Adu kerbau

Posted on April 21, 2006. Filed under: Pribadi - Personal |

Perayaan 17 Agustus di sebuah kantor perwakilan pemerintah Indonesia.

Dua orang muda saling memperkenalkan diri.

A: Papa saya kepala/direktur/pejabat …. Papa kamu siapa? Kerja dimana?
B: Orang tua saya hanya pegawai negeri biasa di sebuah kota kecil.
A: Oh….

(Interpretation:
A: I am part of the elite group. Are you my kind of people?
B: I am a commoner. Shall I call you the fruit of my shire, you little stuck-up boy?
)

A: Kamu kuliah di [sini] bukan?
B: Oh bukan, saya kuliah di [sana].
A: (dengan nada sedikit kaget) wah, kok bisa? Bukannya susah sekali untuk bisa diterima di [sana]?
B: Yang bener? Saya rasa tidak tuh. Saya langsung diterima tanpa ada masalah.

(Interpretation:
A: Do you go to this fancy and expensive school where my kind of people go?
B: Nope, I am in the prestigious school that refuses your kind of people's applications
)

Arogansi dibalas dengan arogansi.

Ah, mungkinkah suatu hari saya akan menjadi seorang yang bisa berlapang dada? Menerima tamparan di pipi kiri malah memberikan pipi kanan. Bukannya langsung menendang dengan sekuat tenaga, berusaha menyakiti yang lain lebih daripada sakit yang saya derita.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

9 Responses to “Adu kerbau”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

mestinya lapang pipi .. biar waktu ditampar nggak terlalu sakit ..🙂

This post has been removed by the author.

ini artinya kamu itu anak muda gitu ya pit? hehehehe..

defensive adalah salah satu kemampuan paling mendasar manusia sepertinya. yet kita juga punya kemampuan untuk tidak memilih membalas arogansi dengan arogansi😉

wah, perlu itu pembalasan kekuasaan dengan intelegensia

Nana: Kamu suka gitu deh, masak membohongi diri sendiri biar ngerasa masih muda kagak boleh sih? hihihi..

Betul ‘na, harusnya saya lebih bijaksana ya…tapi kok ya susah sekali. Mungkin suatu saat bisa bener-bener dewasa. *ragu-ragu*

Hericz: Tapi yang lebih baik kalau dari awal tidak ada arogansi toh? Saya jadi malu sendiri sehabisnya.😦

Hayyah..mas Johan ada-ada aja nih. Sampe salah bacanya, saya sangka lapang dada, ternyata lapang pipi. Iya..ya, kalau lapang pipi mungkin jadi nggak terlalu sakit. Tapi pipi saya sudah tembem lho, kalau dibikin lebih lapang bisa-bisa disangka tampah..hihihi

hmmm, kayaknya gw jg suka menjawab pertanyaan org2 belagu kyk gitu dgn nada2 sengak ……… serasa deja vu hehehe. btw nice blog

Menurut gua arogansi adalah salah satu cara paling pasaran untuk menutupi ketidakpercayaan diri, takut tersaing orang lain dengan melepas napas lega yang aromanya merendahkan.

Memang telak kesombongan yang bisa ditampar oleh kesombongan. Tapi kadang, for me, lihat2 dulu siapa yang arogan, sometimes it is not worth it to be emotional, jauh lebih elegan untuk tetap low profile. In the long run, sikap ini bisa lebih berkelas🙂

Soal Kuliah, memang harusnya B jawabnya gimana ? Menurut aku sih jawaban kayak begitu tidak terasa menampar deh.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: