Genjot, potret, dan merenung (1)

Posted on August 17, 2006. Filed under: Sehari-hari - daily |

Minggu tanggal 6 Agustus, akhirnya saya memberanikan diri untuk ikutan acara Slow Up, yang merupakan bagian dari acara pesta kota Jenewa tahun ini. Inti dari acara Slow Up ini adalah untuk memenangkan para pejalan kaki, penggenjot sepeda, peluncur sepatu roda, dan siapa pun yang memakai jalan tanpa menggunakan motor bantuan. Jadilah, sebagian jalan kota ditutup bagi para pengendara mobil dan motor untuk kami, para ratu dan raja jalanan sehari.

Dengan modal sepeda sewaan tapi gratis dan helm alien pinjaman saya pun menggenjot sepeda bersama dengan guide pribadi dan setia, Manu. Teman baik yang dalam kehidupan sehari-hari selalu bersepeda dan mengetahui dengan baik cara bersepeda di dalam kota.

Memang ada caranya?

Ada dong. Kalau situ tidak mau diklakson sama tram dan bus (yang bunyi klaksonnya bisa bikin hati saya yang masih bisa dibilang muda ini kejang-kejang) atau diserempet mobil atau motor, naik sepeda tidak hanya modal dengkul tapi juga modal mata dan pemahaman akan lalu lintas. Jalanan di sini dibagi-bagi untuk para pemakainya. Banyaknya jalur dan aturan lalu lintas ini telah membuat saya keder untuk belajar menyetir. Wong di Indonesia saja yang jalurnya cuma satu atau dua dengan aturan lalu lintas yang bisa ‘dilupakan’ dengan hati ringan, gaya menyetir saya telah membuat sepupu, Xaf, dan beberapa teman baik trauma naik mobil dengan saya dibalik setir; dan saya pun berhasil membuat satu abang somay dan dua tukang duren hampir sakit jantung dan terbirit-birit menghindari mobil saya yang seperti sapi lepas kendali.

Jadi, bersepeda harus di jalur sepeda seperti terlihat pada photo yang saya ambil di dekat pemberhentian bis di samping rumah pada hari minggu pagi. Kalau mau belok kanan kiri harus memberikan tangan. Bagi mereka yang memakai celana panjang dianjurkan untuk mengikat bagian bawah celana untuk menghindarkan keserimpet geligi sepeda selama bersepeda. Ketika cuaca buruk atau malam hari, diharuskan menempelkan lampu dan lambang spotlight di punggung, pantat, atau belakang kepala, agar bisa dilihat oleh para pemakai jalan lainnya. Sewaktu bersepeda di tengah jalan pun harus tahu ambil jalur kiri atau kanan…saya lupa; dan sebagainya, dan sebagainya.

Balik ke Slow Up.

Sampailah saya ke tempat start si Slow Up. Lumayan rame, orangnya juga macem-macem. Turis nyasar (seperti saya), pasangan yang sportif (iya…ada lho makhluk yang namanya pasangan cinta yang sportif. Hobinya olah raga berdua. Hebat! Cinta dapat, badan pun jadi sehat), para olah raga mania, dan keluarga.

Iklan si acara lucu banget deh. Lucu karena menekankan kalau Slow Up itu bukan acara kompetisi. Siapapun boleh ikut, bisa melaju dengan kecepatan masing-masing, boleh mulai darimana saja (asal sesuai dengan jalur yang sudah ditentukan), dan boleh berhenti kapan saja. Ahh…akhirnya ada acara olah raga yang tidak memberikan tekanan mental dan pelototan seseorang berpakaian kaos dan training, berkalungkan peluit dan menggenggam stop watch!

Singkat cerita saya pun menggenjot sepeda bersama dengan yang lainnya. Setiap orang dikasih peta gratis (dalam hati saya bersyukur seribu bahasa datang bersama Manu, karena saya tidak bisa membaca peta sama sekali!), diberi senyum dan dorongan semangat dari para panitia.

Bon route! (selamat menikmati perjalanan), begitu katanya.

Slow Up tahun ini rutenya sepanjang 26 km, tapi serasa 50 km karena rutenya naik turun bukit; melewati 7 desa di pinggiran kota Jenewa, yaitu Cologny, Vandoeuvres, Choulex, Meinier, Corsier, Collonge-Bellerive dan Vesenez. Judulnya sih desa, tapi ‘desa’ di sini kebanyakan adalah kawasan elit tempat orang kaya bermukim di dalam rumah besarnya yang dikelilingi pekarangan seluas hutan kecil dengan jendela yang memberikan pemandangan menakjubkan ke danau Leman. Kawasan elit! Saya yang ngos-ngosan menggenjot sepeda sibuk celingak celinguk kiri kanan, terpesona oleh mewahnya rumah para aristokrat atau makhluk maha kaya di Jenewa.

Selingan info: rumah kediaman resmi duta besar Indonesia di Jenewa terletak di salah satu kawasan elit ini lho. ‘Bangga’ rasanya menyadari ‘kebesaran’ dan ‘kemegahan’ negara saya.

Sengsaranya, kawasan elit ini di dataran tinggi, yang artinya setengah rute awal adalah tanjakan! Saya pun sibuk berkeluh kesah, menyemangati diri sambil meminta maaf ke kedua paha saya yang tersiksa sampai rasanya otot mau lepas.

Tanjakan pertama masih duduk di sadel, walaupun pinggul sudah ogal ogel dan pipi sudah kembang kempis. Istirahat setelah 5 menit di tengah-tengah tanjakan. Manu dengan sabar ikut berhenti, dan menyemangati untuk mencoba menyelesaikan tanjakan tahap pertama. Sambil menggerutu saya pun kembali ke posisi.

Goes satu, goes dua, goes tiga…lho kok nggak mau maju ini, kok malah mundur?

Semua yang melintas pun tersenyum simpul, termasuk sepasang kakek nenek yang masih dengan megahnya menggenjot sepedanya. Yang tersenyum pun semakin banyak ketika akhirnya Manu dengan sabar turun dari sepedanya dan mendorong saya dari belakang, agar saya bisa balik naik sepeda di tengah-tengah tanjakan nista itu.

Dohhh…masak kalah sama mereka yang umurnya sudah pasti lebih dari 50 tahun sih?!

Untung tak disangka, sepuluh menit kemudian kami pun sampai ke tempat peristirahatan pertama. Tempat peristirahatan semacam ini ternyata memang disiapkan setiap beberapa kilometer, untuk memastikan tidak ada yang pingsan kehausan atau karena kurang darah karena lupa sarapan.

Yang disajikan macam-macam. Kebanyakan memang tipe makanan untuk sarapan, seperti roti, pancake, teh dan kopi. Tapi ada juga stand yang didirikan oleh para petani yang kebetulan daerahnya dilewati jalur Slow Up. Stand mereka lebih meriah, karena diisi berbagai produk lahan masing-masing. Ada keju, madu, buah-buahan dan bahkan sarapan berat seperti bacon (yang kalau mau diartikan irisan tipis daging babi yang digoreng kering di minyak atau mentega).

Satu stand yang saya lewati dengan penuh sesal, stand para pemadam kebakaran! Aduh…padahal yang melayani para pemadam kebakaran yang gagah, tampan dan menawan (malah mungkin ada para model kalender torse nue yang selalu membuat saya mengucapkan puji syukur akan ciptaan Tuhan). Lagian salah sih, kok masang stand di belokan jalan menurun. Mau balik lagi malu.

Panitia memang sangat teroganisir. Setiap beberapa ratus meter ada petugas dengan overall warna oranye yang bertugas menunjukkan jalan. Tahu begini nggak perlu peta, cukup mengikuti telunjuk si petugas oranye. Ambulan pun siap sedia. Di awal salah satu turunan terjal, seorang petugas memberikan saran untuk hati-hati karena ada kecelakaan di bawah. Dan benar, sampai di akhir turunan, saya pun melihat mobil ambulan dengan tim kesehatan yang sedang sibuk mengobati pengendara sepeda yang lupa mengerem.

Sewaktu saya sibuk mengambil poto sebuah gereja di salah satu desa, saya pun menyempatkan diri beramah-tamah dengan salah satu petugas oranye ini. Si petugas dengan sendu melaporkan kalau mereka itu bertugas dari awal sampai akhir acara (9 pagi sampai 5 sore). Saya langsung jatuh kasihan, karena mereka harus berdiri berjam-jam hanya dengan dibekali sebuah sandwich dan sebotol air minum. Lebih kasihan lagi ketika tahu bahwa para petugas itu adalah para pemuda yang menolak untuk melaksanakan wajib militer dan memilih program perlindungan sosial (bakti sosial tepatnya).

-bersambung-

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

4 Responses to “Genjot, potret, dan merenung (1)”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Jadi foto yang kemaren itu, sepada + helm planet klingon, dalam rangka ikut lomba agustusan balap sepeda disana? :p

«rumah kediaman resmi duta besar Indonesia di Jenewa terletak di salah satu kawasan elit ini lho. ‘Bangga’ rasanya menyadari ‘kebesaran’ dan ‘kemegahan’ negara saya. »

Pipit, salut ma pote!
Duta Besar RI err, bukankah harusnya berdiam di Berne? Hehe, Jenewa konsulgeneral kah? Atau memang Dubes tsb senang komuting?

De toute façon, residensi govt RI hampir selalu di tempat bergengsi. Ngga di Suisse, ngga di Italia (kemaren baru dibilang oleh students RI di sini, kedubes RI di palais dengan koleksi seni nasional Italia) …

alors, fais moi savoir comment tu vas.

ciauzzz

unmacchiato.blogspot.com

Andry: Bukan lomba..bukan, cuma rame-rame. Iya agustusan, buat pesta kota di bulan agustus.

Macchi: Di jenewa ada yang namanya duta besar untuk PBB. Yang fungsinya lain dengan duta besar untuk Swiss.🙂

sepeda memang kendaraan ramah lingkungan yang menjadi andalan untuk mengurangi polusi di negara2 maju, saluut!
http://www.b2w-indonesia.or.idz


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: