Telepon genggam: telepon yang digenggam atau yang menggenggam?

Posted on March 18, 2006. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions |

Mau ngomongin constructed consumption and need, sudah banyak yang koar-koar. Mau ngomongin handphone and trendsetting apa lagi. Tapi bukan berarti saya harus kehabisan kritik tentang telepon genggam.

Catat: saya mengkritik bukan tentang kegunaan telepon genggam. Telepon genggam, seperti layaknya telegram dan telepon, memang sudah membawa komunikasi dan hubungan antar manusia yang terpisahkan oleh jarak to the next level. Bodoh rasanya kalau saya mencoba membangun teori yang menentang persepsi ini. Bukannya mustahil, tapi saya bukan ahli teknologi, filsafat, dan sosiologi, yang memiliki pemahaman mendalam akan hubungan teknologi dan interaksi manusia. Yang mau saya kritik adalah tentang persepsi akan penggunaan telepon genggam.

Dalam semua iklan telepon genggam, seperti layaknya iklan yang bertujuan menjual, keuntungan memiliki telepon genggam digembar-gemborkan dalam berbagai cara dan makna. Satu keuntungan yang ditonjolkan: penghematan waktu, efisiensi, waktu dapat digunakan untuk beberapa kegiatan sekaligus, dan berbagai persepsi modernitas masyarakat berkaitan dengan waktu. Tapi apakah benar?

Satu hari berjumlah 24 jam (let's not go into discussion about time reflectivity or construction of numerical time based on one religion), limitasi waktu ini tidak akan bertambah walaupun punya telepon genggam sepuluh biji. Jadi apa yang bisa dihemat kalau jumlahnya tidak bisa bertambah? Penghematan, kemudian, hanya bisa dilakukan dalam limitasi tersebut. Ini berarti waktu hanya bisa dihemat dengan mengganti penggunaannya.

Bingung? Saya harap tidak.

Contoh gampangnya aja. Katanya (orang lain) punya telepon genggam menghemat waktu dalam pekerjaan dan menciptakan efisiensi. Kata saya: telepon genggam tidak jarang memaksa manusia (secara sadar maupun tidak sadar) untuk memotong waktu pribadinya (waktu santai, waktu bersama keluarga, waktu merenung, dsb) untuk menambah waktu kerja. Jadi tidak ada penghematan waktu, yang ada adalah pengorbanan waktu untuk pekerjaan.

Tidak percaya?

Ingat tidak bagaimana dulu sewaktu telepon genggam belum menjamur? Saya ingat. Tidak pernah saya lihat orang tua saya berbicara tentang pekerjaan setelah mereka pulang kantor. Sekarang, sambil mengendara mobil pun, papa saya kadang sambil berbicara dengan teman sekerjanya tentang berkas ini atau itu. Dulu, pergi jalan-jalan sama papa dalam mobil adalah ajang diskusi saya dengan beliau. Ajang diskusi yang sangat saya hargai, karena saya bisa bicara apa saja tentang apa saja dan siapa saja. Saya bisa bebas mengkritik, dan papa saya akan berusaha memberikan pengertian kepada anak perempuannya yang penuh dengan kemarahan.

Mama juga begitu. Walaupun cuma sekretaris, semenjak punya telepon genggam, ada saja teman sekantornya yang menanyakan apakah bapak A akan masuk kerja besok, atau dimana dia meletakkan berkas A. Padahal berkas tersebut ada di atas meja kerjanya, seperti biasanya.

Bukan saya mengkritik pekerjaan orang tua saya ya. Saat mereka punya telepon genggam, saya sudah punya kehidupan tersendiri, terlepas dari mereka. Jadi saya tidak merasa dirugikan. Ini hanya contoh. Kan lebih baik membicarakan diri sendiri daripada orang lain.

Saya pun kadang merasa waktu pribadi saya diminta semena-mena oleh pekerjaan karena si telepon genggam. Saya ini bukan orang sibuk, cuma seorang asisten kampus yang bekerja paruh waktu. Tapi masih saja terkadang ada yang menelepon saya mengenai pekerjaan. Kesal rasanya ketika waktu merenung saya sambil menikmati pemandangan kota Jenewa dari balik jendela tram atau bis kota dipotong oleh bunyi titt..titt..titt. Lebih kesal lagi ketika pertanyaannya benar-benar tidak berguna.

"Sudah mengirim saya data ini?"
"Lha sudah dong, saya langsung kirim ketika Bapak minta satu jam yang lalu."
"Kok saya belum dapat data B?"
"Ya belum dong, sekarang sudah jam 8 malam dan saya perlu pulang untuk istirahat. Lagipula tenggat waktunya kan akhir minggu ini."
"Oh..ok. Have a nice evening."

Pertanyaan bodoh seperti ini kemudian membuat saya mempertanyakan tuduhan bahwa telepon genggam membuahkan efisiensi. Tidak selamanya! Bukan efisiensi yang didapat, yang ada malah kerancuan akan prioritas.

Kadang orang menelpon untuk hal-hal yang sangat sederhana, just because they can. Otak menjadi malas untuk berpikir, mata malas untuk mencari, atau badan malas untuk berusaha dan bergerak, karena ada yang lain yang bisa ditelpon untuk dimintai tolong. Belum lagi ketika perhatian akan detil pun menjadi lenyap karena kepala beralasan, "ah..kalau ada apa-apa bos atau sekretaris bisa telpon saya di HP."

Inikah efisiensi?

Orang tua saya (terutama mama) selalu menekankan pentingnya detil. Mereka pun selalu menekankan untuk selalu menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar. Tuntas atau tidak sama sekali. Jadi tidak ada dalam kamus meninggalkan pekerjaan setengah matang, kecuali kalau memang ada hari esok. Tidak ada dalam kamus meninggalkan meja kerja tanpa membereskan berbagai berkas dalam aturan yang mempermudah saya dalam melanjutkan pekerjaan keesokan harinya.

Lucunya, sering saya mendengar pembicaraan melalui telepon genggam di sekitar saya yang intinya minta maaf karena lupa meninggalkan berkas di meja sebagaimana mustinya. Atau minta tolong teman yang masih ada di kantor untuk menyerahkan map ke sekretaris. Ini sih namanya menganggap gampang segala hal.

Masalah prioritas juga begitu. Kadang kita ditelpon untuk hal-hal yang sangat sepele, seperti contoh saya di atas. Kita pun kadang didesak-desak untuk hal yang bisa dikerjakan setelah makan siang. Waktu makan siang pun terganggu dengan berbagai permintaan atasan atau kebodohan teman kerja, yang bisa disampaikan setelah jam makan siang.

But no, if we can call him/her now, why not. Then she/he will know, and we'll save 5 minutes of giving instruction!

Tidak dipikirkan kalau lima menit yang dihemat (walaupun tidak benar-benar perlu) itu mengakibatkan seseorang tergesa-gesa dalam menyantap makan siangnya, dan menyunat waktu istirahatnya.

Mental break is as important as physical break!

Telepon genggam memberikan efisiensi, penghematan waktu? Bukan. Tapi penciptaan masyarakat dengan tingkat stress tinggi, pengorbanan waktu pribadi bagi pekerjaan, dan perbudakan manusia di bawah unnecessary communication demand.

Kalau ada yang workaholic atau capital-minded protes, waktu pribadi tidak dikorban tapi digunakan dengan lebih efisien, jawaban saya tetap ada. Waktu merenung dan menikmati lingkungan sekitar memang tidak mengasilkan kapital dan keuntungan bagi perusahaan, tapi memberikan makanan batin untuk kesehatan manusia. Waktu membaca memang tidak menghasilkan kontrak baru dengan partner kerja, tapi memberikan santapan ilmu dan pengetahuan akan dunia dan masalahnya, untuk kemudian bisa lebih mengerti dan tidak mudah untuk dimobilisasi.

Efisiensi seharusnya tidak hanya diukur oleh banyaknya keuntungan material atau saham, tapi juga bagaimana seorang manusia bisa lebih efisien dalam berpikir, bercermin dan bertindak. Sudah saatnya matematika efisiensi memasukkan psychological balance dalam pembukuan, bukan hanya debit dan kredit.

Smart and healthy workers cost you half of the price, as they work faster and better: more efficient.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

12 Responses to “Telepon genggam: telepon yang digenggam atau yang menggenggam?”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

aha…frase terakhir memang ideal, tp sayangnya tidak semua org berpikir spt. itu.
Hasil angket di sini malah menunjukkan bhw fungsi telpon genggam yg paling utama adalah untuk mengontrol suami/pacar..๐Ÿ˜›

gw gak bisa lebih setuju dari apa yg sudah ditulis.

untung nomor gw belum terkenal sehingga hp gw tergolong jarang berdering๐Ÿ™‚

Saya teringat semboyan : When Faster harder Smarter is Not Enough, instead try to live Richer, Deeper, Wiser.

Am I in the right direction by commenting this ?

Ponsel = telepon genggam.
Telepon rumah kok tidak disebut demikian
padahal dia juga digenggam, bukan?

Masyarakat yang aneh.

Saya melihat keuntungan
akan keberadaan telepon seluler,
pada saat saya sudah tak berdaya.

Naga: Hahaha..iya itu dia. Alat kontrol baru. Kasihan ya, kok sama pacar dan suami sendiri tidak percaya. Bukannya dasar suatu hubungan adalah kepercayaan?

Feha: Betul, jangan sering diobral nomor telpon. Nanti tidak akan mendapatkan ketenangan lagi.๐Ÿ™‚

Andry: Nice phrase. Dapat darimanakah? Bijaksana sekali…

Nikk: Iya ya Nikk. Mungkin karena maksudnya telpon yang digenggam kapan saja dan dimana saja. Kalau telpon rumah, mana bisa digenggam dari ruang tamu ke dapur. Kecuali kalau mau keserimpet kabel.๐Ÿ™‚

seringkali orang emang gampang kemakan hal2 baru lebih karena lifestyle. sperti begimana iklan2 hape memborbardir soal hidup modern, mobile, eksekutif, bla bla bla. alhasil orang-orang letter lijk mengasosiasikan dirinya seperti iklan2 itu kalo mo dianggap modern, mobile, executive ya harus ngecek kerjaan lewat hape, harus nyuruh sekertaris lewat hape ahiehiehiehi… dunia oh dunia!

ada saat saya mematikan ponsel saya atau menyetelnya “flight mode”๐Ÿ™‚

thx god, kadang masalah bawa berkah. akibat jaringan buruk, saya tidak bisa dihubungi. tapi belakangan soal ini malah merugikan.๐Ÿ™‚

Pit, we can always give clear cut and draw a line abt the timing. I do that, except during my emergency project. It would be different if the mobile phone and/or SIM Card belongs to the office, we have no choice than to switch it on 24/7. In any case, we can always refuse to use office prop and rather be on our own management.

Anyway, how’s the three projects going ?

Postingannya menarik sekali.

Saya pribadi bukan termasuk “korban” dari telephone genggam ini karena seringnya telephone saya matikan. Hanya apabila sumai saya sedanh tugas LN baru telphone on siang malam, itupun jarang berdering..

ortu gw sering matiin HP kalo lagi ga mau diganggu. tapi gw kayaknya susah ya.. unless lagi ‘asik2an’ sama suami, kayaknya HP gw hampir ga pernah mati tuh. yg banyak masuk bukan telpon, tapi SMS. skrg sih udah berkurang dibanding pas jaman masih single dulu. kayaknya gw cocok dgn gelar “Mrs Jempol” deh๐Ÿ˜€

true true but sometimes those personal efficiency juga bisa dilakukan melalui handphone.

huh? am I in the rite track?
soti deh kalo kagak nyambung…heheh

bagi aq seh telp ggam itu, sesuatu yg m’ggam qt.
kmn qt pergi,aktv2 yg qt lkuin.tlpn ggm sllu
bunyi ga tau waktu.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: