Katakan dengan kartu pos

Posted on January 6, 2006. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions |

Teknologi katanya memperdekat jarak. Telepon membuat kita bisa ngobrol walaupun terpisahkan beribu kilometer jauhnya. Email bisa membuat kita menulis dan menerima kabar tanpa harus menunggu berhari-hari, berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Berbagai messenger bisa membuat kita tetap berbincang-bincang dengan yang lain yang berada di seberang lautan, walaupun suara digantikan oleh tarian jari-jari di atas keyboard. Tapi tidakkah ada yang merasa kedekatan jarak yang diciptakan oleh teknologi terkadang memudarkan indahnya komunikasi antar dua insan?

Email memang memudahkan kita untuk mempertahankan kontak dengan seorang teman. Tapi kemudahan ini kadang malah membuat kita meremehkan arti dari "stay in touch" . Tak jarang kita sehabis membaca email berkata.."ah entar aja balesnya, gampang ini." Nanti…nanti…dan akhirnya tidak pernah terbalas, karena email tersebut sudah tertimbun dalam inbox.

Membaca email pun rasanya hambar. Kabar tertulis dalam tulisan yang rapi namun mekanis, tidak ada unsur manusia seperti halnya tulisan tangan. Tidak ada emosi yang disampaikan dari tulisan sebuah tangan manusia. Lekukan huruf dan tanda tangan penulis memberikan sentuhan personal dari kabar tersebut, kabar yang ditulis oleh orang yang kita kenal, sayangi, atau bahkan rindukan.

Pernah lihat surat-surat lama nenek atau orang tua kita? Saya pernah lihat tulisan nenek saya jaman dahulu kala. Tulisan sambung yang terukir seperti cacing di atas kertas yang menguning. Saya masih ingat gemetarnya tangan saya waktu itu, tersentuhnya hati saya, seakan mencoba merasakan sejarah dari surat tersebut. Perasaan yang kurang bisa saya dapatkan dari membaca email-email cinta saya pada beberapa tahun silam.

Makanya hati saya selalu langsung berbunga-bunga ketika di kotak pos saya ada surat atau kartu dari teman-teman saya. Senangnya hati ini ketika membaca kabar singkat di balik kartu pos lebih daripada ketika membaca cerita panjang lebar di sebuah email. Berhubung saya penganut paham treat others like you want them to treat yourself, saya pun selalu berusaha mengirimkan kartu pos ke teman-teman saya; walaupun isinya hanya singkat, just wanna say hi or thank you for your card.

Jadi kenapa tidak sampaikan kabar dengan kartu pos? Kartu pos yang memberikan sedikit gambaran tempat di mana kita berada, tempat baru yang kita injak dalam pertualangan hidup, photo artistik yang menyampaikan perasaan hati pada saat itu, atau sekedar gambar jenaka yang membuat kita tersenyum merupakan media untuk berbagi dengan mereka yang jauh di sana. Sebuah media untuk memperlihatkan hidup kita saat itu, hidup yang sudah terpisah oleh jarak. Biaya mengirim kartu pos lebih murah daripada surat atau kartu lainnya, harganya pun relatif lebih murah. Kartu pos juga tidak menuntut kita untuk mengarang cerita panjang lebar, sehingga tidak ada alasan seperti, harus menulis apa?

Cara lama memang mungkin kurang praktis, tapi menulis sepucuk surat dengan sebuah pena dan secarik kertas jauh lebih manusiawi. Cetaklah jejak dalam hidup ini, meskipun itu hanya berupa beberapa bait kalimat yang ditujukan kepada seseorang yang berarti.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

5 Responses to “Katakan dengan kartu pos”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

ini tentang teknologi dan pergeseran. ketika surat diantar dengan tenaga burung, manusia saat itu telah merasa setingkat lebih maju. mereka mengira, dengan bantuan burung, manusia tidak lagi mengeluarkan energi sebagaimana dulu, setiap mengirim surat harus mengandalkan tenaga manusia.

namun akhirnya, ada jasa tersendiri untuk mengantarkan surat-surat itu. tinggal membeli prangko, dan surat siap “terbang” ke tujuan. manusia saat ini juga selangkah lebih maju.
entah, apakah waktu itu telefon sudah apa belum, namun surat tetap tidak bergeser.

teknologi terus berkembang… dan terus berkembang. jarak seakan terhapus oleh penemuan-penemuan baru alat komunikasi. ketika lebih praktis, maka manusia menganggap selangkah lebih maju.

namun ketika mereka menganggap hal itu masih relevan, maka komunikasi pun masih bisa dijalin —walau hanya surat.

kurang praktis? mungkin. tapi buktinya setiap pengiriman undian, banyak yang masih mengandalkan surat, atau kartu pos.

Tulisan tangan memang jauh lbh berkesan, gara2 posting ini jadi membuka kotak yang berisi surat2 lama, mulai dr jaman kuliah, memang gak byk, tapi hmm.. kok jadi agak terharu ya.

How fast time goes..

Eh kok anonim, abis gak ada formnya, tulisan di atas dari gue pit🙂

WiRa

Imponk: Setuju sekali! Tapi ya kadang suka sedih aja melihat bagaimana manusia sangat mengandalkan teknologi tanpa sadar kalau sudah mengurangi unsur manusiawi.

Melangkah maju memang sudah arah perjalanan manusia. Tapi tidak berarti dalam melangkah kita harus mencampakkan semua yang ‘dahulu’ kan? Mungkin sifatnya agak nostalgic.

Wira: Itu dia Wir, lebih berkesan. Ngomong-ngomong gue kayaknya nggak pernah dapet surat dari eloe deh Wir…*nodong*..hihihi

Kata orang, di dunia yang sarat kemudahan informasi, dunia akan semakin kehilangan makna.

Karenanya, gw males kirim ucapan apapun (ultah, taon baru, hariraya) pake imel/sms.

Mending kirim sesuatu yang ada tulisan tangan asli😉

(oh ya, paragrap pertama yang gw kutip, gw ambil dari “Future Shock”. Udah baca ?)


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: