Jangan remehkan opportunity cost!!

Posted on July 25, 2005. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions, Sehari-hari - daily |

Selama saya di Indonesia, saya benar-benar punya jadwal yang padat. Berhubung saya pulang untuk menghadiri acara keluarga, saya pun harus bolak-balik antar kota. Jadi liburan pun bukannya untuk istirahat, dan sepulang liburan saya malah lebih capek dari sebelum berangkat liburan.

Untuk memberikan gambaran inilah rute saya:

Jenewa – Jakarta – Surabaya – Jember – Surabaya – Jakarta – Lampung. Istirahat seminggu kemudian disambung Lampung – Bandung – Jakarta – Lampung – Jakarta – Jenewa.

Badan rasanya mau rontok karena harus mengalami susahnya transportasi di Indonesia, dan kepala pun mau meledak karena sebalnya saya melihat Indonesia yang tidak bisa dan mau menghargai waktu dan memperhatikan opportunity cost seorang manusia.

Apa sih opportunity cost? Untuk yang pernah belajar ekonomi pasti kenal baik dengan istilah ini, tapi buat yang lain, opportunity cost is :

"…the cost of something in terms of an opportunity foregone (and the benefits that could be received from that opportunity), or the most valuable foregone alternative." (Dictionary.LaborLawTalk.com)

Kalau diterjemahkan adalah suatu biaya dari hilangnya suatu kesempatan dalam menggunakan sumber daya tertentu. Kalau kita melihat waktu sebagai sumber daya (Yup..time is a resource!!) maka opportunity cost adalah biaya memilih untuk melakukan aktivitas A daripada aktivitas B. Lebih konkritnya, kalau aktivitas A adalah menunggu dan aktivitas B adalah membaca, maka dengan menunggu saya pun kehilangan 'kemungkinan' keuntungan dari membaca. Memang ada keuntungan dari membaca? Bagi mereka yang hanya menganggap keuntungan adalah berbentuk materi, gantilah aktivitas B dengan beraktivitas di dunia saham, pasti deh baru ketahuan ruginya membuang-buang waktu.

Tapi tujuan dari tulisan ini adalah untuk memperlihatkan bahwa keuntungan itu tidak boleh hanya diukur dari berapa jumlah duit yang bisa dihasilkan oleh suatu kegiatan. Pola pikir seperti inilah yang membuat orang-orang di Indonesia kurang menyadari pentingnya untuk selalu menghitung opportunity cost dalam semua tindakannya.

Selama saya liburan di Indonesia, saya merasa telah membuang paling tidak seperempat waktu liburan saya dengan sia-sia! Sewaktu saya mengeluh yang ada saya dituduh sok penting, sok bule atau angkuh. Ini nih yang bikin Indonesia nggak akan bisa maju, masak orang yang mau menghargai waktu dibilang sok bule. Apa sih salahnya mengakui kekurangan bangsa dan berusaha memperbaikinya dengan mencontoh bangsa lain? Apa sih salahnya untuk lebih efisien dalam berpikir dan beraktivitas?

Efisiensi adalah salah satu kunci kemajuan bangsa dan negara. Nggak percaya? Tanya sama orang Jepang yang sangat efisien dalam mengelolah sumber daya alamnya yang sangat sedikit. Tanya sama para penguasaha tenar dari mana aja, pasti mereka bilang waktu adalah uang. Tanya sama jenderal tentara dari negara-negara besar, pasti mereka bilang efisiensi dalam melakukan operasi militer menentukan keberhasilan operasi apapun.

Tidak efisiennya Indonesia terutama dapat dilihat dari sistem transportasi. Bayangkan, perjalanan dari Singapura ke Jakarta hanya memakan waktu kurang dari satu jam. Tapi perjalanan dari bandara Sukarno Hatta untuk menuju rumah Wira itu sampai 3 jam!! Kemudian, perjalanan dari Surabaya ke kota Jember itu memakan waktu 5 jam, padahal kalau saja ada sistem transportasi seperti di Jenewa paling banyak akan memakan waktu satu jam, itu juga sudah termasuk perjalanan dari rumah ke stasiun dan dari stasiun ke rumah lagi. Selama saya di Jakarta pun waktu saya habis sekitar 5-10 jam sehari hanya di perjalanan. Kalau di sini 10 jam itu sudah bisa keliling negara Swiss. Sewaktu saya mulai komentar, orang malah mencemooh saya dan hanya komentar 'loe sok sibuk amat sih pit, emang sudah gitu lagi. Sabar aja lagi, tinggal duduk tenang ini.' Pengen saya cakar rasanya waktu diceletukin seperti ini.

Itulah, menurut teman-teman dan keluarga saya duduk-duduk itu tidak ada biayanya. Padahal otak saya sudah sibuk menghitung-hitung kerugian saya menunggu pesawat, bis, kapal, teman yang terlambat, atau sekedar pelayan toko yang tidak cekatan sama sekali.

Bayangkan, saya kehilangan 10 jam sehari waktu yang bisa saya pakai untuk membaca. Padahal saya mungkin bisa membaca paling tidak satu atau dua artikel selama 10 jam, artinya 10 – 20 artikel selama 10 hari. Kalau pelajar yang menghadapi ujian, itu berarti kehilangan atau mengurangi kemungkinan saya mendapat nilai bagus, atau kehilangan kesempatan menulis paper yang (lebih) bermutu. Kehilangan kemungkinan mendapatkan nilai bagus berarti kehilangan kemungkinan memiliki ijasah yang dapat bersaing, dan artinya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang memuaskan. Besar kan biayanya?!

Kalau waktu yang terbuang itu dipakai untuk istirahat, keuntungannya juga besar banget. Bayangkan saya bisa istirahat 5 jam sehari, itu berarti saya bisa melepaskan lelah, melepaskan lelah berarti mengurangi kemungkinan saya jatuh sakit, itu berarti mengurangi kemungkinan saya mengeluarkan 100 – 200 ribu rupiah (di Indonesia) atau 850.000 – 1.500.000 rupiah (di Jenewa) untuk perawatan saya sakit. Dengan istirahat yang cukup pun saya bisa balik dengan badan dan jiwa yang segar, yang memungkinkan saya beraktivitas lebih maksimal, memenuhi CV saya dengan berbagai pengalaman yang menarik dan menguntungkan, dan berarti menaikkan kemungkinan saya untuk mendapatkan kerja yang berpotensi selesai kuliah.

Jadi mengertilah kalau saya benar-benar marah waktu teman-teman saya di Indonesia selalu 'ngaret' sewaktu janjian dengan saya. Mereka dengan tenangnya minta maaf dengan tersenyum dan beralasan..beginilah di Jakarta. Coba deh ya..waktu saya ini sedikit sekali di Indonesia, dan banyak sekali yang mau saya lakukan, teman yang ingin ditemui, restoran dan warung yang ingin dihampiri, atau sekedar istirahat di rumah menonton acara TV yang tidak saya lihat selama setahun. Saya benar-benar merasa waktu saya tidak dihargai.

Beda sekali dengan di sini. Waktu sangat dihargai, dan setiap orang (paling tidak yang saya kenal) selalu berusaha untuk memaksimalkan waktunya sebaik mungkin. Tidak heran negara ini bisa maju. Contoh gampangnya aja, bisnya aja tidak pernah atau jarang sekali telat. Ini berarti banyak orang bisa dengan nyaman dan tenang naik bis, menghemat biaya mengendarai mobil dan berinvestasi untuk yang lain. Udara kota pun tidak berpolusi seperti Jakarta, itu berarti memungkinkan warga kota terhindar dari penyakit batuk, bengek, dan sebagainya, dan menghemat uang biaya rumah sakit.

Mulailah menghargai waktu sendiri dan orang lain. Waktu itu mahal sekali, dan sekali terbuang nggak akan kembali lagi. Saya masih heran melihat orang bisa santai-santai, itu kan sama saja membuang 'uang' atau bahkan tidak perduli dengan masa depan.

Siapa bilang hidup di Indonesia itu murah? Selama sebulan saya di sana, saya merasa 'diperas'. Kalau opportunity cost dimasukkan dalam hitung-hitungan biaya hidup di Indonesia, saya tidak akan kaget kalau biaya hidup itu akan berlipat ganda.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

12 Responses to “Jangan remehkan opportunity cost!!”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Setuju .. aku juga sering gemesss kalo ada orang seenak2nya memakai alasan ‘macet’ karena datang telat. They should’ve arranged their time better and leave earlier for the meeting, even when it’s only a coffee chat.

stress ya Pit di Indonesia? memang…aku juga ngerasain hal yang sama. Cuma di Indonesia itu org2 kebanyakan “pasrah”…terlalu pasrah kalau saya bilang, kadang2 kesel sama mereka, tp kalo kita tinggal di sana, ngga nyalahin kalo mereka tu menjadi org2 yang tabah dan pasrah! apalagi di kota2 besar spt Jakarta….
Bersyukurlah kita bisa menikmati transportasi di luar yg lebih efisien dan bersih. Herannya anggota2 DPR yang katanya studi banding ke luar negri, tampaknya tidak pernah menerapkan apa yg mereka lihat di luar untuk dikembangkan di indonesia…
wah…jadi panjang nih komentarnya.
Liburanku di sini aja (spanyol), foto2 dan ceritanya ada di bagian “travel/places”. Thanks udah mampir! keep in touch!

Pasrah memang gampang, tapi tidak akan menyelesaikan masalah dan menguntungkan siapa-siapa. Pasrah sama macet dan akhirnya jadi ngaret, kan nggak masuk di akal. Iya nggak sil?

Mbak naga, menurut saya, anggota DPR yang studi banding itu bukannya studi tapi belanja dan pesiar. Lagian saya tidak yakin kalau mereka mengerti semua yang di-studi-in. Kemungkinan besar informasi yang mereka terima cuma masuk 50%, diterjemahin di kepala cuma 25%, yang ada ya buang2 uang negara.

Lho..lho kok saya jadi malah tambah ngomel?

Okay… I’m one of the Jakartan, and i think somebody gotta defend us… I know here is not one of the best places to live, but every major cities in the world has one/two flaws, it’s up to the people to know how to make the best living here. And sure, Indonesian people are sometimes (extremely) prejudiced, the government are corrupt, but those don’t mean all hope is gone. I know there are some people here who actually tried to make things better, and let me tell you: things could have been worse.

Transports sucks?! Sure, but the arrival of new means like the busway and the upcoming monorail should have some impact (hopefully for the better).
The TV shows only copies foreign shows?! That’s been happening all over the world, a person copies another person idea for something. Although the majority of the local shows are rubbish, but some of them are truly good, like Bajaj Bajuri and Extravaganza. You might say the ideas aren’t original, but try selling an original idea in an unstable economy with no guarantee of success, and you’ll see why people tend to use the ideas that’ve been tried and succeeded before.

Actually, I’m kinda tired of hearing (originally) Indonesian people who now live at another country and been bitching about the condition here endlessly (that goes to Fira Basuki as well, if you ever read one of her books…).
Tokyo’s Japanese has stress problems caused by living in a society that demands punctuality in everything, EVERYTHING!
Singaporean hate the way their goverment rule everything in their lives (from being born to the way how you should be buried)…
I don’t know how things are in Geneva, but i’m sure there are quirks there too😀 Nothing is perfect…

Bottom line is, you’ve found the ‘perfect’ place for you to live, and that’s good and i’m glad for you. But please consider the feelings of the people here.
Not everybody have the same opportunity you guys have. If I had the chance to leave here and live in Japan, would I take it? Sure! Without any hestitation. But would I bitch about my previous living place on and on and on and on….? I don’t think so, buddy!

Thanks for the comment bukan bang yos!! What a sharp and critical comment! A real Jakartan speaking.

Am I bitching about my previous place to live? My answer is no! Am I bitching about ALL the Indonesian TV shows? You got it wrong. Bitching will be a too strong word to use, please try to differentiate bitching with criticizing.

My critics about transportation are based on my critics on people’s habit to understime the importance of time. As you said, I am sure that busway and monorail are and will be useful, but will people change their perception on the value of time? It is not about the transportation, it’s about people’s way of thinking.

Again, as I suspected, my comments will be perceived as arrogant comment from someone who has been away to enjoy the comfort in another country. If I can defend myself, I have been always like this, always bitching when people are late, always try to value my time, always try to count opportunity cost.

About TV shows, did I say that I despise all of them? I do like Bajaj Bajuri, Extravaganza and Ketoprak Humor. Do try not to generalize my comment.

Critics are meant to be used to improve one’s situation. If criticizing is always taken as bitching then when will our society be a critic one? If we have to be happy with something, progress will be very slow.

So, let me express my discontent and I’ll let you slapping me on the face with accussation of being bitchy. Maybe one day this ‘dialogue’ will bring new understanding for us or someone else.

If I can copy one famous advertisement:

Terima kritik, siapa takut?

Bukan Bang Yos Said, “Actually, I’m kinda tired of hearing (originally) Indonesian people who now live at another country and been bitching about the condition here endlessly..”

I respect your opinion, but for your information, my friend pipit has been bitching about the condition here years-years ago, while we were in junior high school you can not throw away a piece of paper recklessly without her pinching you hard.

So it’s not like her being abroad then becomes arrogant. For me, just see it from different angle, she simply deeply wanted an Indonesian better society, so does Fira Basuki. What’s wrong with that? If not us then who else, I found this kind of writing is inspiring rather than being insulting. That’s my two cents🙂

Bukan Bang Yos Said, “Actually, I’m kinda tired of hearing (originally) Indonesian people who now live at another country and been bitching about the condition here endlessly..”

I respect your opinion, but for your information, my friend pipit has been bitching about the condition here years-years ago, while we were in junior high school you can not throw away a piece of paper recklessly without her pinching you hard.

So it’s not like her being abroad then becomes arrogant. For me, just see it from different angle, she simply deeply wanted an Indonesian better society, so does Fira Basuki. What’s wrong with that? If not us then who else, I found this kind of writing is inspiring rather than insulting🙂

I just love it when people bitching about “bitching”.

lol

macchiato

Hmm….bagus sih kritiknya. Tapi mana solusinya…? Terutama untuk orang Indonesia yang sudah terlanjur santai, malas, tidak disiplin, tidak menghargai waktu and so on and so forth…..
Saya juga pengin lho bisa punya kesempatan tinggal di LN yang orang-orangnya sangat menghargai waktu, disiplin, rajin, and so on and so forth….
Ya..kritiknya bisa diterima meskipun kalau tidak ada solusi tidak akan ada perubahan apa-apa, kritik saja terus terus duduk manis.
Keluhannya bukan Bang Yos juga bisa dimaklumi.
Begitulah…..

Anon: Wah, saya tersinggung sekali lagi dianggap “kritik saja terus dan duduk manis”. Saya bukan tipe manusia yang komentar tentang malasnya orang lain tapi sayanya sendiri duduk di sofa bermalas-malasan. Saya tidak duduk manis dan menonton kemalasan yang lain, setiap saat saya berjuang memerangi kemalasan dan selalu berusaha memanfaatkan waktu saya dengan baik.

Minta solusi nyata? Lho, sifat malas itu kan datang dari diri sendiri, solusinya harus datang dari diri sendiri juga bukan? Lucu rasanya menyalahkan orang lain untuk kemalasan diri sendiri. Sama seperti buta huruf yang menyalahkan pena karena tidak bisa menulis.

Tulisan saya untuk membuka mata, untuk melihat kekurangan, untuk kemudian masing-masing individu mencoba untuk memperbaiki diri sendiri. Menyalahkan yang lain akan kekurangan diri tidak akan membuat diri lebih baik, tapi malah akan membuat diri semakin terpuruk karena merasa dirinya tidak perlu berbuat apa-apa. Kemalasan karakter seperti ini yang harus ditanggulangi sebelum berbagai bentuk “kemalasan” lainnya dapat diperbaiki.

Dan kembali, saya tidak berubah hanya karena tinggal di luar negeri. Dulu sewaktu saya masih belajar di kampus dan sempat menjadi pemimpin organisasi saya dibenci seluruh anggota, karena saya sangat garang akan keterlambatan. Saya hanya memberikan penjelasan akan keuntungan sifat hemat waktu, keuntungan yang saya lihat dengan konkrit selama kehidupan saya di sini.

Kritik untuk membuka mata, langkah selanjutnya terserah anda. Patutkah kita mengeluhkan perut yang lapar, ketika yang kita lakukan hanyalah menunggu disuapi?

Opini yang bagus. Ada kutipan dalam bahasa arab yang mendukung artikel ini :alwaqtu kashshoif. artinya waktu itu seperti pedang. Jika kita tidak memanfaatkannya dengan baik maka waktu akan dengan segera memenggal kita.Serem banget kan?tapi ya memang seperti itu.
Kita akan benar-benar merasa kalau waktu itu berharga adalah ketika kita harus mengumpulkan tugas/makalah besok, padahal data-data ga ada, buku pada hilang entah kemana, komputer lagi di pake sodara, terus pas giliran kita, petttt… listrik mati!, warnet tutup pula. Dwuuhhh serasa ingin memutar kembali waktu.

you will never miss the water until the well runs dry!

Klo setengah orang indonesia seperti anda. Mungkin Indonesia bisa maju hanya dalam waktu 10 tahun.(mungkin kurang)…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: