Tertawa itu sehat, tapi…

Posted on August 4, 2005. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions |

Pasti di antara kita semua sering mendapatkan email yang berisikan humor-humor segar. Terutama untuk yang ikutan miling list.

Saya juga begitu, sering sekali menerima email yang isinya lelucon. Menurut beberapa orang, mengirim lelucon itu lebih baik daripada tidak menulis email sama sekali. Pengiriman cerita-cerita lucu dipandang sebagai salah satu cara untuk menjaga hubungan antar teman.

Memang betul, tertawa itu sehat, dan membaca cerita lucu di tengah-tengah mumetnya pekerjaan memang menyegarkan. Tapi yang mengusik pikiran saya adalah banyaknya lelucon yang sebenarnya sangat melecehkan perempuan. Yang lebih parah kalau pengirimnya sendiri adalah perempuan. Saya bingung, masak sih perempuan malah senang melecehkan dirinya sendiri dan ikut mentertawakan kaum mereka sendiri. Tidak sadarkah mereka kalau 'humor-humor segar' ini adalah salah satu alat untuk mempertahankan dan memperkuat 'superioritas' kaum laki-laki.

Kenapa kata superioritas saya beri tanda petik, karena superioritas ini bersifat subyektif. Masyarakat MERASA bahwa kaum laki-laki itu lebih pintar, kuat, bijaksana, bla bla, dari perempuan. Superioritas tersebut bukanlah suatu kenyataan sosial yang harus ditelan bulat-bulat. Mungkin jaman dahulu laki-laki lebih berpendidikan, karena memang hanya laki-laki yang dipandang patut untuk mengenyam pendidikan tinggi. Untunglah jaman sudah berubah, perempuan pun tetap diberikan kesempatan untuk meraih prestasi dan meneruskan pendidikan setinggi yang mereka inginkan.

Contoh lelucon yang membuat saya gusar:

Pertama tentang perbedaan cara perempuan dan laki-laki sewaktu harus mengambil uang dari ATM. Dalam cerita ini perempuan digambarkan sebagai makhluk yang tidak berotak, karena memasukkan nomor pin sampai 3 kali. Perempuan digambarkan sebagai makhluk yang lambat karena tidak bisa langsung menemukan tombol yang tepat untuk menarik uang. Perempuan dipandang sebagai makhluk yang HANYA mementingkan penampilan. Terakhir, perempuan itu TIDAK bisa menyetir!

(waktu saya membaca cerita ini berulang-ulang, karena saya menerimanya sebanyak 3 kali, rasanya saya ingin melabrak yang mengirim. Kalau yang mengirim adalah laki-laki, mau saya tantang adu paling cepat dalam mengambil uang di ATM. Kalau yang mengirim perempuan, mau saya tantang untuk membuka mata dan pikirannya dalam melihat pelecehan terselubung)

Kedua adalah sebuah 'tempelan' dari email yang berjudul women as explained by engineers. Saya menerima empat dokumen pdf yang menerangkan tentang apa itu perempuan. Bukan siapa, tapi apa. Seperti biasanya, perempuan digambarkan sebagai badan tanpa otak, berjiwa labil, mata duitan, tidak rasional, dsb. Ya ampun..kalau saja orang yang mengirimnya di samping saya, sudah saya ceramahin tentang Men as explained by Women !!

Masih banyak banyolan lainnya yang isinya merendahkan perempuan. Terlalu banyak sampai pegel mau nulisnya, walaupun saya masih inget isinya (saya perempuan dan buktinya otak saya lancar-lancar aja).

Mungkin bakal banyak yang ngomel, "pit eloe sok serius amat sih, kan guyonan. Jangan dimasukin ke hati dong. Emang eloenya aja yang nggak punya selera humor." Memang betul itu hanya lelucon, tapi dengan mentertawakan lelucon tersebut kita telah mengakui kenyataan sosial yang menggambarkan perempuan tersebut. Kita pun mentertawakan 'sifat' perempuan dan berpikir "Emang perempuan begitu…lucu juga."

Saya perempuan dan saya menolak menerima pelecehan sosial seperti ini.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

4 Responses to “Tertawa itu sehat, tapi…”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Sedih, memang masih ada perempuan yang belum sadar. Kadang dari perempuan itu sendiri, mendidik anak2 lakinya menjadi “machista”…
Dulu pernah nemu satu blog di blogsome yang isinya guyonan, tapi lama kelamaan guyonannya melecehkan perempuan! akhirnya aku stop liat blog mereka, jijik!
masih banyak yang belum sadar tentang humor2 yang melecehkan gender ini. Kamu harus protes! karena siapa lagi yang akan protes kalau bukan kita, kaum perempuan. Biar mo dibilang sok, ga punya selera humor, dll. Terkadang untuk memperjuangkan kebaikan, memang harus melewati berbagai cobaan…

Jadi tersentil deh, gua sendiri suka polos aja gak nyadar kalau forward2 jokes. Pikirannya sih buat lucu2an ya, tapi kalau ditelaah lebih dalem, hmm.. harus diakui elo ada benarnya juga sihh.. Thanks ya pit, I learn something here.

Joke jenis ini bukan hanya soal gender aja, banyak juga yang menyinggung SARA.

Masalahnya juga, kita dari dahulu terbiasa dgn guyonan ala srimulat yang terus terang kurang bermartabat (contohnya dgn penghinaan bibir bemo, hidung pesek, atau memukul kepala lawan mainnya maksudnya melucu sih, dll).

Hanya karena bermaksud mencari kelucuan atau hiburan bukan berarti kita bisa seenaknya melanggar norma2 ini memang. Walau bagaimana siapa sih yang benar2 rela dijadikan objek lucu2an, kamu.. ya kamu yang baca komentar ini, mau jadi bahan guyonan??

Setuju banget, Pit. Rasanya sudah waktunya buat re-sosialisasi gender balance dimana-mana, especially di Indonesia. Walaupun banyak juga yang secara tidak sadar menempatkan diri mereka di posisi mudah dilecehkan. Anyway, good catch.

BAGUS PIT,…GW SETUJU SM LO,
LO CERDAS BANGET!!!
THANK’S GOD MASIH ADA ORG KY LO GT,…HEHEHE


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: