Musim semi

Posted on March 31, 2005. Filed under: Sehari-hari - daily |

Akhirnya musim semi tiba, setelah 3 bulan lebih berdingin2 ria dan menikmati salju dari balik jendela. Temperatur sudah mulai hangat, dan nggak ada lagi yang namanya suhu di bawah nol derajat. Dan semua peralatan musim dingin sudah mulai masuk kotak, menunggu musim dingin berikutnya.

Kalo ditanya musim apa yang paling saya sukai, terus terang saya nggak tahu. Setiap musim punya sisi yang saya suka atau benci. Musim dingin dengan suhu yang dinginnya amit2 tetap menjanjikan keindahan salju yang putih bersih. Selimut salju tidak hanya ‘membersihkan’ kota namun juga bisa menyejukkan hati. Ditambah, debu tidak bertebangan dimana2, jadi nggak perlu nyapu tiap hari. Musim semi menghadirkan kehangatan setelah siksaan musim dingin. Langit pun mulai cerah dan dihiasi oleh matahari. The first sunny day always create smiles on people’s faces. . Tapi setiap hari musti siap2 bawa payung, hujan hampir tiap hari dan angin dingin tetap berhembus. Dari balik jendela hari terlihat terang dan hangat, keluar dari rumah, tubuh disambut oleh angin dingin yang bikin merinding. Musim panas, musim yang paling digemari oleh kebanyakan orang. Matahari bersinar terik, hari pun menjadi lebih panjang karena matahari bersinar dari jam 6 pagi sampai 9 malam. Taman2 dipenuhi oleh orang2 yang berjemur, what I call as human barbeque, menikmati panasnya matahari yang sangat langka di benua ini. Taman juga dibanjiri oleh mereka mengisi waktu dengan keluarga atau teman, piknik, main bola, baca buku sambil berbaring di rumput yang hijau, kejar2an dengan anjing kesayangan, atau jalan2 menyusuri taman. Dan untuk para pria, musim panas memamerkan pemandangan indahnya tubuh perempuan yang ditutupi oleh bikini top, mini skirt, or see through pants and tops. Musim gugur, walau dipenuhi dengan angin dingin dan hujan, bisa dipandang sebagai musim yang romantis. Daun2 berubah menjadi coklat keemasan, berguguran diterpa angin, menghiasi taman dan pinggir2 jalan, dan menari2 bersama angin. Duduk di bangku taman, di bawah pohon, menikmati sinar matahari yang hangat dari sela2 daun2 yang keemasan, bisa membuat siapa pun menjadi penyair dadakan.

Tapi kalo dipaksa ngasih jawaban, mungkin jawaban saya adalah musim semi. Kenapa musim semi?

Menurut saya musim semi bisa dipandang sebagai awal dari ‘life circle’. Waktu musim dingin tumbuhan dan hewan istirahat dan berhibernasi. Tapi ketika musim semi tiba, mereka bangun dari tidur musim semi, persis seperti kartun2 walt disney, dan warna2 mulai bermunculan. Pohon2 yang gundul mulai menumbuhkan tunas daun, dan di sekeliling mereka, bunga2 liar (yang ditaman oleh tukang kebun kota) mulai bermunculan. Kelopak bunga berbagai ukuran dengan berbagai warna mengiasi hampir setiap sudut kota.

Pernah merhatiin pucuk daun di batang2 pohon? Indah..dan mengharukan. Saya baru mulai menyaksikan dan memerhatikan phenomena ini di sini. Waktu di Indonesia, karena tidak ada musim gugur dan musim dingin, pohon tidak pernah kehilangan daun dan jadi gundul seperti di sini. Jadi pucuk daun pun tumbuh tanpa kelihatan.

Lain dengan di sini. Sekarang dimana2 saya melihat daun2 kecil bermunculan di dahan2 pepohonan di sepanjang jalan dan taman. Saya bisa menyadari ‘bangunnya’ pohon, melihat bagaimana pohon di depan dan di belakang appartemen saya sedikit demi sedikit dipenuhi dengan daun. Sungguh pemandangan yang menyesakkan dada. Saya jadi sadar apa itu yang namanya lingkaran kehidupan, saya dapat pelajaran dari alam. Pohon bikin saya sadar bahwa hidup itu seperti roda. Pernyataan klasik memang, tapi dari dulu saya biasanya cuman angguk2 aja, tanpa benar2 memasukkan ke hati. Tapi melihat pohon yang daunnya berguguran, kemudian berselimutkan salju dan menghadapi musim dingin, kemudian menumbuhkan kembali pucuk2 daun, dan akhirnya akan gugur kembali, saya jadi sadar bukan apa itu yang dinamakan hidup seperti roda, tapi bagaimana menghadapi hidup yang seperti roda. Pohon dan musim semi memberikan saya pelajaran yang berharga, jauh lebih berharga dari Ilmu Pengetahuan Alam atau Biologi yang dicekokin oleh guru2 jaman sekolah dulu. Pohon memberikan contoh untuk selalu tegar dan bangkit kembali setelah masa2 sulit, untuk selalu siap melepaskan apa yang hidup telah berikan, namun tetap siap untuk meraih kembali semua yang telah saya lepaskan.

Spring is about hope.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Musim semi”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Menyentuh pit, terutama paragraf terakhir tentang pohon, benar-benar menginspirasi🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: