Kesopanan: tameng rasisme

Posted on August 10, 2006. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions |

Banyak teman dan keluarga saya di Indonesia yang sangat kuatir akan masalah rasisme ketika saya memutuskan untuk tinggal di negeri orang. Biasa, mereka sudah termakan berbagai bahasan media tentang masyarakat Eropa (kulit putih) yang kadang kurang obyektif atau berat sebelah. Atau sudah menelan bulat-bulat “apa kata orang”.

Setiap saya pulang, saya pun ditodong bertubi-tubi untuk cerita tentang bagaimana orang Swiss memperlakukan saya, seorang Indonesia yang berkulit coklat, berambut hitam, dan bermata hitam. Sepertinya mereka semangat sekali untuk membuktikan kepercayaan mereka kalau para kulit putih itu pasti rasis terhadap orang Asia.

Jadi sewaktu saya dengan polosnya bilang kalau saya tidak pernah menerima perlakuan rasis dari orang Swiss atau orang Eropa lainnya selama saya tinggal di Jenewa, penonton langsung kecewa. Ada yang ngotot dan menuduh saya bohong, mau menutup-nutupi “kejelekan” masyarakat di sini; tapi ada juga yang akhirnya mau berusaha menerima kenyataan kalau yang namanya prejudice itu tidak selamanya benar.

Lucunya, sewaktu saya ngobrol-ngobrol dengan orang Indonesia di sini, kebanyakan dari mereka mengeluhkan sikap dingin dan ketus para orang Swiss. Bahkan ada yang mengutarakan “kerasisan” orang Swiss terhadap orang Asia. Kembali, sewaktu saya dengan manisnya bilang kalau masyarakat Swiss memperlakukan saya lebih baik dari masyarakat di Indonesia, semua langsung terpana.

Kok bisa?

Dari lima tahun pengamatan saya sehari-hari, akhirnya saya mendapatkan satu kesimpulan. Itu karena orang Asia enggan mau mencoba untuk berbahasa perancis dengan baik dan benar.

*Halah…kayak EYD aja.*

Lebih parah. Kalau di Indonesia tidak ber-EYD tidak akan mengurangi kesopanan. Kalau di sini, salah menggunakan konjugasi atau kata ganti persona bisa sangat kurang ajar. Banyak dari orang Indonesia yang saya kenal di sini malas mau untuk belajar etika berbahasa. Alasan mereka, yang penting saya bisa dimengerti, masalah kehalusan atau kekromo-inggilan bahasa itu urusan buncit. Dan kadang di antara mereka, kesadaran akan etika bahasa tidak ada, karena tidak ada yang memberi tahu, atau karena tidak diberitahu di tempat les bahasa.

Dalam hal ini saya sangat beruntung. Saya memiliki ibu mertua yang dididik secara keras sewaktu kecil dan memiliki standar kesopanan yang sangat tinggi. Ada yang bilang kolot dan konservatif, kalau saya bilang elegan dan berkelas.

Ibu mertua saya ini yang melatih saya berbagai penuturan salam, terima kasih, permohonan maaf, dan berbagai etika bahasa dalam berbicara dengan orang asing. Suami saya pun sangat memperhatikan masalah penuturan, dan tidak segan-segan mengkoreksi saya dalam setiap penuturan saya.

Jadi saya pun terlatih untuk mengucapkan bonjour dalam memulai pembicaraan dengan pegawai toko, sopir bis, atau siapa pun yang akan bertukar cakap dengan saya. Dalam membeli, meminta informasi, memilih barang, memesan makanan di restoran atau memberikan pilihan saya selalu menggunakan kalimat conditional J’aimerais atau Je voudrais. Tidak pernah saya menggunakan Je veux ça yang sebenarnya adalah penuturan kasar yang kalau di Indonesiakan hampir sama rendahnya dengan preman yang menodong uang.

Sewaktu menerima tawaran pun, seperti “Désirez-vous de la sauce?” (Anda mau sausnya?) Saya pun tidak hanya menjawab Oui tapi dibumbuhi “Si c’est possible. Merci beaucoup.” (Bila memungkinkan, terima kasih)

Dan tentu, tidak lupa saya mengucapkan, bon après midi, bonne journée, dan berbagai ucapan kesopanan penutup lainnya.

Hal-hal kecil seperti ini yang sering diabaikan oleh para mereka yang bukan francophone. Saya sering mendengar orang Asia atau Amerika di depan saya yang memberikan perintah singkat ke pelayan atau penjual. Saya yang mendengarnya sampai malu hati. Sewaktu saya makan siang dengan teman Indonesia saya yang tinggal di sini tiga tahun lebih dulu dari saya, pelayan kafetaria jauh lebih ramah ke saya dan mau meladeni semua permintaan saya. Teman saya itu sampai tercengang mendengar “kefasihan” saya dalam berbahasa Perancis. Terdengar lebih fasih, karena saya tidak hanya memesan makanan, tapi juga berbincang pendek, bertukar phrase kesopanan yang sangat wajar.

Kalimat-kalimat pendek kesopanan tidak akan hanya membuat orang asing lebih ramah, tapi juga membuktikan keinginan kita untuk menghormati budaya tempat kita menumpang. Etika bahasa juga membantu saya untuk lebih berintegrasi dalam sebuah masyarakat asing, karena saya mau berusaha berbahasa seperti mereka. Yang lain pun jadi tidak enggan untuk melupakan “warna kulit” saya.

Satu lagi, saya sering mendapat croissant gratis atau diskon kecil-kecilan.😉

*Kalau sempat, baca juga ini.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

12 Responses to “Kesopanan: tameng rasisme”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Kelihatannya kalo masalah cara bertutur, sopan santun, dan tata krama, sudah bawaan “lahir” ya Pit .. Well, to the extreme, that is. Kalau seorang dari Asia, Amerika, atau belahan Eropa manapun kurang bisa (kurang tahu atau kurang mau ?) bertutur sopan dalam bahasa Perancis, bisa dipastikan dia juga tidak terbiasa bertutur sopan dalam bahasanya sendiri.
Yang saya tahu, ada tiga hal yang sering dilupakan orang tua Indonesia dalam mengajarkan anaknya, untuk bilang “Tolong”, “Terima Kasih” dan “Maaf” … (Please, Thank You, Sorry)
Simple but very meaningful when you have it in your blood to always say those words.

And ehm … not all Swiss are ‘cold’ Pit .. I am with you on that *winks*

nice post! intinya jangan buruk muka cermin dibelah dan rajin2x introspeksi ali ya🙂

a little bit of courtesy always pays🙂

«bertutur sopan dalam bahasa Perancis, bisa dipastikan dia juga tidak terbiasa bertutur sopan dalam bahasanya sendiri.»

SILVERLINES : errr.. ngga juga sih, bagi seorang pemula, baru belajar bahasa Romance, French dan Italian, ada dua forms, seperti kita bilang Bapak, Mas, Ibu, Mbak, ada form
Tu dan VOI (FR)
Tu dan LEI (IT)
yang sopan adalah format yang terakhir, namun kadang sulit dan suka salah konjugasi (krn rumit) saat percakapan kan harus berpikir cepat, maka mereka biasanya bisa ngerti kalo ini orang asing yang baru belajar bhs tsb.

Lain cerita kalo udah bertaun taun membusuk in situ, HARUS bisa formal dan informal tanpa jengah euy!

iya ngga pipit?

Tulisannya bagus. Kayaknya sih, biar bisa survive kita mesti tau juga ya adat ‘kesopanan’ setempat… yg kadang beda banget sm budaya indo. Gue pernah denger, di belanda justru kalo org asing (apalagi yg non-caucasian) pake bhs inggris lebih dihargai. Asumsinya, yg pake bhs inggris pasti kerja di multinasional-c or di univ, alias berpendidikan tinggi. Garing jg…

ADDENDUM

Di Italia, format «imperatif» justru udah dianggap cukup sopan. Emang sih bagusnya bilang, per favore, tapi kadang jarang juga di toko-toko bilang begitu. Krn kata prof gue, imperatif -nya sebenernya bentuk subjunctif, «emotional» moody, hehe, rumit yah. Yang pasti, saat bilang grazie semuanya jadi beres lah.

macchiato

Pipit, bagi dong croissant (gratis) nya atuh.

thank you and sorry -mungkin kata2 sakti mb pipit

mbak Pipit, saya masih belum begitu tau; bagaimanakah kita menentukan sikap kesopanan yg tidak mengganggu. Maksud saya. Klo di Indonesia kan orang2 Jawa suka beramah tamah,”Badhe tindak pundi?” (mo pergi ke mana?) atau apalah nanya2 kabar sbg bentuk keramahan.
Keramahan yg mbak Pipit ceritakan berkisar pada konteks ketika meminta bantuan. Apakah keramahan2 dlm bentuk memberikan kepedulian/perhatian juga termasuk yg dianggap wajar di luar sana?

halo mbak pipit, salam kenal ya.
wah, saya suka tulisan ini dan tulisan tentang tiga kata ajaib. saya sering dengar tapi masih suka kagum aja denger cerita dari orang2 yg biasa menggunakan tiga kata itu. thx buat ceritanya

Salam kenal! Postnya jadi bikin saya mikir… boleh juga tuh di praktekin di Paris. Tp masalahnya, buat saya pribadi, kedinginan org Perancis bukan pada restaurant atau kalau mau beli baguette. Kalau itu biasanya saya tidak ada masalah (apa sayanya saja yang sering tidak peduli dengan sikap mereka?). Masalahnya kalau ada orang tanya jalan ke saya, setelah saya jelasin dengan bahasa prancis yang pas-pasan, mereka gak ngomong “merci” tuh. Apa karena mereka gak paham penjelasan saya ato gimana sih? Saya paling malu kalau lagi ngomong di metro pakai bahasa Perancis. Semua mata memandang ke arah saya, ketauan banget sih bukan orang lokal. Hehe.
Tp tetep, aturan dasarnya adalah, ucapkan “selamat pagi” atau “selamat malam” ketika berjumpa/berpisah, atau “maaf” ketika menyenggol orang lain. Kalau ini dilupakan, bisa2 dijutekin. Hal seperti ini, sepertinya sudah mulai diterapkan di Taxi Blue Bird di tanah air: mereka selalu mengucapkan kata2 pembukaan begitu kita masuk ke dalam taxi mereka. Komentar anonymus di atas ada benernya. Menurut pengalaman saya waktu tinggal di belanda, orang belanda malah makin pengen nunjukin kalau mereka itu bisa bahasa inggris. Kesannya kalau gak bisa bahasa inggris tuh hina banget disitu. Walaupun ada juga yang cuek sih (tapi jarang ya, ketemu ama orang Belanda yang gak bisa bahasa inggris).

Silverlines: Kalau memang terbiasa untuk sopan, akan lebih berusaha mau mencari tahu apakah ada etika berbahasa di tempat lain.

Tentang si Swiss yang *hangat* saya tetap menunggu gosipnya dengan setia.😉

Enda: Terima kasih. Iya, sebelum kita menggerutu akan sikap yang lain ke kita, lebih baik mencari tahu kenapa yang lain bersikap kurang mengenakkan seperti itu.

Mahli: Indeed.🙂

Anonymous: Saya belum pernah tinggal di Belanda, jadi kurang tahu etika berbahasa di sana, baru tahu kalau ada budaya seperti itu. Aneh juga.

Macchi: Hemm…kalau masalah tu dan vous dengan teman konjugasinya, saya rasa tidak harus menjadi masalah yang memberatkan. Bukannya waktu setiap les pasti diajarkan bedanya. Memang cukup membingungkan, tapi kalau kita mau berusaha untuk memahami tata bahasa dan etikanya, kita pun akan terlatih untuk menggunakan kata ganti persona dan konjugasi yang benar. Kalau keceplosan salah pakai tu, biasanya saya langsung minta maaf. Karena sadar saya sudah kurang sopan.

Kalau bahasa Itali, saya menyerah. Nggak ngerti euy. Terima kasih sudah menerangkan.🙂

Ambar: Betul sekali ambar. Singkat tapi pamungkas dalam membangun hubungan baik di masyarakat.🙂

Guntar: Sebenarnya sama saja. Saya sebenarnya suka kurang setuju kalau ada yang membandingkan ‘kaku’nya masyarakat Eropa dengan Indonesia.

Kalau di Indonesia, tiba-tiba menegor ibu-ibu yang kita tidak kenal sama sekali dan beramah tamah, “ibu mau kemana”, yang ditanya pasti mundur sebentar. Lain kalau misalnya percakapan diawali dengan “permisi bu.” Terus dilanjutkan dengan ramah tamah normal, seperti komentar tentang keadaan sekitar, pertanyaan sopan yang menandakan perhatian seperti menanyakan tujuan si teman pembicaranya pun jadi tidak janggal.

Di sini sama saja. Kalau kita sudah kenal, dalam arti sudah sering bertukar “bonjour” dan salam, kita bisa mulai menambahkan “comment-allez vous aujourd’hui?” (apa kabar hari ini?). Kesopanan seperti ini pun tidak akan dianggap janggal atau mengganggu.

Lagipula, bukannya pada saat meminta dan memohon etika kesopanan harus dijunjung tinggi? Sudah meminta kasar pula, semakin ruyamlah..:)

Donkeekong: Salam kenal juga. Terima kasih sudah sudi mampir dan membaca cerita saya.🙂

Sparkling: Saya tidak bisa banyak komentar tentang orang Perancis, takut bias.😉

Tapi mungkin yang menanyakan itu juga orang asing yang bahasanya pas-pasan, atau memang sudah dari sononya kurang sopan.

Kalau saya ketemu sama orang yang tidak tahu berterima kasih seperti itu, saya cukup ngedumel dalam hati; “ils sont tellement mal-éduqué!” (benar-benar tidak berpendidikan) Dan mengingat-ingat untuk tidak ikutan kasar seperti itu.🙂

This article took me back to the time when I was still in high school overseas.

There were a lot of other students from Indonesia and they were always huddling around, not wanting to socialise with the local students. Not to mention that when they spoke to each other, they did it in such loud and obtrusive manner that all at once I felt embarassed for being an Indonesian.

And then they went around saying that the local people there were racists because they kept getting strange looks and they seriously couldn’t figure out why.

*sigh*


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: