Komentar, bagian kedua

Posted on April 4, 2005. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions, Pribadi - Personal |

Menyambung posting sebelomnya, sekarang giliran berceloteh tentang komentar dari orang2 asing yang gue temui di sini.

Kebanyakan orang2 yang gue temui di sini ya temen2nya Xaf. Semuanya baik..sangat baik malah. Nggak pernah ngasih komentar miring ato menyangkut masalah fisik..semuanya seneng ngeliat hubungan kami berdua. Sebagian komentarnya…

Isn’t Xaf so lucky to find such a beautiful and nice girl like you? No wonder he is so deeply in love…

(Gue mau pingsan pas denger komentar kayak gini, seumur2 baru di sini gue dibilang cantik. Di Indonesia gue selalu dibilang urakan dan kampungan, berhubung gue kagak suka dandan ato modis2an)

(setelah diceritain kalo kita ketemu lewat internet) wow..what a romantic story, just like in movie or novels…I wish I had that kind of story.

(Ini komentar kebanyakan cewek. Gue cuman bisa sumringah)

(waktu mo married)…gosh, I’m so happy for you. Both of you make such a nice couple. My best wishes for both of you..(setelah married)..so how’s married life? I hope you won’t have too many problems due to cultural differences. If you need someone to talk to, you can always call me, ok.

(Perhatian, kagak ada yang namanya komentar ‘kawin karena kecelakaan’. Paling banter mereka komentar tentang gaun penganten gue yang warnanya item! Abisnya..gue baru beli gaun sehari sebelom married..pas dapetnya item ya diembat aja..ato komentar tentang cincin kawin yang belom selesai..ato komentar ngeliat gue yang pake gaun penganten plus sepatu kets abis acara. Gue mana betah pake hak tinggi lama2)

Tapi jangan salah, komentar yang nyepet juga banyak kok. Nyokapnya Xaf bilang terus terang kalo temen2nya sempet curiga kalo gue ini tipe cewek dari negara terbelakang yang berusaha memanfaatin Xaf untuk bisa dateng ke Swiss. Dia juga sempet kuatir.

(Udah bisa diduga. Makanya gue nggak mau pas Xaf ngajakin married abis lulus kuliah. Gue nggak mau dateng ke Swiss hanya karena dia dan bergantung ama cowok. Gue mau bisa dateng dengan usaha gue sendiri, dan hidup di sini dengan jerih payah gue sendiri. Dan ternyata keyakinan dan kekeraskepalaan gue berbuah. Nggak ada lagi omongan miring tentang gue yang ndompleng Xaf untuk bisa tinggal di sini)

Yang lebih seru, kadang gue musti nerima pandangan sinis dari orang2 di sini, terutama nenek2 (di sini yang namanya orang tua, kadang kejam abis. Nggak kayak di Indonesia). Kalo gue dan Xaf jarang bareng, gandengan tangan, nggak jarang orang ngeliat kita dengan pandangan sinis. Gue sangka awalnya rasis, tapi ternyata bukan. Ternyata mereka nyangka gue ini pelacur!

Duh..emang nasib..Karena sex tourism di Thailand, jadi orang awam mandang semua cewek dari Thailand itu pasti pelacur. Dan berhubung muka gue ini mirip sama orang Thailand (lha..namanya juga sama2 dari benua asia tenggara), gue dianggep salah satu cewek pemuas nafsu. Ditambah di sini banyak memang penjual jasa yang dari asia tenggara berseliweran di ‘red district’.

Gue udah pernah ‘ditegor’ sama cowok iseng…kakek2 malah! Edan..awalnya gue nggak ngeh, gue kan mikir kakek2 ya musti dihormati dong. Tapi pas gue ceritain ke temen gue dia malah ngakak. Jadi sekarang kalo ada kakek2 yang mulai jalan ke arah gue, sebelom terjadi apa2, gue langsung ngacir..

Pernah juga, pas lagi nunggu bis, gue tiba2 didatengin ama cowok (cakep, rapi lagi). Dia nawarin gue kerjaan buat jadi bintang film. Berhubung gue udah kerja dan sambil kuliah, gue tolak dengan sopan dong (walaupun sempet bangga juga, baru kali ini ada yang nawarin gue maen film). Pas gue cerita ke nyokapnya Xaf, dia langsung melotot. Dia langsung wanti2 untuk nggak ngomong sama cowok2 yang kagak dikenal. Dia bilang, itu biasanya tawaran maen di film porno!! *gubrak*

(Heran…kok bisa2nya nawarin gue maen film porno. Kagak liat apa bodi gue yang tipisnya ngalah2in triplek?)

Kesimpulan dari komentar2 yang gue terima, ternyata gue lebih menerima banyak dukungan positif dari temen2 gue di sini. Memang bener gue masih nerima komentar miring, tapi itu dari orang2 yang gue sama sekali nggak kenal, yang ketemu papasan di jalan, atau duduk berdampingan di bis. Dan komentar2 yang bikin kuping panas itu lebih disebabkan generalisasi (it’s not about me or our relationship, it’s about people’s ignorance and generalization).

Di sini gue malah lebih tenang. Kuping gue jarang banget panas, yang hangat adalah hati gue. Setiap orang di sini selalu berusaha ngebantu dan mendukung gue, karena mereka sadar nggak gampang bagi gue untuk hidup di negara yang beda sama sekali dari Indonesia dan untuk menikah dengan orang yang berasal dari kultur yang berbeda.

I think I may have found my second home.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

2 Responses to “Komentar, bagian kedua”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Pit, sori ya baru bisa kasih komentar. Terus terang gua nggak tahu mau ngomong apa waktu baca ini kemarin, makanya gua langsung telp ke swiss.. sampai akhirnya okelah, just try typing and see where it goes. Sori kalau nggak berurutan dan nggak pakai pendahuluan, isi, summary, ini semua tulisan spontan aja dan mungkin bakal agak panjang.

Sebenarnya simpel aja pit gimana menghadapi judgement umum masyarakat, cobalah berdamai dengan diri kita sendiri, nah loh bingung deh elo ya..

Intinya kan sebagai manusia kita ingin diakui, kita ingin orang berpikir spt apa kita yang sebanarnya bukan spt apa yang orang pikir, itu wajar pit.

Gini, ini cerita gak ada hub nya sama masalah bule2an, ini cerita ttg diri gua sendiri, yang pernah menghadapi opini orang2 sekitar. Inget gak waktu gua kuliah bertahun2 di itb, elo tahu gimana gua menghadapi orang2 bahkan sodara2 gua sendiri yang menghakimi gua nggak mampu otaknya, MA (mahasiswa abadi), terancam DO, nggak serius, dll. Nah bayangin kalau gua meradang dan mencoba menjelaskan ke pikiran picik mereka kalau inti dari masalah gua adalah salah jurusan, kalo misalnya gua kuliah jurusan Bahasa Indonesia di universitas antah-berantah selama enam tahun boleh deh komentar, nah ini matematika itb gitu loh, gila, anak elo aja matematika SD nya merah (beneran) mau ngomentarin gua?

Tapi, waktu itu gua mencoba berdamai dgn diri gua sendiri, instead of offending them back, gua mengatakn ke diri gua sendiri, “well.. masuk jurusan ini kan pilihan gua sendiri, udah tahu jur nya sulit beresiko masih diambil”, trus “yahh.. emang dasarnya gua nggak suka dg math science, syukur2 gua masih mau usaha dari semster ke semester”. Intinya gua gak terlalu perduli pit dgn omongan orang, capek sendiri lahh.. gak worth dg hasil nya pula (kalau pun memang ada), elo tahu kan mereka selalu bisa mencari celah no matter how good we are, bisa karena menghina bisa karena iri, banyak motifnya, intinya dasarnya mereka emang usil.

Oya mungkin kita mengkhawatirkan ortu kita, karena otomatis mereka kena impactnya, memang jadi beban tambahan, gua akui. Ya udah itu sih gimana kita sama ortu aja pit, at least kita gak jadi anak berandalan mabok2an foya2 putus sekolah kan, hehehe.. wow apalagi elo, kuliah sampai S3 di swiss dg beasiswa pemerintah swiss, hmm.. nggak banyak loh pit, jadi berilah juga credit buat diri elo ya, itu penting.

Balik ke kasus elo, cobalah jangan terlalu keras sama diri elo sendiri pit, makin lama makin makan hati nantinya. Ada hal-hal yang kadang kita telan saja (lalu kita buang di wc) kan, bukan berarti kita pasrah, tapi kita hanya simply ingin lebih menikmati hidup, menghirup udara dgn bebasnya. Kita ingin BAHAGIA!

Dari semua yang udah elo raih (dan elo selalu bilang elo blm jadi siapa2, oh come on.. give little credit to ur self okay, enjoy the life), kadang gua bingung kenapa elo masih begitu makan hati mencoba agar orang tidak berpikiran tentang hal yang menurut elo mungkin ada di pikiran mereka dan itu menurunkan kredibilitas elo. Well, itu wajar, tapi kalau mau setiap sudut dari kita dijelaskan ke orang.. capek pit.. capek.. pantaslah elo begitu lelah.. begitu frustasi menghadapi org2 (apalagi org Indo) dg pemikiran mereka sendiri.. welcome to the real world my friend..

Dan gua salut dg pemikiran begini elo masih sanggup senyum (pahit) ke ibu2, bravo🙂

Memang sesuatu yang sudah dianggap biasa oleh masyarakat bukan berarti baik, elo bisa memprediksi pola pemikiran dari kultur kita kan. As ur best friend I am telling you, kalau kita terbawa arus mereka, kita bakal makan hati pit, serius. Dan gua lihat elo udah ikut arus ini bertahun-tahun, sudah cukup kronis.

Semuanya karena kita ingin diakui, atau at least orang gak berpikiran hal2 yang jelek thd kita, itu sudah fitrah manusia memang. Kalau untuk kasus gua wkt di itb, gua mau diakui bahwa sebenarnya gua bukan orang bodoh.

Jadi begini, kalau mendengar omongan2 miring, ya sudah kita sadari aja kalau level berpikir mereka memang amat berbeda, cara memandang mereka juga berbeda, tingkat pendidikan (akademis dan sosial) mereka juga amat berbeda, ibarat melihat taman yang bagus dari jendela yang kotor, ya tetep aja mau tamannya kita bagusin dg menanam bunga warna-warni dan pohon2 ya gak ngaruh banyak, pada dasarnya memang jendelanya udah kotor sih ya.

Elo tahu sendiri kan, waktu cepat menikah orang mikir elo hamil, udah dua tahun menikah blm hamil orang nyuruh cepet2 hamil takut pamali. Jadi percaya lah, mereka sangat kreatif dalam melihat celah pit, usil sekali, dan ya sekali lagi itu karena pola berpikir praktis mereka yang sudah mengakar dari sononya.

Cobalah pit, cobalah berdamai dengan diri elo sendiri dulu, nggak usah terlalu mengkhawatirkan orang2 itu, kalau tokh itu hanya bikin makan hati. Gua senang membaca tulisan elo, gua yakin banyak yang sudah datang kesini tapi entah kenapa gak berani komentar ha ha ha… atau mereka bingung ya, syukur2 kalau bisa membuka mata mereka.

Gua benar2 berharap elo bisa lebih enjoy dengan diri elo sendiri pit, tokh elo bilang sendiri kan kalau society swiss (yg notebene memang lebih maju) bisa menilai siapa elo sebenarnya. Cukuplah dgn itu pit, one thing for sure dg bergulirnya waktu akan terlihat kok, semua akan terbuka dg sendirinya, malah gua yakin banyak sudah ada orang2 dr lingkungan kita yang benar2 bisa melihat elo yang sebenarnya, salah satunya gua. Bukan kuantitas tapi kualitasnya itulah yang terpenting pit.

Buat yang membaca, mohon jangan pandang bahwa isi tulisan teman saya ini adalah kata-kata kasar, mohon mengerti bahwa dia sudah cukup bersabar selama bertahun-tahun dibawah pandangan dan pemikiran orang2 yang menghakiminya. Jadi maklumi rasa marahnya, dia berhak untuk marah.

Sori ya pit kalau ada kata-kata yang terlalu kasar mungkin, gak maksud, kali gua terbawa suasana hehe.. cuma gua mau elo tahu bahwa gua dukung elo pit dan moga-moga dgn nulis di blog (nanti kan bakal di list oleh search engine), bisa sedikit memberikan kontribusi buat masyarakat kita.

Thanks for a long comment Wir. Don’t worry, I am at peace with myself. That is why I can write this experience of mine, instead of burning my head inside. Somehow it is a relief to be able to cry out what I have inside me for all these years.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: