Minimalis versus maksimalis

Posted on November 1, 2005. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions, Sehari-hari - daily |

Pengantar: Ini adalah sebuah misuh-misuh seorang maksimalis yang harus bekerja dengan seorang yang minimalis.

Kalau saya mengakui bahwa saya adalah seorang maksimalis pasti banyak yang nuduh…idih..serakah deh eloe. Padahal maksimalis kan nggak cuma masalah memaksimalkan untung, yang dikonotasikan dengan menginjak, menyikut, atau mendorong yang lain. Saya maksimalis dalam bekerja, dalam arti selalu berusaha melakukan suatu tugas (sesepele apapun bentuknya) dengan maksimal. Banyak mungkin yang disebut perfeksionis (ini bahasa Indonesia bukan sih?).

Susahnya saya punya temen kantor yang minimalis banget. Dia sih bilangnya memprioritaskan yang lebih penting, kalau saya bilang sih, perhitungan! Bayangkan, kita ini sama-sama asisten (babunya dosen, red.), tapi giliran ada tugas apa-apa dia dengan anggunnya mengelak atau memberikan raut wajah enggan. Herannya dia nggak malu mencantumkan label R******h Assistant padahal kalau diminta bantuin saya (yang nyuruh Profesor, bukan saya) yang sudah hampir kelelep sama berbagai tugas penelitian, beliau cuek atau pura-pura nggak tahu. Dia ngotot mau fokus ke thesisnya dan yang lain-lain itu nomor 2 atau 3 atau berapalah. Nah, memang saya nggak punya thesis apa? Terus kerjaan siapa yang musti nyelesain? Mungkin dia masih percaya ama peri-peri atau kurcaci ala dongeng yang dateng tengah malam untuk menyelesaikan tugas mereka yang tertidur di atas meja kerja. Oalah..guemes…pengen ngejitak, tapi takut dituntut.

Kalau melihat saya yang sudah stress pisan, lari-lari ke sana kemari (saya mungkin yang paling sering lelarian di kantor ini), rambut acak-acakan dan ngomong sudah pake 2 bahasa, dia cuma senyum tipis dan geleng-geleng kepala sambil komentar, "You know what your problem is, you want to do everything too well. Why do you spent too many times on that? Just make it simple, the most important thing is that it is done." Hah!!

Saya yakin saya waktu itu melotot waktu dikomentarin kadal kayak begini. Saya jawab dengan diplomatis kalau saya nggak betah menyelesaikan sesuatu ala kadarnya, nggak sesuai dengan etika kerja saya. Dia cuma senyum miring. Sempet mikir…kerasa kesindir nggak ya..ah pasti nggak. Saya yakin dia ini tipe orang yang baru kesindir kalau udah dicium ama bajaj.

Mungkin dia benar, mungkin saya terlalu perduli sama detil, tapi inilah saya sebagai seorang pekerja. Buktinya dia juga sadar kok kalau hasil kerja saya terlihat rapi dan profesional. Dia sering komentar setelah melihat hasil tarian jari-jari saya di depan komputer untuk merapikan daftar atau dokumen dari para bos. Tapi ya itu, cuma komentar doang, dia tetap keukeuh dan nyaman dengan gaya minimalisnya.

Kadang saya suka heran sama mereka yang sekadarnya. Kurang sadarkah mereka kalau perhatian akan detil dan sedikit waktu lebih untuk mengerjakan sesuatu akan memberikan hasil yang jauh lebih baik. Kalau saya boleh membela tipe kerja saya yang penuh dengan stress, jerawat dan rambut rontok, menjadi seorang maksimalis itu banyak untungnya. Setiap orang yang pernah kerja bersama kita akan memberikan rekomendasi yang positif. Siapa tahu kalau bekas dosen kamu ternyata temen baiknya kepala perusahaan yang kamu kirimin lamaran. Temen kerja pun bisa menjadi referensi. Kita kan nggak pernah tahu bagaimana masa depan nanti. Tidak mustahil temen kita sekarang akan menjadi kunci untuk diterima atau tidaknya kita di suatu pekerjaan nantinya.

Sampai sekarang saya tidak pernah menyesal menjadi seorang maksimalis. Dosen yang super killer (dan saya selalu ngacir kalau melihat si profesor di tengah jalan) jadi super baik sama saya. Sampai mau mendengarkan curhat saya yang diiringi mata berkaca-kaca dan berproklamasi kalau dia bakal siap mendukung saya kapan saja. Mungkin dia merasa bersalah karena proyek penelitian dia telah membuat saya harus berganti kaca mata. Kepala fakultas (yang tidak saya kenal baik) pun sampai berdiplomasi dengan direktur bagian post-grad untuk memberikan saya dispensasi, setelah melihat perjuangan saya yang pontang-panting ngebantuin beliau untuk satu proyek.

Terakhir, ingat nggak lokakarya yang harus saya urusin? Sebelum pulang ke negara mereka masing-masing, para peserta lokakarya yang uangnya pas-pasan itu sempet-sempetnya urunan membelikan kado perpisahan buat saya. Duh..terharu, saya nggak pernah mengharapkan apa-apa. Tapi temen baru saya bilang, "it's just a simple gift from us, as we really appreciate all of your hardworks. You have done far beyond your duty call."

Betul kan, jadi maksimalis ada hikmahnya. Reputasi kerja yang baik, atau bahkan Swatch Skin baru.🙂

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

2 Responses to “Minimalis versus maksimalis”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Iya elo tuh, gua inget jaman2 kita masih sekolah bareng dulu, nggak tugas nggak ujian giliran gua masih nyantai2 elo udah panikk aja bawaannya heheh..

It’s a good thing pit, but sometimes you need to slow down and enjoying the journey😉

Kirain minimalis dalam desain..taunya.
Hm…kadang susah ya org seperti kamu berada di lingkungan org2. santai, di kantor saya juga begitu.
Tapi saya usahakan tidak terpengaruh imbas produktivitas mereka yang amat minim.
Asal kitanya juga liat2 sikon, kadang bolehlah santai dan “cuek”, apalagi kalo kitanya udah “panas” karena bolak balik kayak setrikaan!
he he…selamat ya! (selamat apa toh ini?- ya selamat akhirnya hasil kerjamu dihargai!)–>


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: