Komentar: Munich

Posted on February 14, 2006. Filed under: Film dan buku - Movies and books |

Akhirnya kesampaian juga hasrat hati untuk nonton Munich, salah satu film yang dinomasikan untuk penghargaan Oscar tahun ini.

Komentar saya tentang film ini: fast but long, violent, compact but fail to deliver a complex and multi-layered story.

Munich bercerita tentang 'pembalasan' Israel akan terbunuhnya sebelas atlit mereka di Olimpiade Munich 1972. Berfokus pada satu kelompok agen Mossad dalam memburu sebelas tokoh yang dicurigai berada di balik Black September, film ini menampilkan kehidupan (singkat) para agen rahasia, teroris, dan pembunuh bayaran dalam konteks Perang Dingin. Sungguh menarik melihat bagaimana jaringan underground ini eksis, bekerja, dan saling terjerat seperti jaring laba-laba.

The hunter today can be the hunted tomorrow.

Terlepas dari pintarnya Spielberg menyoroti motivasi di balik misi balas dendam ini, film ini gagal atau tidak berusaha untuk membangun para karakter penting. While we understand the reason behind this mission, there is no or little explanation on what's going on inside the team's member. What reasoning they give to themselves to believe in their own mission? Is it blind faith, nostalgic and historic reason, or nationalistic loyalty? Jadi ketika akhirnya mereka mempertanyakan 'kebenaran', saya pun merasa seperti melihat akhir tanpa suatu awal.

Perasaan tersesat saya selama menonton film ini mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan saya akan peristiwa Munich dan rentetan peristiwa yang terjadi setelahnya. Lima belas menit pertama penonton dibombardir oleh ringkasan peristiwa yang terangkum oleh berbagai media internasional, yang disampaikan dalam berbagai bahasa. Quite impressive editing and it conveys cleary the message on how important the event was. Tapi saya yang tidak familiar dengan peristiwa bersejarah tersebut merasa seperti dicekoki rangkuman sejarah dengan konteks internasionalnya yang sangat berat dalam waktu yang terlalu singkat.

Penuturan ceritanya pun kurang memuaskan. Penggunaan kilas balik, saya rasa kadang cukup membingungkan, karena tidak jelas dari sisi mana kilas balik tersebut dilihat. Dari media, dari pengalaman pribadi sang karakter, atau dari imajinasi sang karakter. Penyajian kekerasan sangat mentah, mengingatkan saya akan Kill Bill, sedangkan 'hampanya' penggambaran setiap karakter membuat beberapa slow pace moments membosankan.

Terlepas dari itu semua, Munich adalah film dimana konteks latar belakang sama menariknya dengan cerita yang ingin dituturkan. Interpretasi sebuah peristiwa bersejarah yang kemudian membuat kita ingin lebih tahu, terutama ketika sejarah tersebut ikut mengkondisikan kenyataan yang kita hadapi saat ini.

Munich shows a vicious circle of a too long conflict. In showing the importance of nation and state, and what people are capable to do and sacrifice for their nation; this movie actually questions the justification limit for state's policies pursued in the name of national security.

Quoting one phrase from Mononoke Hime, "go and see with unclouded eyes".

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

5 Responses to “Komentar: Munich”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

katanya sih banyak yg kriktikan thd. film ini ya? anyway, spt. biasanya aku tunggu saja kemunculannya di dvd atau dvd perpus (mungkin baru tahun depan, ha ha ha…!)

Iya, makanya saya penasaran. Nah, berhubung saya ini cerewet, ikutan bikin kritik deh..hihihi.

Lagipula saya sudah kesemsem sama thrillernya, dan tema-tema ‘politik’ seperti ini penting dan menarik buat saya.🙂

Banyak kritik terhadap film ini karena baik Mossad atau keluarga korban tidak menerima kunjungan Spielberg untuk konfirmasi tentang details keakuratan.

Saya sudah pernah nonton versi lain dengan latar belakang yang sama berjudul The Sword of Gideon. Karena belum nonton Munich jadi belum bisa membandingkan.

Ulasan yang kritis Pit, however gua tetep penasaran pengen nonton sendiri nih.

Tari: Wah…ada versi lainnya toh? Makasih Tari atas infonya, nanti coba cari deh..mau dibandingin.🙂

Wira: Thanks Wir..ya memang harus ditonton sendiri. Gue kan cuma komentar doang, namanya juga ceriwis..hihihi


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: