Ganti gelar, ganti rasa

Posted on August 21, 2005. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions |

"Apalah artinya sebuah nama?"

Banyak. Terlalu banyak malah. Bagaimana seorang individu dipanggil menunjukkan penghargaan yang lain terhadap individu tersebut, yang kemudian mempengaruhi penghargaan individu tersebut terhadap dirinya sendiri. (Pada teriak.. *booo…boring!!*)

Rasakan bedanya antara 'tukang pijat' dan 'ahli pijat'; antara 'tukang kayu' dan 'pengrajin kayu'; dan antara 'tukang cukur' dan 'penata rambut'. Kerasa nggak?

Tukang selalu dikonotasikan kepada pekerja kasar yang dipandang tidak memiliki keahlian khusus, sedangkan ahli adalah seorang yang pandai dan mendapatkan suatu keahlian dari pendidikan 'formal'.

Tapi saya merasa tidak akan bisa menghilangkan penat seperti halnya 'tukang pijat' langganan saya dengan 'keahlian' memijatnya. Lagipula, sedikit yang bisa menggergaji dengan baik dan benar layaknya 'tukang kayu'. Jadi mereka, para tukang, indeed punya keahlian. Memandang rendah keahlian mereka, hanya karena mereka tidak punya 'gelar' yang formal sama saja merenggut kesempatan mereka untuk membangun self respect.

Yang lebih lucu kalau melihat orang yang memiliki gelar 'formal' merasa harus meyakinkan dirinya akan nilai dari gelarnya tersebut. Memajang gelar S1, ditambah S2, lalu ditempeli S3 sebenarnya suatu praktek yang tidak lazim di dunia akademis. Kalau sudah dapet gelar master, gelar bachelor tidak perlu dipasang. Lazimnya kan kalau mau punya master harus lulus S1 dulu. Jadi gelar yang lebih tinggi 'membatalkan' gelar sebelumnya.

Mungkin ini karena kita dibiasakan untuk kagum akan panjangnya nama seseorang. Seperti kata orang tua, nama itu kan doa. Makin panjang namanya, makin panjang juga doanya.šŸ™‚

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

5 Responses to “Ganti gelar, ganti rasa”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Ini ngomongin nama atau title ?

Nama dulu…
Romeo : “I’m a Montague”
Juliet :”What’s a name” ?

Context pembicaraan si Julehah, jelas bukan pada kata Montague. Tapi pada posisi keluarga Montague terhadap keluarga Capulet.
Jadi mestinya ditulis lengkap :
“Apa arti sebuah nama, jika tidak tahu artinya”.
(Yang versi dialognya :
“What’s in a name? That which we call a rose”)

Meski namanya Rose, tapi jika bermusuhan dengan keluarga Capulet, ya sama saja “Montague”.

Meski punya nama bagus, tapi nggak tahu artinya ya sama juga memble. Tahu artinya tapi punya nama “memble aje gile” ya gak lucu.. hehe..

Sekarang title..
Orang kebanyakan memang suka dengan jabatan. Kartu nama saya, diberi title “IT Architect”. Padahal secara fungsional ya programmer yang suka kopi.

Tapi my most impressive clients justru bukan orang yang suka kartu nama mentereng. Pihak swasta terutama, gak peduli gw lulusan mana. Yang penting fungsi : pekerjaan selesai on scope on time on budget.

Gw sendiri lebih suka fungsi. Lha wong dulu undangan nikah gw pertama ada title sarjana-nya gitu. Lalu gw suruh ganti gak pake title.

Argumen saya : yang dilihat orang kalo nikah bukan titlenya, tapi yahh, you know, .. mas kawinnya hihi..

Dan satu lagi.. err.. eh.. ini comment ya ? Bukan post di blog gw ? šŸ˜€

tentu duduk di atas tikar pandan akan lain rasanya dengan duduk di atas kasur. alas, dalam bahasa jawa dinamakan gelar-an, saja mampu membedakan antar keduanya. jadi, ganti gelaran akan ganti rasa juga. (hahaha… OOT nih komennya :D)

Inget guru olahraga SMP kita nggak pit? Namanya guia udah lupa, tapi yang gua inget banget, kalau kita lupa pasang gelar Drs di depan nama beliau untuk penilaian PR mingguan laporan olahraga, paling tinggi nilainya 7 he3x..

Guru olah raga waktu SMP pake Drs.? Nggak inget tuh.

Lagian yang namanya pelajaran olah raga udah dihapus dari ingatan gue Wir. Gue paling benci olah raga waktu di sekolah..lari keliling lapangan bola kayak orang kurang kerjaan, tiap main volley pasti servis nggak pernah lewat net, mukul bola softball pasti nggak pernah kena (wong keberatan batter). Pokoknya kalau udah giliran gue ngapa-ngapain yang lain pasti udah senyum2, geli duluan.

Iya Mas Andry, memang nggak jelas ini.šŸ™‚ Tapi kalau dipikir-pikir nama dan gelar itu kan sama, sama-sama berfungsi sebagai panggilan dan label jati diri.

Makanya saya campur aduk begini. *ngeles* hihihi


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: