Double standard

Posted on September 1, 2005. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions, Sehari-hari - daily |

Apa yang ada di pikiran kita kalau melihat kakek-nenek di jalan? Tersentuh, kasihan, atau bahkan ingat sama kakek nenek kita di kampung. Lain dengan di sini, kalau melihat para manula, selain perasaan tersentuh dan kasihan, tidak jarang saya merasa geram, bingung, takut dan terintimidasi.

Para orang gaek di sini banyak yang galaknya ngelebihin satpam bank. Mereka selalu mengeluh tentang apa saja, dan memberikan komentar negatif tentang orang asing. Tidak jarang komentar-komentar rasis berluncuran dari mulut nenek-nenek yang terlihat lemah lembut. Terlebih lagi, mereka itu selalu memiliki double standard. Kalau mereka boleh, yang lain tidak boleh.

Bayangkan, biasanya kalau di pemberhentian bis, para penumpang yang akan naik disarankan untuk tidak berdiri di depan pintu bis, dan membiarkan penumpang di bis turun dulu. Kalau nenek-nenek, mereka langsung sikut sana sikut sini, melawan arus penumpang yang turun dari bis. Jelas saja dong mereka terdorong oleh arus. Sudah begitu, langsung deh mereka ngomel-ngomel tentang tidak sopannya anak muda, dan tidak jarang melabrak beberapa penumpang.

Di lain pihak, kalau pas kebetulan nenek-nenek yang mau turun dari bis, mereka pasti langsung misuh-misuh bila kebetulan ada orang yang berdiri di depan pintu bis, menghalangi prosesi mereka untuk turun dari bis. Tidak jarang orang yang kebetulan sudah mepet-mepet di pinggir pintu bis, untuk memberikan mereka jalan, langsung disikut dan disemprot untuk ikut turun dari bis. Agar pintu keluar makin lengang. (Catatan: kalau kebetulan mereka yang di pinggir pintu, jangan harap mereka mau ikutan turun, yang ada orang lain akan diomelin kalau kebetulan menyenggol belanjaan mereka)

Di dalam bis mereka juga punya 'attitudes'. Kita harus extra hati-hati dalam bertingkah laku terhadap mereka. Menawarkan kursi untuk mereka kadang dibalas dengan pandangan tajam, dan penolakan singkat namun cukup pedas. Xaf bilang, ada di antara mereka yang merasa tersinggung kalau diberi kursi, mereka merasa diperlakukan seperti manula yang tidak bisa apa-apa. Terkadang ada nenek-nenek yang menyuruh orang lain untuk pindah tempat duduk, karena dia mau duduk di kursi kesenangannya. Kalau ada kereta bayi yang masuk, para manula yang duduk di kursi lipat di tempat kereta bayi tersebut, pasti bersungut-sungut, tidak mau pindah tempat duduk dan melegakan tempat.

Memang tidak semua orang tua seperti ini, tapi kebanyakan ya seperti itu. Saya kadang kasihan melihat para anak muda yang sinis kepada orang tua, tapi ya mau bagaimana, sikap para manula pun jauh dari ramah. Hubungan antara kaum muda dan kaum tua pun seperti lingkaran setan.

Nanti kalau pensiun, saya mau pulang kampung saja. Biar bisa jadi nenek-nenek yang ramah dan disayangi semua orang.🙂

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Double standard”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

nenek sering nyelak kalo ngantri. emang tuh org2 tua di sini gahar2…kita sering perang dng mereka di taman.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: