Bahasa saya, bahasa kamu

Posted on May 13, 2006. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions |

Ah..seandainya ada mesin waktu doraemon, saya ingin kembali ke tahun 1996. Kembali ke bangku kayu butut salah satu ruangan di ITB dan melingkari jurusan sastra dengan pensil 2B di lembaran formulir UMPTN.

Semakin lama saya berkutat dengan dunia ilmu politik dan memandangi berbagai tulisan tentang pemerintahan dan masyarakat, saya pun semakin jatuh cinta dengan yang namanya bahasa, atau politik bahasa untuk lebih tepatnya. Kalau yang cinta akan teori kelompok, pasti cinta juga akan politik bahasa. Politik bahasa karena bahasa diciptakan oleh manusia, untuk kepentingan manusia, dan berkembang bersama dengan manusia pencipta dan penggunanya. Terlepas dari ketidakaliman saya, saya percaya yang namanya ciptaaan pasti dilandasi oleh suatu ideologi atau tujuan. Begitu juga dengan bahasa.

Bahasa yang manusiawi tidak terlepas dari kebutuhan manusia akan sosialisasi dan ambisi manusia untuk menguasai yang lain. Sayang, terlalu sering bahasa dianggap sebagai normalitas, dan penggunaannya pun dilakukan tanpa dasar pemahaman. Bahasa dianggap sebagai paket kehidupan yang memang sudah dari sononya, dan ketika suatu bahasa disisipi oleh ideologi tertentu, para penggunanya pun menelan si ideologi tanpa mengecap terlebih dahulu.

“Ahh…sok intelek loe pit. Kok cara orang ngomong aja eloe pikirin.”

“Iya lah gue pikirin, wong cara orang ngomong itu sangat mencerminkan identitas orang tersebut. Baik identitas yang memang melekat, yang ingin diperlihatkan, ataupun identitas yang sedang dia bangun.”

Terlalu abstrak? Saya kasih contoh.

Pasti kuping anda sekalian yang tinggal di kota besar sudah terlalu sering mendengar kalimat yang setengah ular setengah belut. Setengah Indonesia setengah Inggris. Para novel remaja ringan pun dipenuhi oleh gaya berbicara seperti ini. Fenomena apakah ini? Fenomena proses pemelukan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua? Saya pesimis.

Paling pantas disebut fenomena pembentukan suatu kelompok yang menganggap dirinya pintar dan berpengalaman dalam bertutur bahasa. Kan keren kalau menyisipkan kata-kata dalam bahasa Inggris, biar kelihatan cerdas dan lebih tahu begitu.

Ahh..ideologi pembentukan citra diri metropolitan. Muak saya.

Ilmu yang setengah-setengah lebih buruk daripada tidak tahu sama sekali. Setengah ini setengah itu, tapi tidak ada yang dikuasai sama sekali. Untuk apa? Yang ada malah kerancuan. Pembelajaran bahasa pun jadi kacau, pengucapan tidak diindahkan, dan otak pun tidak mau diajak untuk total dalam berbahasa.

Sebelum ada yang protes, kritik ini sudah saya ajukan ke diri saya sendiri. Dan saya sudah merasakan ruginya berbahasa setengah-setengah, atau kalau pakai istilahnya macchi, franco-anglais. Kemampuan bahasa Inggris saya menurun dengan drastis, dan kadang kosa kata bahasa Inggris lenyap tergantikan oleh bahasa Perancis. Malu sekali rasanya ketika saya harus berbicara dalam bahasa Inggris dan menyisipkan kosa kata dalam bahasa Perancis. Sedangkan kemampuan bahasa Perancis saya sama sekali tidak bisa dibanggakan.

Yang lebih parah lagi, sikap pembentukan kelompok menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris memberikan citra buruk bagi bahasa Inggris sendiri. Bahasa Inggris dicap sebagai bahasanya orang sok, bahasa mereka yang seperti kacang lupa sama kulitnya. Kacau sudah. Bahasa pun tercoreng oleh penggunaannya yang dilandasi ideologi tertentu.

Salah satu anggota milis yang saya ikuti pernah melakukan percobaan sosiologi. Dia dan temannya bercakap-cakap dalam bahasa Inggris di dalam sebuah angkutan kota. Ternyata benar firasat dia, penumpang lain pun kemudian berkomentar sinis akan percakapan bahasa Inggris mereka. Dengan menggunakan bahasa daerah minang, penumpang lain mengutuk si anggota milis ini sebagai orang yang sok. Untungnya (?) si peneliti nekat ini bisa berbahasa minang, jadi mengertilah dia akan kutukan penumpang lainnya tersebut.

Sikap antipati seperti ini yang menarik bagi saya. Kenapa sampai berbahasa Inggris diidentikkan dengan keangkuhan? Ya jawabannya ada pada penggunaannya yang asal-asalan tadi. Pertanyaan kedua, kenapa masyarakat awam sampai antipati dengan bahasa Inggris? Jawabannya, ketidaktahuan akan berbuah ketakutan, ketakutan akan berbuah kebencian. Jadi bahasa Inggris dibenci karena masyarakat umum tidak bisa mengerti bahasa Inggris, sedangkan pengetahuan bahasa Inggris dianggap hanya bisa didapat oleh mereka yang memiliki uang dan sarana, para kaum elit.

Kondisi struktural yang membatasi penyebaran bahasa Inggris dan penggunaannya dalam proses pembentukan kelompok para orang keren, membuat bahasa Inggris dibenci tapi ingin dimiliki. Kontradiksi, yang menurut saya, patut disadari oleh mereka pembenci dan pencinta bahasa Inggris.

Jadi jangan heran ketika saya langsung melotot dan tersinggung berat ketika salah satu teman saya berkomentar,
“Ah Pit, eloe lama di Eropa kok cara ngomongnya masih sama aja sih?” (tidak kebarat-kebaratan, red)
Langsung saya semprot,
“Eloe mau gue ngomong pake bahasa Perancis apa?!”

Saya cinta bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, jadi saya pun mencoba menghargai keduanya dalam penuturan saya. Lagipula saya menolak untuk dimasukkan ke dalam golongan para gadis/wanita metropolitan, saya tetap sadar kalau saya adalah orang kampung.

Lain lagi halnya dengan mereka yang mencampuradukkan kedua bahasa karena sudah terbiasa. Ini lebih gawat lagi, apalagi kalau mereka mengidap kebiasaan ini secara tidak sadar. Sadarkah mereka kalau kebiasaan ini bisa membiasakan otak mereka untuk rancu dalam berbahasa? Kerancuan yang kadang menghambat perkembangan kemampuan berbahasa mereka. Bagaimana tidak menghambat kalau otak tidak dipaksa untuk meletakkan kosa kata dalam bahasa yang berbeda ke dalam kotak yang berbeda pula?

Saya ambil contoh diri saya sendiri saja. Pernah sekali waktu saya belajar bahasa Perancis dan Jepang secara aktif (les, red) dalam waktu yang bersamaan, dan tetap belajar bahasa Inggris secara rutin. Saya sering merasa kebingungan ketika harus mengingat kosa kata dalam setiap bahasa. Otak saya terkadang letih dan menjadi ‘lupa’. Nah, kalau saya menyerah pada keletihan saya dan hanya menggunakan kosa kata yang terlintas di kepala, kosa kata yang saat itu ‘terlupakan’ akan benar-benar terkubur dan terlupakan.

Untuk mereka yang sadar dalam berbicara campur-campur sih masih mendingan, namanya kan pilihan. Walau pilihannya tersebut didasarkan oleh satu ideologi yang berbeda (dari keren-kerenan), tetap saja mereka akan dipandang termasuk ke dalam kelompok tersebut. Pada akhirnya kemungkinan akan ikut memperburuk citra bahasa Inggris.

Atau ada mereka yang sudah lama melanglang buana dan menggunakan bahasa Inggris sehari-hari. Kosa kata Indonesia pun sudah usang dan terlupakan. Mereka kadang lebih nyaman berbicara dalam bahasa Inggris atau campur aduk seperti gado-gado. Saya tidak patut protes dalam hal ini. Tapi sayangnya tercorengnya bahasa Inggris pun membuat mereka ikut tercoreng.

Generalisasi. Pilihan mudah dalam memahami mereka yang berbeda. Hasilnya, ya tetap saja pelabelan sebuah kelompok, terlepas apakah pelabelan itu tepat sasaran atau tidak.

Tapi jangan salah, tidak hanya bahasa Inggris yang ditempeli ideologi tertentu dalam penggunaannya. Bahasa daerah, bahasa Indonesia, bahasa Arab dan bahasa Latin juga sama.

-bersambung-

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

23 Responses to “Bahasa saya, bahasa kamu”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

aha! ini toh yang jij refer this afternoon! well i sih tidak biasa jah berbahasa inggris. you knowlah orang-orang suka memandang sinis dipikirnya i ini sok gaya kebarat-baratan. mwihihihi..

jadi inget seorang teman bule yang naek angkot terus beberapa orang diangkot itu ngobrolin dia pake bahasa jawa, dia diam saja tapi pas turun dia bilang gini : monggo, kethekipun mandap rumiyin bahasa jawa yang cukup harus yang artinya ini monyetnya turunb dulu hahahahahaha di angkot dia direfer sebagai monyetπŸ˜€πŸ˜€ that friend of mine sangat SANGAT bisa berbahasa jawa dengan baik dan benar.

nyambung ngga sih komen eke? ah eke confused nih.

Jeng nana, kometar dikau nyambung kok jangan kuatir..hihihi…

Pasti itu yang di angkot mau mati malu rasanya. Kasihan sekali temanmu itu ‘na, kok ya beda warna kulit bisa membuat seorang dihina seperti itu.

Ahh…bahasa memang kadang dijadiin tameng lemah bagi mereka yang terlalu takut.

Saya berusaha sebisa mungkin menghindari pencampuradukkan bahasa, makanya kalau saya bikin lowongan selalu ada syarat: fasih bahasa IndonesiaπŸ˜€

“bahasa memang kadang dijadiin tameng lemah bagi mereka yang terlalu takut”
Kita memang lebih mungkin takut pada sesuatu yang tidak kita ketahui daripada yang kita kuasai dengan baikπŸ™‚

Soal ngobrol di angkot pake bahasa asing, dulu aku juga pernah dapet tatapan sinis dari penghuninya. Bukan soal keren-kerenan sih, masalahnya temen yang ngajak aku ngobrol pake bahasa Inggris emang baru pulang dari melanglang dunia. Masih kagok make bahasa Indonesia setelah lama pindah-pindah negara. Bahasa Indonesia yang dia pake pun rapi jali ala EYD. Kalo dipake di angkot, sama aja diliatin juga kita. SUSAH.

Penguasaan bahasa juga berpengaruh. Ada beberapa kata bahasa Inggris yang kita tahu betul maksudnya, tapi sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Jadilah bahasa gado-gado. Kalo udah begini, ya sebodo deh orang mau ngerumpiin apa :p

Saya bertahun-tahun di LN, tapi tidak mengalami kesulitan untuk tetap berbahasa Indonesia ketika pulang. Paling hanya kata ekspresi saja yang sering keceplosan keluar. Di dalam memilih kata bahasa Indonesia relatif saya tidak mengalami masalah.

Menurut saya, bagi mereka yang mengalami kesulitan kembali berbahasa Indonesia tersebut, hanyalah karena faktor kemalasan saja.

Dalam penggunaan bahasa gado-gado sehari-hari, di Jerman dokter anak kini menyarankan orang tua (bila bukan penutur asli) tidak berbicara dalam bahasa yang bercampur-campur kepada si anak. Karena hal ini akan membuat si anak lambat dan kurang bagus dalam perkembangan kemampuan bahasanya.

Mencampurkan bahasa Indonesia itu penting, karena Bahasa Indonesia itu nggak cool!

Hihihi

^^

moi je parle en peu d’Englizzz and a bit of Fronse bien sur.

pipit, yg ngomong/ nulis campur-campur emang kadang buat gaya, kdg males, kdg terpaksa. hehee, saya selalu usahakan bicara yg konsisten dlm bhs tersebut. prof de FR saya juga meringis kalo kami langsung adopsi terminologi ENG tanpa mau berusaha cari tau padanan FR-nya yg mungkin tersedia.

alors
a+

Lita: Itulah. Tapi untuk mengatasi ketakutan itu, kita harus mengakui dulu kalau kita takut. Sudah saatnya kita berhenti untuk bersembunyi di balik berbagai tameng, dan bergerak maju untuk memahami perbedaan.

Hedi: Belum pernah lihat iklan lowongan kerja semacam itu. hihihi…Kirim contohnya dong.πŸ™‚

IMW: Saya setuju sekali. Memang kadang susah menyetel otak untuk kembali berpikir dan berbicara bahasa Indonesia, tapi kalau berusaha pasti bisa. Wong semuanya ada di tabungan memori kok.

Di sini juga sudah sering dibahas mengenai pembelajaran bahasa bagi anak yang orang tuanya berbeda bangsa. Jenewa penuh dengan mereka yang campuran. Memang sangat dianjurkan untuk berbicara dalam kalimat yang konsisten, anak pun akan bisa tumbuh menjadi seorang yang bilingual, atau trilingual sempurna.

Hericz: Kamu pinter banget deh…hihihi..postingannya bagus sekali.πŸ™‚

Macchi: Iya nih. Kadang gue juga suka campur aduk Inggris dan Perancis. Lagian teman-teman semuanya bilingual, jadinya nggak ada paksaan untuk konsisten dalam berbahasa. Sering banget pindah-pindah dari satu bahasa ke bahasa yang lainnya kalau ngomong.

*malu*

—->Ilmu yang setengah-setengah lebih buruk daripada tidak tahu sama sekali


percaya ngga percaya, otoritas linguistic QuΓ©bec lebih aktif daripada FR. Mereka proaktif mencari padanan podcasting, crashtest, etc … menurut journal di kelas. Tapi Quebecois juga punya banyak ‘mots speciaux’ ^^

tapi bagaimana kalo tercampur adukkan pemakaian bahasa itu disebabkan oleh kebiasaan?

Saya bisa 2 bahasa selain indo. Dan dua2nya pun dalam kategori basic banget..😦 tapi gitu aja udah suka gak sengaja kecampur aduk.. apakah saya “sok” dan “nggak total”?

tanpa bermaksud sok ngenggresh, saya sendiri selalu perlu waktu untuk bisa berbahasa indonesia secara total di hari-hari awal saya pulang kampung.

dulu, waktu masih tinggal di new york saya tak perlu melakukan hal tsb, karena saya banyak bergaul dengan teman-teman indonesia. tapi ketika menikah dan diboyong kemane-mane, teman-teman indonesia saya bisa dihitung dengan jari. keadaannya menjadi lebih sulit ketika suami yang nggak ngerti bahasa indonesia itu menjadi satu-satunya makhluk yang bisa saya ajak ngobrol selama hidup nomaden.

sebenarnya selama ini saya selalu berusaha konsisten untuk menulis posting dalam bahasa indonesia di blog. kalau ada kata bahasa inggris nyelip, jujur suka mangkel juga. tapi akhir-akhir ini saya sudah gak terlalu peduli sih. apa yang ada di otak ya saya tulis saja. mudah-mudahan hal tsb bisa dipandang sebagai cerminan otak saya yang kemampuan bahasanya jauh dari sempurna dan campur aduk kaya cendol, ketimbang sok-sokan.πŸ™‚

waduh, cilaka. lha saya sampe skrg msh suka mencampur-adukkan bhs indonesia, bhs jawa & sedikit2 bhs sunda (terutama makiannya, hehehe …). bs gawat buat pendidikan anak saya dong ntar. dik pipit apa punya formula yg jitu utk bikin sembuh ini penyakit ?

Pipiet, saya dulu tinggal di Jakarta 10 tahun lebih tapi tidak pernah bergeming untuk mencapur bhs Indonesia dan bhs Betawi..bahasa gaul teman2 saya menyebutnya.Sampai sekarangpun saya masih berbahasa jawa kalau pulang dan krama inggil ( bhs jawa yg sopan) kepada orang tua dan yg lebih tua) dan berbahasa Indonesia kepada orang lain yg tidak mengerti bhs jawa tentunya.

Meskipun keseharian saya berbicara dalam 2 bahasa, Inggris & Italy ( tidak sebagus macchi…), saya tetap mengingat bhs Indonesia dan Jawa.

Postingan yang bagus..seperti biasanya. Saya tunggu kedatangannya di jalan2 sempit di Italia….

Ardho dan Loucee: Tulisan saya tidak bermaksud mengkategorikan mereka yang kadang suka mencampur kosa kata ke dalam group keren-kerenan. Saya hanya berusaha menggambarkan realitas masyarakat saja.

Memang benar, tidak semua mereka yang mencampuradukkan bahasa itu karena mereka sok dalam berbahasa. Tapi karena ada praktek penggunaan bahasa dengan ideologi seperti ini membuat masyarakat melakukan generalisasi. Jadi seperti karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Bahasa Inggris pun jadi terhina.

Saya rasa berbahasa itu bebas-bebas saja. Kan namanya hak manusia. Yang ingin saya tekankan, kadang kita tidak berusaha memahami akibat atau sebab dari gaya berbahasa kita tersebut. Itu saja.

Johan: Saya setuju sekali. Bahasa itu ciptakan dan rekayasa sosial, dan kita sebagai bagian dari masyarakat sosial itu bisa berperan aktif. Lagipula, saya rasa bahasa Indonesia itu sudah sangat kaya. Saya sendiri yakin masih banyak ribuan kosa kata dalam bahasa Indonesia yang tidak saya ketahui.πŸ™‚

Macchi: Karena mereka sadar akan pentingnya politik bahasa. Sebagai minoritas mereka tidak mau bahasa Perancis, yang adalah bagian dari identitas mereka, tertelan oleh bahasa Inggris.

Kata-kata aneh, emang banget. Saya pernah ngikik waktu mendengar mereka menjawab ‘bienvenu’ sebagai balasan untuk ‘merci’. Terjemahan literal dari ‘you are welcome’. hihihi..πŸ™‚

Mas Adi: Wah…saya bukan dokter yang bisa kasih resep Mas.πŸ™‚

Tapi menurut saya mengontrol totalitas berbahasa itu tidaklah terlalu susah. Cukup berhati-hati saja.

Setiap saya pulang kampung, biasanya saya jadi agak lambat dalam berbicara. Karena setiap kata saya cerna atau terjemahkan dulu dalam otak, tapi tidak ada masalah kok.

Bukannya lebih baik lambat asal selamat?πŸ™‚

Tari: Kagum deh saya. Ya memang bagusnya seperti itu. Berbahasa sambil memperhatikan konteks pendengar.

Saya rasa, kemampuan untuk berganti bahasa secara total dalam konteks yang berbeda adalah salah satu ciri sempurna atau mahirnya kemampuan berbahasa seseorang.πŸ™‚

Berbicaralah dengan bahasa yang bisa dimengerti audiencenya.

Fleksibel saja. Tapi tetep konsisten.

Maksudnya kalo memang harus berbicara dengan bahasa Inggris, ya gunakan bahasa inggris yang baik. Demikian pula bahasa manapun.. bahkan, sampai bahasa bayi dan bahasa computer (pemrograman pada hakekatnya adalah bahasa).

Oh iya, saya ngeblog pake bahasa Inggris bukan karena ingin belajar bahasa Inggris atau karena ingin dianggap “wah, pinter”. Bukan itu.

Pak Karno belajar bahasa Belanda dengan satu tujuan kan?πŸ™‚

Seperti biasa, media punya faktor besar. Contohnya, Iklan Master Card versi Indonesia.

artikel yang hebat!

1. sejujurnya saya masih terus belajar berbahasa indonesia

2. bagi saya bahasa adalah alat kesadaran dan bagian dari pengorganisasian benak

3. kadang saya kerepotan jika menjawab pertanyaan orang asing mengapa tuturan lisan/tulis bahasa indonesia orang tertentu kadang “membingungkan”, terutama dalam struktur kalimat yang bisa menimbulkan tafsiran ganda

4. bahasa memang menyangkut “ideologi” (walah!). ada aspek psikolinguistik dan sosiolinguistik di dalam berbahasa. kita bisa menebak mengapa majalah & koran tempo menggunakan “bekas” dan bukan “mantan”, bahkan dalam tajuk rencananya pernah memakai (maaf) “lonte” dan bukan “pelacur” atau “psk”.

5. jaklish atau janglish (jakarta english, hehehe) maupun indlish (indonesian english haha!) saya terima sebagai bagian dari ragam percakapan. “damned! hubby gue punya affair!” kata seorang teman.πŸ˜€

Andry: Itu dia! Harus dilihat pemirsanya. Fleksibel dan konsisten memang intinya.

Kalau harus ngomong bahasa Inggris, ya bisa cas cis cus dengan fasih. Tidak hanya sepotong-potong.

Hemmm…Soekarno’s analogy. Using English to present one’s ideal to the English speaker. Right on!πŸ™‚

Cecil: Senangnya kalau semakin banyak orang yang kritis seperti kamu. Salam kenal.πŸ™‚

Kere Kemplu: Harus mulai dari mana ya Om. Komentar Om patut untuk dijadikan posting tersendiri.πŸ™‚

Itulah Om. Pentingnya bahasa sayangnya jarang diindahkan oleh pemakainya sendiri. Pengorganisasian benak; penuturan ide dan prinsip; pernyataan sikap dan ideologi; pemujaan, penghujatan dan penghakiman beberapa kelompok manusia tertentu; ini semua hanya sebagian fungsi bahasa.

Kalau masalah jaklish, saya setuju dengan Om. Itu adalah ragam percakapan. Tapi yang saya sesalkan kalau ragam percakapan ini malah menghancurkan kemampuan berbahasa seseorang.

Kalau di jalan-jalan kumpul-kumpul bisa pakai kata-kata bahasa Inggris campur aduk dengan bahasa Indonesia, ketika harus ngomong bahasa Inggris dengan baik dan benar, gagap. Dan ketika harus bisa berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar juga bingung. Kasihan bukan?

Belum lagi kalau jaklish jadi standar sosial. Kalau tidak pakai jaklish berarti kampungan, dan tidak patut masuk ke golongan ‘mereka’, para metropolis.

Nah lho? Apakah sikap dan mentalitas seperti ini patut dibanggakan dan dilestarikan? Masih kurangkah berbagai ragam VIP, sampai harus menciptakan kelompok VIP dalam berbahasa?

wah, salut deh sama semangat nulisnya… panjang juga, tapi (jujur) bagus banget sampai tergoda bwt ngasih komen (comment; nah lho?!?)mo crita; Suatu hari minggu saya makan siang di resto fesfut dan duduklah dua orang remaja putri di depan saya yang mengeluh karena besok mereka ada ulangan B.inggris sambil terus mendumel pun berlanjut dengan (maaf) menjelek2kan gurunya (lho???) jadi benar adanya omongan kamu kalo nggak tau = takut = benci. Dan soal menggunakan b.inggris dibilang sombong dan dari kalangan elit (menurut saya nggak juga). Saya mengambil contoh bapak saya, dia adalah seorang pelaut jadi mampu menggunakan banyak bahasa is a must dan beliau pun menginginkan saya untuk dapat menguasai (minimal) beberapa. tapi kalo bisa kebanyakan (saya teringat saat jalan bersama bapak ke suatu tempat) kadang2 bisa aneh juga… beliau meminta saya untuk mengembilkan sesuatu dari mobil, tapi nama benda yang diinginkan tidak keluar dari bibirnya (?!?!?!) beliau pun terdiam dan kembali duduk leaving me standing there with the what-the-f**k look. oh ya, pesan dari si bapak, tahun 70an mampu berbahasa inggris adalah sesuatu yang Luaaaaar Biasaaaaaaaaa tapi sekarang zaman sudah berubah, mampu menggunakan bahasa inggris (saja) serasa belum cukup due persaingan yang semakin ketat dan makhluk hina ini pun masih belajar, belajar, dan belajar lagi.

Saya selalu menanamkan pada murid-murid kecilku di SD, bahwasannya belajar bahasa Inggris itu, supaya kamu bisa bercerita pada mereka bahwa saya itu orang Indonesia dan tunjukan pada mereka budi pekerti yang luhur dengan bahasa mereka.

Wah ga nyangka juga gue, masalah bahasa aja bisa rame juga…….Menurut gue sih sebetulnya tinggal sesuai kebutuhan aja. Contoh, bahasa novel menurut gue sih sah2 aja tuh campursari indo-inggris, yg jelas kan tulisan itu kan ekspresi diri jadi ya harus bebas! Free gitu loh! Simple kan!(tuh udah mulai campursari lagi dech!)

Menurut saya, dalam konteks informal zaman sekarang ini menggunakan bahasa campur-campur maupun sebaliknya sepanjang lawan bicara kita mengerti apa yang kita maksudkan sudah menjadi suatu kebutuhan…..dunia sudah “semakin kecil” dan teman kita pun sudah beragam-ragam kultural dan pendidikan nya, namun jangan lupa, sebagai mahkluk sosial salah satunya dalam berbicara kita juga harus memperhatikan situasi kondisi/lingkungan dimana kita berada…

apabila di Indonesia, budaya indonesia yang beragam jangan dipandang dengan “kacamata tertentu” saja, misalnya dengan mengartikan suku bangsa tertentu memandang sok/sombong terhadap orang indonesia pemakai bahasa inggris didalam angkutan kota sebagai buah ketakutan dan kebencian, ketidak tahuan…fakta menunjukkan ada suku bangsa tertentu yang kebenciannya secara umum sangat mendalam terhadap sesuatu yang berbau kebarat-baratan, biasanya suku bangsa ini adat istiadat didaerahnya sangat kuat dan pernah dijajah oleh bangsa barat, yang tentu saja selama dijajah budaya penjajah ini menjadi dikenal baik oleh mereka dan dirasakan banyak negatifnya, jadi mereka bukan sama sekali tidak tahu lalu berbuah takut dan benci…melainkan karena “sangat mengetahui” namun tidak menyukai apa yang telah dia ketahui dan kemudian menjadi benci.

Kita tidak persoalkan lagi mengapa menjadi benci sebab mengenai ini sudah banyak dibahas dalam buku sejarah perjuangan bangsa baik lokal maupun nasional…lihatlah lagi apa yang telah dilakukan bangsa penjajah pada kaum pribumi saat itu… yang jelas, zaman penjajahan dulu golongan orang yang memakai bahasa asing di Indonesia adalah bangsa penjajah (belanda, inggris, perancis, portugis dll) yang dengan angkuh dan sombongnya menganggap penduduk pribumi indonesia terkebelakang, kelas teri, dan bangsa rendahan bahkan memperbudak, yang kemudian dengan kejam mereka “rampok bumi pribumi habis-habisan”….kaum penduduk pribumi sebagai korbannya -yang dalam berbahasa menggunakan bahasa daerah- sangat menderita saat itu…itulah sebabnya di indonesia penggunaan bahasa asing diatas angkutan umum -yang notabene diisi “rakyat kecil”- oleh sesama anak muda indonesia yang secara serampangan dianggap sebagai suatu kesombongan sebagaimana penjajah -pemilik asli bahasa itu dulunya.

Harap diingat, indonesia baru merdeka 60-han tahun sehingga jangan heran walau sekarang zaman globalisasi dan semua aspek hampir jadi kebarat-baratan namun budaya kebencian itu masih melekat kuat dihati sanubari bangsa ini.

Lain halnya jika anak muda yang menggunakan bahasa inggris dalam kontes debat atau dalam pidato ilmiah dan sejenisnya, masyarakat paling awam pun saat ini tidak akan ada yang mencap mereka sombong atau angkuh bukan? apalagi jika digunakan dalam lingkungan pendidikan dan sejenisnya.

Ohya, saya pernah berbicara dengan sopan dalam bahasa inggris, italia, perancis dan jepang kepada berbagai wisatawan asing yang berkunjung ke indonesia antara lain juga dalam angkutan kota dan bahkan didaerah Minang namun saya tidak pernah dicap sombong atau angkuh oleh masyarakat awam yang satu angkutan dengan saya melainkan saya dipandang kagum oleh mereka dan bahkan ada bapak dan ibu yang bertanya, dimana saya belajar bahasa asing tersebut?

Satu lagi, otak manusia adalah suatu mahakarya dahsyat dari sang pencipta sehingga Haji Agusalim misalnya, salah satu mentri Indonesia zaman Soekarno, hingga usia 20-han beliau menguasai hingga 28 bahasa dan terbukti otak beliau tidak “error” atau “rancu”, buktinya pada usia diatas 30-han kemudian beliau jadi menteri dan sangat berjasa bagi kemerdekaan bansga ini, bukan…

Kemampuan otak manusia untuk berbahasa ibu/mother tongue adalah hingga usia 5-7 tahun, dan sebelum usia 12 tahun malah sudah harus cepat-cepat dikenalkan dengan bahasa asing supaya lidahnya bisa kayak native speaker bahasa asing tersebut, dan usia diatas 20 tahun memang kemampuan otak untuk “switching” bahasa satu dengan lain jadi melambat-karena proses penuaan sel-sel otak sudah dimulai, akibatnya manusia bilingual-threelingual and so on usia 20 tahun keatas sering macet kosakatanya…akibatnya bahasa digunakan campur-campur….itulah sebabnya saya mendukung penggunaan bahasa campur-campur dalam konteks informal karena tiada guna menentang kodrat alam bukan…kegiatan berbahasa itu adalah sebuah seni, dan bukanlah matematika yang serba teratur.

Demikian saja, saya pamit dulu…ohya kalau mau tau lebih banyak mengenai kedudukan bahasa dan otak, sejarah penjajahan dengan bahasa dan semua seperti yang saya uraikan ini bukunya ada di perpustakaan pribadi saya-silahkan mampir atau kalau mau lebih mudah silahkan “googling” saja…Ciao!


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: