &#8220;Sudah begitu, nenek-neneknya terurus dan gaya lagi. Kalau di Indonesia, paling cuma pakai daster seharian, boro-boro mau dandan. Di sini, nenek-nenek aja rambutnya tertata rapi. Lihat pit&#8230;.kukunya, dimanikur. Pakaiannya gaya-gaya, modis,&#8221; celoteh mama saya sambil curi-curi pandang ke seorang nenek di bis.</p>
<p>&#8220;Iyalah, mereka pensiun uangnya pasti banyak. Anak sudah pada mandiri dan nggak jadi pikiran mereka lagi. Mereka benar-benar bisa menikmati masa tua dan uang pensiun,&#8221; renung mama saya. Dalam hati saya cuma bisa ngomong, &#8220;Tenang &#8216;ma. Anak mama sudah mandiri dan tidak akan merepotkan mama di hari-hari pensiun mama nanti.&#8221;</p>
<p>Suatu hari sambil menunggu bis, tiba-tiba ada bis yang datang di jalur bis di belakang punggung. Mama saya menengok, dan langsung noel-noel saya. &#8220;Pit, sopir bis di sini ganteng-ganteng ya. Nggak kayak di Indonesia. Dekil, keringetan. Lha tuh&#8230;lihat sopir di sebelah. Cakep, bersih, gaya,&#8221; kata mama saya sambil cengengesan.</p>
<p>Singkat cerita, kedua orang tua akhirnya bisa melihat dengan mata kepala mereka sendiri keadaan hidup saya di Jenewa. Bagus kalau mereka bisa memahami masyarakat di sini dan terbuka matanya akan dangkalnya stereotype orang Indonesia akan orang dan masyarakat Eropa. Sekuler tidak harus selalu diasosiasikan dengan terkutuk, dan masyarakat sekuler tidak berarti masyarakat yang amburadul dan tidak memiliki hati nurani. Paling tidak saya harap mereka bisa mengerti mengapa anaknya jatuh cinta dengan kota dan masyarakat Jenewa, dan memutuskan untuk menetap di sini. Saya juga berharap mereka bisa melihat bahwa saya sudah memiliki kehidupan baru di sini dan bahwa Jenewa adalah rumah kedua saya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bla3x.wordpress.com/198/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bla3x.wordpress.com/198/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bla3x.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bla3x.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bla3x.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bla3x.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bla3x.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bla3x.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bla3x.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bla3x.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bla3x.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bla3x.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=198&subd=bla3x&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bla3x.wordpress.com/2007/09/19/turis-kritis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53c1f08e248032c04c31c3cdb7e5f65c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Pipit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Poto, kamera, dan liburan</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com/2007/07/16/poto-kamera-dan-liburan/</link>
		<comments>http://bla3x.wordpress.com/2007/07/16/poto-kamera-dan-liburan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jul 2007 11:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan - Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bla3x.wordpress.com/2007/07/16/poto-kamera-dan-liburan/</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak suka dan tidak nyaman dengan kamera. Berdiri di depan kamera selalu menghasilkan suatu penyesalan. Aslinya memang sudah tidak pantas jadi model, tapi entah kenapa setiap dipoto wajah yang sudah pas-pasan ini malah semakin tidak karuan. Pose yang tegang seperti menunggu hukuman tembak atau senyum meringis sering menghiasi poto berisikan wajah saya. Berdiri di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=192&subd=bla3x&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya tidak suka dan tidak nyaman dengan kamera. Berdiri di depan kamera selalu menghasilkan suatu penyesalan. Aslinya memang sudah tidak pantas jadi model, tapi entah kenapa setiap dipoto wajah yang sudah pas-pasan ini malah semakin tidak karuan. Pose yang tegang seperti menunggu hukuman tembak atau senyum meringis sering menghiasi poto berisikan wajah saya. Berdiri di belakang kamera lebih parah lagi. Tidak fokus, miring, atau penuh dengan bayang-bayang jari telunjuk, adalah berbagai karakter poto-poto yang saya ambil. Sewaktu masih kuliah, saya pun terkenal sebagai &#8220;dia yang tidak bisa dipercaya untuk memegang kamera.&#8221; Setiap ada acara poto-poto centil dengan teman-teman kuliah, pasti semua langsung teriak panik ketika saya menawarkan diri untuk mengambil poto bersama.</p>
<p>Akhirnya, teknologi kamera digital bisa menjadi ajang pelatihan saya dalam memegang kamera. Tetap saja tidak pantas menjadi model, wong tidak ada kamera digital yang bisa merubah wajah saya menjadi lebih menarik di poto; tapi paling tidak sekarang saya bisa mencoba untuk mengambil gambar tanpa menghasilkan hujatan dari para pemirsa hasil cepretan saya itu.</p>
<p>Musim panas ini merupakan ajang latihan yang harus dimanfaatkan. Akhirnya saya bisa mengundang kedua orang tua saya dan menghadiahkan liburan ke Swiss untuk mereka berdua. Mereka yang sudah penasaran ingin melihat tempat tinggal anaknya, terutama setelah mendengar ocehannya tentang indahnya kota Jenewa dan negara Swiss, akhirnya punya kesempatan untuk melihat dengan mata kepala mereka sendiri.</p>
<p>Cuti dua minggu, berbagai proyek jalan-jalan sudah dirancang untuk memaksimalkan kunjungan orang tua, dan niat bulat sudah tercapai untuk mengasah kemampuan mengabadikan keindahan negara ini. Lagian kuping sudah panas ngedengerin sindiran teman-teman yang mempertanyakan kemanakah bukti keindahan Swiss yang saya ceritakan.</p>
<p>Akhir minggu pertama dihabiskan dengan jalan-jalan ke berbagai pusat turis di Jenewa. Diawali dengan kunjungan ke depan kantor PBB yang sekarang dihiasi dengan air mancur yang melatarbelakangi si kursi berkaki tiga simbol kampanye anti landmines. Fitur air mancur ini adalah fitur baru kota Jenewa. Diperuntukkan untuk berbagai aktivitas demonstrasi yang sering menghiasi gerbang depan PBB, lapangan ini diperindah dengan puluhan air mancur dan bangku-bangku kota dengan gaya minimalis-modern, yang kemudian menjadi tempat anak-anak untuk main air di tengah-tengah teriknya matahari.</p>
<p>Menelusuri Avenue de la Paix menuju ke danau Leman, kami pun sempat mengunjungi Jardin Botanique. Taman favorit saya. Taman kota yang merangkap tempat konservasi, menyuguhkan indahnya alam di tengah-tengah kota. Pohon-pohon tua dengan rantingnya yang hampir menyentuh tanah, berbagai koleksi tanaman dari berbagai lokasi di Swiss dan dunia, ramainya warna dan bentuk bunga yang menghiasi berbagai lokasi di taman, dan koleksi berbagai hewan cantik, menjadikan taman ini tempat ideal bagi mereka yang ingin beristirahat dari penatnya kehidupan kota dan berusaha menenggelamkan diri sejenak ke heningnya alam.</p>
<p>Keluar dari Jardin Botanique, danau Leman sudah menanti untuk menunjukkan pesonanya. Menyusuri danau Leman, mata pun akan disuguhkan oleh pemandangan biru yang menyejukkan, jet d&#8217;eau (air mancur) yang menjulang dan mencolok mata, rimbunnya barisan taman kota yang melingkari danau, barisan kapal layar, dan berbagai bangunan tua nan megah.</p>
<p><a href="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/07/lac-leman4.jpg" title="Lac Leman"><img src="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/07/lac-leman4.jpg?w=200&#038;h=200" alt="Lac Leman" height="200" width="200" /></a><a href="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/07/photo-010.jpg" title="Lac Leman - Danau Leman (2)"><img src="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/07/photo-010.jpg?w=200&#038;h=200" alt="Lac Leman - Danau Leman (2)" height="200" width="200" /></a><a href="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/07/photo-papa-dan-mama5-004.jpg" title="Bain de Paquis - Lac Leman"><img src="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/07/photo-papa-dan-mama5-004.jpg?w=200&#038;h=200" alt="Bain de Paquis - Lac Leman" height="200" width="200" /></a></p>
<p>Kota tua, museum keramik Ariana, museum seni dan sejarah, dan berbagai taman kota lainnya, juga telah menunjukkan persona lain dari kota Jenewa ke kedua orang tua saya. Papa saya bahkan sempat membayangkan nikmatnya bermain catur di tengah rimbunnya taman kota seperti halnya di taman Bastion. <a href="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/07/parc-de-bastion2.jpg" title="Parc de Bastion">Parc de Bastion</a></p>
<p><em>bersambung</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bla3x.wordpress.com/192/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bla3x.wordpress.com/192/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bla3x.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bla3x.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bla3x.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bla3x.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bla3x.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bla3x.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bla3x.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bla3x.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bla3x.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bla3x.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=192&subd=bla3x&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bla3x.wordpress.com/2007/07/16/poto-kamera-dan-liburan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53c1f08e248032c04c31c3cdb7e5f65c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Pipit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/07/lac-leman4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lac Leman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/07/photo-010.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lac Leman - Danau Leman (2)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bla3x.files.wordpress.com/2007/07/photo-papa-dan-mama5-004.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bain de Paquis - Lac Leman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamatkan lingkungan setiap hari</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com/2007/05/06/selamatkan-lingkungan-setiap-hari/</link>
		<comments>http://bla3x.wordpress.com/2007/05/06/selamatkan-lingkungan-setiap-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 May 2007 08:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sehari-hari - daily]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bla3x.wordpress.com/2007/05/06/selamatkan-lingkungan-setiap-hari/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau boleh agak curhat, saya ini cinta sekali dengan lingkungan. Dari nyubitin teman-teman saya yang gemar membuang sampah sembarangan, sampai memilih untuk kuliah bertahun-tahun (sudah tahun keenam, tahun ini&#8230;sigh) untuk bisa mengerti dan kemudian menulis tentang masalah kehutanan di Indonesia. Pikir saya, saya ini cuma mahir dalam belajar, jadi mari menyelamatkan lingkungan dengan cara belajar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=189&subd=bla3x&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kalau boleh agak curhat, saya ini cinta sekali dengan lingkungan. Dari nyubitin teman-teman saya yang gemar membuang sampah sembarangan, sampai memilih untuk kuliah bertahun-tahun (sudah tahun keenam, tahun ini&#8230;sigh) untuk bisa mengerti dan kemudian menulis tentang masalah kehutanan di Indonesia. Pikir saya, saya ini cuma mahir dalam belajar, jadi mari menyelamatkan lingkungan dengan cara belajar selama bertahun-tahun.</p>
<p>Selama hidup di sini, kewaspadaan saya akan lingkungan malah semakin tajam. Hidup di tengah lingkungan yang sangat memperhatikan kualitas alam sekitar membuat saya mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana kita bisa menyelamatkan lingkungan. Tidak harus jadi aktivis lingkungan à la Greenpeace yang berperahu kencang menuju kapal pemburu ikan paus, berdemonstrasi di depan gedung pertemuan WTO setiap tahun, atau berdiri tegar memblokade traktor dan mesin berat lainnya milik perusahaan kayu di tengah-tengah hutan Kalimantan, untuk bisa menyelamatkan lingkungan. Dulu saya berpikir seperti itu, dan sempat frustasi karena tidak punya keberanian untuk menjadi aktivis. Tapi ternyata saya salah, banyak jalan menuju Roma, seperti juga banyak cara untuk melindungi lingkungan.</p>
<p>Jadi bagaimana caranya untuk hidup yang ramah lingkungan? Gampang.</p>
<p><strong>1. Rubah pola belanja</strong></p>
<p><em>Belilah produk dengan kemasan yang lebih ramah lingkungan.</em> Bagi yang pernah sekolah marketing pasti tahu pentingnya kemasan untuk penjualan. Tak jarang kita lihat di pasaran, produk yang memiliki kemasan yang sangat canggih, apik, tapi sayangnya kurang ramah lingkungan Coba lihat produk biskuit, kadang bungkusnya berlapis-lapis. Lapisan luar, karton, kemudian diberi lapisan plastik dicampur alumunium, kemudian masih lagi dibungkus per-individual dengan plastik. Bayangkan berapa jumlah sampah yang dihasilkan hanya dengan mengkonsumsi satu biskuit!</p>
<p>Di sini, Nestle sempat kebakaran jenggot ketika <a href="http://www.swissinfo.org/eng/front/detail/Chocolate_packaging_comes_under_fire.html?siteSect=105&amp;sid=6630993&amp;cKey=1145028194000">kemasan</a> baru coklat merek Cailler dikecam habis-habisan oleh para kelompok pencinta lingkungan. Kemasan yang sangat cantik, setiap keping coklat dibungkus rapi dan tersusun rapi di deretan rak plastik keras di dalam kotak transparan. Tapi berhubung bahan pembuat kemasan tersebut tidak dapat di daur ulang dengan gampang, jadilah para konsumen dihimbau untuk tidak membeli produk tersebut.</p>
<p>Membeli produk dengan jumlah besar juga bisa menghemat sampah kemasan. Dengan membeli satu kemasan tepung satu kilogram, misalnya, akan lebih baik daripada membeli dua kemasan tepung setengah kilogram.</p>
<p><em>Lihat asal usul produk. </em>Proses globalisasi dan kemajuan teknologi transportasi membuat semakin menyatunya pasar dunia. Produk bisa diperjualbelikan tanpa memperdulikan batas negara atau jarak. Anggur dan tomat yang dulunya adalah barang langka selama musim dingin, sekarang bisa dengan gampang ditemukan selama bulan Desember sekalipun. Anggur dari Afrika Selatan, tomat dari Marocco, pisang dari Amerika Latin, bawang putih dari Cina, strawberri dari Israel, yang tersedia di supermarket dekat rumah menjadi bukti nyata proses globalisasi.</p>
<p>Tapi adakah yang sadar efek samping mengkonsumsi produk yang diimpor dari belahan dunia lain itu? Polusi udara yang dihasilkan oleh proses transportasi produk tersebut sangat mengguncangkan. Ingat, pesawat adalah media transportasi yang paling berpolusi! Dengan mengkonsumsi barang-barang impor seperti itu kita pun jadi ikut berperan dalam memperburuk perubahan iklim dan pemanasan dunia. Jadi di Swiss sedang diadakan kampanye untuk mengkonsumsi produk lokal dan produk musiman sesuai dengan musimnya. Saya pun jadi sangat hati-hati dalam membeli bahan makanan, dan harus menahan diri untuk tidak membeli buah anggur kesukaan saya yang berasal dari Afrika Selatan.</p>
<p>Kalau di Indonesia bagaimana dong? Saya tidak tahu seberapa maraknya buah dan sayuran impor dalam piring hidangan masyarakat Indonesia, tapi keperdulian lingkungan seperti ini bisa sangat membantu produksi lokal. Dengan membeli kentang produksi Jakarta ketika tinggal di Jakarta daripada keukeuh mencari kentang padang bisa membantu mengurangi polusi truk pengangkut kentang. Bagi yang nasionalis, keperdulian lingkungan bisa menambah retorika dukungan produksi dalam negeri. Pilih apel Malang yang lebih ramah lingkungan daripada apel Australia yang diimpor dengan polusi beribu kilogram karbon dioksida, contohnya.</p>
<p><em>Pilihlah produk daur ulang ketika tersedia</em>. Kalau memungkinkan, pilihlah kertas, amplop, dan buku hasil daur ulang. Utamakan kompos hasil daur ulang sampah rumah tangga daripada pupuk kimiawi lainnya.</p>
<p><em>Pilihlah peralatan dan produk elektronik yang hemat energi</em>. Contoh gampangnya saja, dengan memilih boklam lampu yang hemat energi. Saya rasa sudah banyak beredar di pasaran Indonesia. Memang harganya jauh lebih mahal, tapi jauh lebih hemat energi dan lebih tahan lama. Energi listrik yang disedot jauh lebih sedikit, rekening listrik jadi lebih murah, dan kalau semakin banyak pengguna listrik memilih produk elektronik yang hemat energi, energi listrik yang dibutuhkan dan digunakan pun jadi lebih berkurang dan mungkin&#8230;mungkin ya, tidak ada lagi jadwal mati lampu akibat minimnya tenaga listrik yang bisa disalurkan oleh PLN ke setiap rumah.</p>
<p>Mesin cuci, komputer, lemari pendingin, dsb, sekarang juga sudah banyak yang memiliki tipe hemat energi. Membeli mesin macam ini bisa menjadi cara investasi yang pintar dan ramah lingkungan. Saya sudah membuktikannya sendiri, dengan memilih berbagai alat rumah tangga yang hemat energi, rekening listrik di rumah jauh lebih murah daripada rumah mertua saya yang masih menggunakan alat elektronik jaman dahulu.</p>
<p><em>Belanja di dekat rumah</em>. Dengan memilih untuk berbelanja di tempat yang lebih dekat, kita tidak perlu menggunakan mobil dan artinya mencegah polusi kendaraan.</p>
<p><strong>2. Rubah pola konsumsi</strong></p>
<p><em>Konsumsi produk bio dan kurangi mengkonsumsi daging merah.  </em>Produk bio maksudnya produk yang dihasilkan dengan tidak menggunakan bahan pestisida dan bahan kimiawi lainnya. Di sini, produk seperti ini lebih mahal karena biaya produksinya yang lebih tinggi <em>(constant cost with constant yield of production)</em>, dibandingkan dengan hasil pertanian yang menggunakan pestisida dan pupuk kimiawi lainnya <em>(constant cost with increasing yield of production). </em>Mungkin banyak yang tidak tahu, tapi selain dianggap sebagai salah satu penyebab penyakit kanker, pestisida juga adalah salah satu penyebab <a href="http://www.fao.org/docrep/W2598E/w2598e07.htm">polusi</a> air tanah.</p>
<p>Terus apa hubungannya dengan sapi? Ternyata peternakan sapi dan berbagai hewan ternak lainnya, menurut <a href="http://www.fao.org/ag/magazine/0612sp1.htm">laporan</a> Food and Agricultural Organisation (FAO), adalah salah satu penyebab utama berbagai masalah lingkungan seperti: pemanasan global, degradasi tanah, polusi air dan tanah, dan hilangnya keanekaragaman biomass. FAO menerangkan kalau polusi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh hewan ternak berjumlah 18% dari total polusi gas rumah kaca.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir, peringatan ini lebih pantas untuk masyarakat Eropa dan Amerika Utara yang memiliki budaya karnivora. Menu makanan Indonesia yang tidak terlalu didominasi dengan daging merah (sapi, kuda, kambing, dsb) saya rasa sudah cukup ramah lingkungan dalam hal ini. Tapi, tidak ada salahnya toh untuk lebih tahu. Jadi, lebih baik pilih gado-gado daripada steak 250 gr di Steak House. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>3. Hemat di rumah</strong></p>
<p>Banyak cara untuk menghemat listrik: Mematikan lampu ketika keluar ruangan, mematikan TV atau radio ketika tidak ada yang menonton atau menyimak, dan mematikan komputer atau TV secara total dan tidak membiarkannya &#8220;stand-by&#8221; semalaman. Mematikan TV lewat alat pengontrol jarak jauh biasanya tidak akan mematikan TV secara total. Beberapa peralatan elektronik juga tetap menyedot listrik selama kabel sumber energinya tidak dicabut dari colokan di dinding. Kalau di sini, kami disarankan untuk memakai sambungan colokan listrik yang bisa dipadamkan secara total. Kalau di Indonesia belum ada, saran saya, bila memungkinkan, cabutlah kabel dari colokan di dinding.</p>
<p>Kita bisa juga berhemat dengan lebih bijaksana dalam menggunakan energi alami. Begini, bangunan apartemen di sini biasanya dirancang sedemikian rupa untuk bisa memanfaatkan energi alami. Jendela selalu dibuat besar dan lebar, yang kemudian memungkinkan pemilik apartemen untuk memanfaatkan sinar matahari untuk menerangi ruangan. Sewaktu musim panas, dimana matahari bersinar terang dari jam 6 pagi sampai 9 malam, saya kadang tidak perlu menghidupkan lampu ruangan sama sekali seharian. Kalau panas pun cukup membuka jendela dan memanfaatkan semilir angin.</p>
<p>Jadi bagi yang ingin membangun rumah masa depan atau akan merenovasi, kenapa tidak mencoba untuk merancang rumah yang hemat energi?</p>
<p>Air juga perlu dihemat. Dari yang tidak membiarkan keran air selalu mengucurkan air bila tidak perlu, sampai memanfaatkan air hujan untuk menyiram tanaman di pekarangan.</p>
<p><strong>4. Hemat di kantor</strong></p>
<p><em>Gunakan printer hanya kalau benar-benar perlu</em>. Jangan mentang-mentang ada printer gratis main cetak berbagai artikel atau email yang tidak perlu.</p>
<p><em>Hemat kertas</em>. Cetak dengan menggunakan kedua sisi kertas, dan gunakan kertas kembali bila memungkinkan. Sisi kosong kertas bisa digunakan untuk mencetak draft surat atau untuk menulis. Saya ingat, dulu sewaktu saya magang di salah satu kantor PBB, ada kebijakan untuk menggunakan kertas kembali untuk mencetak berbagai draft atau memo internal. Di samping printer kantor, ada tempat penampungan kertas hasil print-out dan poto kopi gagal atau dokumen yang sudah tidak berguna. Setiap kita mau mencetak email atau apapun yang tidak ditujukan untuk publik luar, selalu disarankan untuk menggunakan kertas &#8220;daur ulang&#8221; ini. Lumayan, bisa menghemat kertas dan menumbuhkan sadar lingkungan di diri para pegawai kantor. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>Gunakan tinta printer secara efisien</em>. Kadang ketika hasil print-out sudah samar-samar, tinta printer masih bisa digunakan dengan cara mengocok-ngocok cartuche. Jangan lupa untuk mendaur ulang cartuche kosong. Beberapa perusahaan memiliki kebijakan daur ulang (HP contohnya), kotak tinta kosong tinggal dimasukkan kembali ke kotaknya dan dikirim kembali ke pabrik.</p>
<p><em>Gunakan lampu hanya kalau benar-benar perlu</em>. Terkadang kita punya kebiasaan otomatis, masuk kantor langsung menghidupkan lampu ruangan. Padahal terkadang kita tetap bisa bekerja dengan baik menggunakan penerangan alami.</p>
<p><em>Cintailah tangga</em>. Bagi mereka yang berkantor di gedung bertingkat, kalau memungkinkan lebih baik gunakan tangga daripada lift. Lima tingkat masih bisa kan dicapai dengan naik tangga, beda kasusnya kalau harus merayap sampai lantai 10.</p>
<p><strong>5. Hemat di perjalanan</strong></p>
<p>Sarannya cukup klasik: Hemat penggunaan mobil pribadi, utamakan penggunakan transportasi publik. Hindari pemakaian mobil 4&#215;4 yang boros energi, dan gunakan alat transportasi alternatif seperti sepeda, sepatu roda (iya, di sini ada orang yang ke kantor dengan sepatu roda), atau jalan kaki. Hindari penggunaan alat pendingin di dalam mobil (iya saya tahu, kebijakan yang cukup mustahil bagi mereka yang tinggal di Jakarta), dan kalau memungkinkan berbagi mobil dengan teman atau tetangga. Berbagi mobil, maksudnya dengan menggunakan mobil bersama-sama, dari rumah ke kantor misalnya, ongkos bensin dan servis bisa ditanggung ramai-ramai dan polusi kendaraan pun jadi berkurang.</p>
<p>Intinya, tidak mustahil untuk merubah pola hidup menjadi lebih ramah lingkungan. Kita bisa tetap hidup dengan nyaman sambil menyelamatkan lingkungan bagi anak-cucu. Sebagai konsumer kita bisa menekan pihak produser dengan merubah pola belanja dan konsumsi. Tidak perlu jadi CEO sebuah perusahaan untuk bisa menuntut perubahan pola produksi menjadi lebih ramah lingkungan, dan tidak perlu jadi Menteri Lingkungan untuk bisa berbuat sesuatu bagi polusi udara di kota besar. Setiap tindakan berarti. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bla3x.wordpress.com/189/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bla3x.wordpress.com/189/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bla3x.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bla3x.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bla3x.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bla3x.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bla3x.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bla3x.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bla3x.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bla3x.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bla3x.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bla3x.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=189&subd=bla3x&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bla3x.wordpress.com/2007/05/06/selamatkan-lingkungan-setiap-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53c1f08e248032c04c31c3cdb7e5f65c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Pipit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tindakan daripada kata</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com/2007/04/04/tindakan-daripada-kata/</link>
		<comments>http://bla3x.wordpress.com/2007/04/04/tindakan-daripada-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2007 15:09:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar - Passing thoughts and opinions]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bla3x.wordpress.com/2007/04/04/tindakan-daripada-kata/</guid>
		<description><![CDATA[Di pesawat, dalam perjalanan menuju sebuah konferensi, mata saya tertumbuk ke sebuah artikel di lembar utama International Herald Tribune, tentang program penampungan bayi yang tidak dikehendaki. Suatu artikel yang memberikan bukti kehangatan sebuah kepercayaan, memberikan angin segar di tengah pengapnya nafsu membunuh dan membenci dengan dasar sebuah interpretasi keagamaan.
Seandainya kita bisa lebih konsentrasi ke sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=188&subd=bla3x&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di pesawat, dalam perjalanan menuju sebuah konferensi, mata saya tertumbuk ke sebuah artikel di lembar utama <a href="http://www.iht.com/articles/2007/02/26/news/babies.php">International Herald Tribune</a>, tentang program penampungan bayi yang tidak dikehendaki. Suatu artikel yang memberikan bukti kehangatan sebuah kepercayaan, memberikan angin segar di tengah pengapnya nafsu membunuh dan membenci dengan dasar sebuah interpretasi keagamaan.</p>
<p>Seandainya kita bisa lebih konsentrasi ke sebuah kemanusiaan atas nama Tuhan daripada &#8220;pemurnian&#8221; dunia dari yang &#8220;lain&#8221;&#8230;.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bla3x.wordpress.com/188/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bla3x.wordpress.com/188/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bla3x.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bla3x.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bla3x.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bla3x.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bla3x.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bla3x.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bla3x.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bla3x.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bla3x.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bla3x.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=188&subd=bla3x&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bla3x.wordpress.com/2007/04/04/tindakan-daripada-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53c1f08e248032c04c31c3cdb7e5f65c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Pipit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Generasi Instan</title>
		<link>http://bla3x.wordpress.com/2007/01/14/generasi-instan/</link>
		<comments>http://bla3x.wordpress.com/2007/01/14/generasi-instan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jan 2007 15:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar - Passing thoughts and opinions]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bla3x.wordpress.com/2007/01/14/generasi-instan/</guid>
		<description><![CDATA[Semua yang instan memang praktis, tapi tidak selamanya disarankan.
Mama saya termasuk manusia yang paling skeptis akan segala hal yang berbau instan. Mi instan dicoret dari daftar menu rumah selama saya dalam masa pertumbuhan, karena menurut mama, terlepas dari butanya dia akan ilmu kimia dan gizi, sesuatu yang instan pasti mengandung zat kimia yang kemungkinan berbahaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=184&subd=bla3x&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Semua yang instan memang praktis, tapi tidak selamanya disarankan.</p>
<p>Mama saya termasuk manusia yang paling skeptis akan segala hal yang berbau instan. Mi instan dicoret dari daftar menu rumah selama saya dalam masa pertumbuhan, karena menurut mama, terlepas dari butanya dia akan ilmu kimia dan gizi, sesuatu yang instan pasti mengandung zat kimia yang kemungkinan berbahaya bagi pertumbuhan otak anaknya. Bumbu instan dipandang setengah mata oleh mama yang keahlian masaknya telah tersinggung oleh teknologi. Praktek pengajaran apapun yang serba ekspres selalu membuatnya curiga dan ragu. Filosofi sederhana beliau: sesuatu yang didapat dengan mudah dan cepat akan hilang dengan cepat pula. Jadi dia lebih percaya akan versi belajar tradisional, belajar dengan tekun tanpa mengenal waktu dan tidak perlu tergiur akan jalan pintas yang hanya memberikan kegunaan sementara.</p>
<p>Saya pun terbiasa untuk sabar dalam belajar apa pun. Otak lambat dan ketidaksabaran sungguh bukan kombinasi yang paling baik untuk seorang pelajar, tapi tatapan garang seorang ibu membuat saya hanya bisa menghela nafas dan kembali ke berbagai baris kalimat di buku pelajaran.</p>
<p>Anehnya, sampai di sekolah semua teman-teman saya malah saling membanggakan jalan pintas yang didapat di les. Rumus cepat Fisika, Matematika, Kimia, sebut saja&#8230;semua ada. Sistem pendidikan yang mendewakan nilai di atas pemahaman, telah membentuk generasi instan, generasi yang mementingkan kesingkatan. Pintar kalau bisa dengan cepat, terlepas dari apakah bisanya karena membeo rumus singkat guru les tambahan atau karena benar-benar mengerti apa yang sedang dituturkan.</p>
<p>Masih terlalu jelas di ingatan, ketika hobi saya membungkuk lama, menguraikan berbagai persamaan matematika sampai lembaran halaman dicemooh oleh teman-teman yang mampu menyelesaikan teka-teki tersebut dalam 3 baris. Kepuasan saya melihat barisan uraian x,y,z dipandang lambat, padahal hanya dengan uraian panjang itu saya mengerti proses membedah si persamaan matematika.</p>
<p>Kemudian, ketika proses singkat dalam pemahaman tidak bisa diperoleh, jalan pintas tidak terhormat diambil. Lirik kanan-kiri, menyalahkan si ilmu atau sang guru. Ilmu yang terlalu susah, tidak perlu, atau usang; guru yang tidak becus mengajar, pilih kasih, dsb. Kembali, saya bersyukur memiliki kedua orang tua yang belum tercemar oleh budaya instan yang selalu berusaha melindungi anaknya dari nikmat singkat sebuah keinstanan.</p>
<p>Keluhan saya pasti akan dibalas dengan kalimat keras: Tidak ada ilmu yang tidak bisa dipahami kalau kamu mau meluangkan waktu untuk berusaha. Sebelum menyalahkan seorang guru, setiap murid harus tahu diri dan bertanya siapa yang tidak becus, yang mengajar atau yang belajar?</p>
<p>Jadi pahamilah, bagi saya yang tidak terbiasa akan budaya instan, saya tidak akan bisa menjawab pertanyaan bagaimana bisa menguasai dan lancar berbahasa Inggris dengan cepat.</p>
<p>Tulisan singkat saya tentang belajar bahasa Inggris bukan obat ajaib untuk bisa langsung bilingual dalam waktu sebulan, dua bulan, atau tiga bulan. Jangan tersinggung atau enggan ketika saya tidak bisa memberikan &#8220;rumus singkat&#8221;. Saya sendiri tidak pernah mengambil jalan pintas. Saya bisa berbahasa Inggris seperti sekarang karena saya belajar semenjak umur 8 tahun. Semenjak, karena sampai sekarang saya masih belajar setiap hari. Iya, SETIAP HARI. Selama 20 tahun.</p>
<p>Saya terus terang agak sedih setiap menerima pertanyaan &#8220;bagaimana caranya belajar bahasa Inggris dengan cepat&#8221;, sedih karena saya memang tidak bisa menjawab dan lebih sedih lagi karena budaya instan sudah terlalu mengakar. Saya juga kecewa ketika membaca sebuah email di milis yang menerangkan bagaimana akhirnya sang penulis sadar akan pentingnya kesabaran dan pemahaman bahasa Inggris untuk lulus les TOEFL. Kecewa karena pemahaman tersebut datang belakangan, bukan sebagai sebuah awal.</p>
<p>Jadi ingin bisa lancar berbahasa Inggris? Belajar grammar dasar, mengenal kosa kata dari nol, membaca bahasa Inggris dan memperbanyak kosa kata, menulis dan mengedit tulisan sendiri, berkomunikasi dalam bahasa Inggris setiap hari, tidak pernah merasa puas dan berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa, selama bertahun-tahun. Hanya ini resepnya.</p>
<p>Kalau ada yang mengeluh, saya sudah mulai terlambat jadi perlu rumus cepet untuk mengejar ketinggalan, saran saya cuma satu, kejar ketinggalan dengan berusaha lebih giat. Ketinggalan tidak akan terobati hanya dengan mengeluh dan pasrah. Kemampuan berbahasa Indonesia kita saja dipelajari semenjak kita dalam kandungan, jadi jangan kecut duluan membayangkan tahunan yang harus dilewati untuk menguasai bahasa Inggris atau bahasa lainnya.</p>
<p>Mari belajar bersama-sama, tanpa jalan singkat. Saya akan coba menulis lebih banyak tentang kursus bahasa Inggris. Apalagi saya sudah menemukan buku grammar yang sangat bagus, saya jadi bisa belajar lagi dan mengingatkan otak yang sudah sering alpa. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bla3x.wordpress.com/184/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bla3x.wordpress.com/184/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bla3x.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bla3x.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bla3x.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bla3x.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bla3x.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bla3x.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bla3x.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bla3x.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bla3x.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bla3x.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bla3x.wordpress.com&blog=218924&post=184&subd=bla3x&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bla3x.wordpress.com/2007/01/14/generasi-instan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53c1f08e248032c04c31c3cdb7e5f65c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Pipit</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>