Beasiswa

Posted on April 14, 2005. Filed under: Kehidupan pelajar - Student life |

Sebab utama saya sampai terdampar di Jenewa adalah karena saya menerima beasiswa dari Konfederasi Swiss (pemerintah Swiss). Saya rasa mungkin banyak teman2 sekalian yang ingin tahu bagaimana bisa dapet beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Jadi saya mau cerita sedikit tentang proses melamar beasiswa.

Saya terus terang beruntung sekali, abisnya baru melamar sekali langsung dapet, padahal baru lulus dari S1 dan belum punya pengalaman kerja atau mengajar sama sekali. Jadi buat yang baru lulus kuliah, jangan berkecil hati, tidak perlu jadi dosen kok untuk mendapatkan beasiswa. (Walaupun ada teman penerima beasiswa yang lain, dosen salah satu universitas ternama di Indonesia, sempat terheran2 pas tahu kalau saya baru lulus)

Kok bisa?

Setelah dipikir2 mungkin ada 3 jawaban:

Pertama, nilai IPK saya termasuk bagus. Dan memang waktu saya berdiskusi sama petugas pengurus beasiswa, beliau menjelaskan bahwa mahasiswa yang mempunyai peluang untuk diterima adalah mereka yang memiliki IPK di atas 3,00.

Jadi buat yang belum lulus kuliah, ayo..perbaiki IPK sampai 3,00 atau kalau bisa di atas 3,50. Peluang diterima pun semakin besar. Waktu semester pendek digunakan dengan baik untuk mengulang mata kuliah yang dapet C. Untuk yang sudah lulus, well..saya tidak bisa memberikan saran, kecuali untuk bekerja terlebih dahulu. Karena ada beasiswa yang dikhususkan untuk bagi yang sudah bekerja, terutama untuk pegawai pemerintah atau pendidik.

Kedua, saya sudah dapat lampu hijau dari dosen yang akan membimbing saya di universitas tujuan. Kebetulan sewaktu saya lulus kuliah, papa memberikan hadiah saya tiket untuk berkunjung ke Jenewa. Saya pun sempat berdiskusi dengan profesor pembimbing, dan dia rela memberikan surat rekomendasi untuk saya. Perhatian, surat rekomendasi dari profesor di universitas tujuan PENTING sekali. Sebagian besar pelamar gagal diterima karena tidak bisa memenuhi persyaratan tersebut. Seperti yang dicantumkan di dalam formulir, setiap persyaratan harus dipenuhi untuk kemudian diproses. Kalau ada satu saja yang kurang, lamaran tidak akan diindahkan.

Untuk mendapatkan surat rekomendasi tidak perlu harus datang ke universitas bersangkutan. Kalau bisa bagus, kalau tidak cukup mengirim surat melalui e-mail. Tips, untuk supaya email kita dibaca dan dijawab (profesor itu sibuk banget dan menerima puluhan email setiap harinya), saya anjurkan untuk pertama2 menghubungi dosen di Indonesia dan cari tahu kalau mereka kenal dengan dosen yang mau dijadiin pembimbing. Kalau sesama dosen udah saling kenal dan anda dikenalkan via dosen anda di Indonesia, surat anda pun akan dibaca dan InsyaAllah dibalas. Perhatian, surat yang dikirim harus jelas, padat, singkat, dan sopan. Untuk yang akan berkunjung ke kampus langsung, sangat dianjurkan untuk menulis surat terlebih dahulu ke dosen yang mau dikunjungi. Minta appointment dan jangan lupa bawa surat rekomendasi yang buagus dan berbunga2 dari dosen di Indonesia.

Ketiga, saya diterima untuk mengikuti program master di universitas tujuan.

Syarat ini sangat vital untuk menentukan apakah anda akan mendapatkan beasiswa atau tidak. Sewaktu saya mengirimkan lamaran, belum pasti apakah saya akan diterima atau tidak, karena batas waktu pengajuan lamaran beasiswa itu akhir Oktober, sedangkan pengumuman penerimaan di kampus tujuan saya bulan Maret. Jadi syarat penerimaan di kampus tujuan dapat dipenuhi setelah deadline lamaran, tapi anda HARUS memberitahu pihak kedutaan. Sayangnya saya tidak punya tips untuk bisa meningkatkan peluang diterima di universitas tujuan. Tapi mungkin, kenyataan bahwa dosen pembimbing anda yang nota bene pengajar di kampus tersebut telah menyanggupi untuk menjadi pembimbing anda akan memperkuat peluang diterima. Di kampus saya, keputusan penerimaan mahasiswa post-graduate ditentukan oleh sekretariat dan fakultas.

<>Mungkin banyak yang bertanya, kenapa harus ke Swiss? Memang sih saya punya alasan pribadi, tapi selain itu menurut saya persyaratan beasiswa ke Swiss termasuk lebih mudah bila dibandingkan dengan beasiswa dari negara lain.

<>Contohnya:

<>Inggris bukanlah bahasa nasional, walaupun hampir seluruh program post-graduate menggunakan bahasa Inggris atau mengijinkan mahasiswa untuk bekerja dalam bahasa Inggris. Jadi untuk yang tidak PD menggunakan bahasa selain bahasa Inggris, tidak berarti anda tidak bisa kuliah ke Swiss. Tergantung programnya. Terlebih lagi, <>walaupun anda tidak fasih dalam menggunakan salah satu bahasa yang diwajibkan, tidak berarti peluang anda untuk menerima beasiswa hilang sama sekali. Saya sendiri waktu dites bahasa perancis gagal total!! Malu2in..mana ditesnya sama duta besar Swiss untuk Indonesia lagi..bikin malu nusa dan bangsa aja. Saya cuma modal senyum dan tampang memelas, dan menjawab pertanyaan seperempat perancis, tiga perempat inggris. hihihi. <>Saya tetap menerima beasiswa, dan enaknya, karena saya gagal dalam ujian bahasa, saya diberi beasiswa tambahan untuk kursus bahasa perancis intensif GRATIS di Swiss. Saya hanya perlu berangkat 3 bulan lebih awal untuk kursus bahasa. Walaupun begitu kemampuan bahasa sangat menguntungkan dan bisa memperkuat peluang untuk diterima, terlebih lagi apabila kuliah anda nanti dalam salah satu bahasa nasional Swiss. Kalau untuk kasus saya, universitas yang saya pilih bilingual, Inggris dan Perancis.

Untuk yang berminat, saya sudah sediakan link di sideboard. Jangan malu2, petugas di kedutaan Swiss ramah2 sekali, jauh lebih ramah dibandingkan pegawai di Departemen Pendidikan. Email akan dibalas dan permintaan formulir pun akan diladeni. Saya aja dikirimin formulir oleh mereka, karena dulu saya tinggal di Bandung. Dan buat yang tinggal di Jakarta bisa datang langsung untuk mengambil formulir. Dan kalau mereka sedang tidak sibuk, mereka mungkin rela ketemu dan menjawab pertanyaan2 sehubungan dengan beasiswa (make appointment first, of course).

Di sideboard juga bisa ditemukan informasi untuk beasiswa ke Jepang, atau program beasiswa dari World Bank (WB) dan Asian Development Bank (ADB). Ketiga program beasiswa ini ada yang dikhususkan untuk yang sudah punya pengalaman kerja, pegawai pemerintah, atau pendidik.

Program beasiswa ke Jepang beragam sekali, bahkan ada yang untuk undergraduate (S1) ditujukan untuk pelajar yang lulus SMA. Asik kan. Silahkan dilihat2, informasinya dalam bahasa Indonesia, jadi lebih mudah untuk dimengerti. Satu program yang sangat menarik adalah Asian Youth Fellowship Program. Menarik…karena program ini memprioritaskan bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan di bidang ilmu sosial. Kan biasanya pemerintah Jepang mengutamakan mahasiswa ilmu pasti atau teknik, kalau yang ini tidak. Yang lebih menarik lagi salah satu syaratnya adalah, pelamar TIDAK BOLEH BISA BERBAHASA JEPANG! Seru kan..

Selamat berburu beasiswa!!

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

8 Responses to “Beasiswa”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Anda lupa syarat ke empat: Willpower (you know, the whole where is the will there is the way thing…) Kalau tidak ada yang satu ini, yang tiga lainnya jadi percuma… IPK bagus tinggal rajin belajar aja toh, yang dua lainnya kombinasi a good amount of luck sama sedikit jaringan kenalan🙂
Tapi kalo yang namanya willpower sudah tidak ada, lupakan saja belajar ke luar negeri… tanpa itu hanya ada satu outcome: miserablity (itu kata bukan sih?…), dan kata orang bijak: better miserable at one’s own home then at other’s home…

Kalau menurut kamu sendiri, bagaimana dengan anggapan beasiswa keluar negeri itu hanya accessible buat orang yang mampu?

Betul sekali. Sampai lupa, terima kasih sudah diingatkan.

Memang, harus punya kemauan dan semangat yang tinggi. Saya aja waktu 9 bulan pertama rasanya mau nyemplung ke danau di belakang kampus, sangking stresnya. Miserable memang, banget! Bahasa susah, norma berbeda, kuliah juga susah. Setiap pulang kuliah pasti nangis!! Tapi ya itu, saya nggak mau menyerah. Akhirnya lulus deh, dengan keringat dan air mata!! (Beneran, kagak cuma pepatah aja. Kalau air mata saya ditampung udah bisa ngisi satu gentong aer buat mandi seminggu)

Saya kurang setuju dengan pendapat beasiswa hanya untuk yang mampu. Terus terang, keluarga saya sederhana. Kedua orang tua bekerja hanya sebagai pegawai negeri biasa. Tiket pesawat itu juga dibeli dari tabungan papa seumur hidup. (Semenjak itu, saya pulang hanya dari menyisihkan beasiswa) Dan saya terus terang tidak punya jaringan kenalan sama sekali di kedutaan Swiss. InsyaAllah saya bisa menyatakan kalau saya mendapatkan beasiswa dengan jujur, tidak ada calling om ini atau itu, atau bayar uang ini atau itu. Bahkan waktu dapet, visa dateng pertama ke Swiss aja nggak boleh bayar.

Mungkin masalahnya ada dalam bahasa Inggris. Memang kalau mau keluar negeri harus bisa minimal bahasa Inggris, dan biasanya hanya keluarga yang dibilang mampu yang mengirim anaknya untuk les bahasa Inggris.

Kalau boleh membela diri sekali lagi, tidak harus punya uang banyak untuk belajar bahasa Inggris. Kebetulan SD saya sudah mengajarkan bahasa Inggris dari kelas 3 SD, dan saya sangat senang pelajaran tersebut. Saya semangat sekali waktu ortu mengijinkan les. Saya les serius, tidak hanya ngeceng atau sekedar biar bisa dapet 9 di kelas. Dan saya tidak pernah tuh dikirim ke luar negeri untuk belajar bahasa Inggris, seperti kebanyakan anak2 orang kaya. Jadi yang lain pun bisa. Seperti yang anda bilang WILLPOWER!

Posting ini gua refer ke oco ya pit, walau gua tahu dia udah elo kasih tahu byk soal ini, dia masih mengambang2 sampai sekarang.

Dan benar, willpower itu emang penting banget, sebenarnya berlaku untuk apapun yang kita lakukan ya nggak🙂

Mbak Pipit,
Terima kasih sekali sudah mau berbagi pengalaman tentang pencapaiannya mendapatkan beasiswa ke Swiss.

Mohon izin nih, bila berkenan, tulisan tersebut ingin saya sebarluaskan lagi buat rekan-rekan pencari beasiswa di Indonesia melalui situs:
http://www.scholarshipnet.info

Kalau tidak keberatan, mohon konfirmasinya disampaikan lewat email ke admin@scholarshipnet.info

Terima kasih sebelumnya dan selamat berjuang menyelesaikan studi.

Salam
admin@scholarshipnet.info

Assalamualaikum, Mbak Pipit…
Salam kenal, Mbak..Nama saya Uchie, kuliah di Fak.Kedokteran salah satu PTS di Medan. Sekarang saya sudah di semester 8. Kalau lulus semester ini, Insya Allah habis wisuda S. Ked siap2 Co-Ass di RS. Dua tahun lebih kurang, baru dapat gelar dr. ..
Saya gak sengaja nemuin blog Mbak pas nyari info tentang beasiswa ke Swiss via Google..
Ci ucapin selamat buat Mbak yang begitu beruntung. Dan mungkin pada saat Ci nulis ke Mbak ini, Mbak udah balik ke Indonesia dan bukan tidak mungkin Mbak lanjut ke Program S3..😉
Mbak, Ci mo nanya, sekolah kedokteran di Swiss bagus2 ya? Trus, ada program beasiswa juga gak ya untuk mahasiswa kedokteran atau dokter yang ingin melanjutkan sekolah..?
Mbak, klo boleh jujur, Ci sejak kecil udah bercita2, suatu hari nanti ingin kuliah di luar negeri.. Apalagi dgn program beasiswa.. Subhanallah…
Mimpi sih boleh2 aja, tapi alangkah baiknya diiringi dengan usaha yang keras agar mimpi kita itu bisa jadi kenyataan.. Ya kan Mbak..?
Tapi, Mbak.. Mungkin gak ya, Ci yang dari daerah, kuliah di PTS, IPK yang tidak terlalu fantastis (gak cum laude), juga bisa memeperoleh kesempatan seperti Mbak..?(He2 agak minder ne..)
O ya, Mbak..di samping kuliah, Ci juga ambil kursus bhs Perancis. Trus bhs Inggrisna juga mo dimantapin lagi. Mulanya Ci belajar bhs Perancis karena “jatuh cinta” ama kota Paris yang eksotis, romantis, bla…bla…, punya muimpi juga untuk ke sana, trus karena bhs-na syusyah(Ci jadi tertantang gitu,he2), pengen nambah wawasan, mmm.. apalagi ya…?Wah, banyak deh Mbak alasanna..
Setelah baca blog Mbak, Ci jadi nambah semangat bwt belajar ne. Siapa tau bisa nyusul jejak Mbak..He2..
Ci juga suka dengan Swiss, salah satu alasanna ya… karena di negara itu, salah satu bahasa nasionalnya, bahasa Perancis.. He2.
Mbak, kira2 langkah2 apa aja yang Ci tempuh, bwt mulai mewujudkan impian Ci ini..? Mohon bimbinganna ya, Mbak..
Oya,Ci minta alamat e-mail Mbak ya, biar bisa cerita2 tentang banyak hal.. Mbak keberatan gak?
Sekian dulu ya, Mbak..
See you.. Merci beaucoup..
May Allah bless You..

Wassalam,
Uchie (suzie_pooh2000@yahoo.com)

ada tips yang bagus ga buat nyari prof atau dosen disana? saya masih bingung, apa yang harus saya sampaikan kepada mereka agar saya bisa diterima di uni bersangkutan…..
selain motivation letter atau study plan ada yang lainnya?
saya berencana kul di uni yang pake bahasa jerman.
bahasa jerman saya juga ga bagus2 amat malah bisa di bilang kacau…
saya sudah mendapat tanggapan dari kedutaan lewat mba melinda djoehansjah, mungkin mba pipit kenal..tapi tetep aja saya masih bingung………
tolong bantuin saya ya…..
thanks

fyglo_ojhe@yahoo.com

assalamu’alaikum…
mba, gini… saya masih kelas 1 sma
tapi udah pengen banget gitu bisa sekolah di luar negeri,, jadi thx bgt bwt info dari mba…
o iy, em… saya masih bingung buanget e gmn bs sampe dapet beasiswa dan kita bisa sekolah di luar negeri, mohon ditanggapi ya mba ya… makasih

Hallo samal kenal…. nama ku Yusi….
Aku tertarik sama AYF (Asian Youth Fellowship) tapi bingung caranya… waktu itu sempet ke BPPT (Alamatnya bener kan ya di BPPT???) TApi pas sampe sana, Lho Kok???? Jadi Bingung?!!!! Pliss… kasih tahu dong caranya….. Biar lebih jelas Kirim e-mail ke aku ya… ushe_46@yahoo.com
Makasie Banyak…..
Take care ya….
Good Luck buat Study nya….
Wit Laff Ushe Amelia


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: