Sterilisasi: kejam atau mencegah kekejaman?

Posted on August 26, 2006. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions |

Minggu kemarin, teman saya Jennifer menyapa saya dengan wajah penuh kemelut. Ternyata kucingnya, Bidon, hamil! Biasanya si Bidon dikasih pil KB sebelum musim kawinnya kucing, tapi kali ini Jen lengah dan akhirnya terjadilah ‘kecelakaan’ itu. Haduh…saya yang mendengarnya turut berduka.

Kok berduka? Kok kecelakaan? Bukannya harus disyukuri kalau bakal dapat anak kucing yang lucu?

Berduka dong, karena kalau Jen tidak berhasil menemukan rumah untuk si anak kucing, kemungkinan besar anak-anak kucing itu akan ‘ditidurkan’.

Lho..kok segitu drastisnya?

Sebelum para pembaca sekalian menghujat, saya mau menekankan kalau masyarakat di sini sangat cinta binatang, jauh lebih sadar akan hak binatang dari masyarakat Indonesia. ‘Peniduran’ anak binatang yang tidak diinginkan dipandang sebagai suatu kebijakan yang lebih manusiawi daripada menelantarkan anak kucing/anjing itu di jalan atau tanah kosong dan membiarkannya mati kelaparan, kedinginan, atau tertabrak mobil. Rumah sakit hewan dan dokter hewan pun biasanya menganjurkan para pemilik hewan yang menderita penyakit kronis seperti kanker, paru-paru, ginjal, atau jantung, untuk ‘menidurkan’ si hewan kesayangannya daripada membiarkannya sengsara menunggu kematiannya pelan-pelan.

Awalnya saya terus terang nggak bisa memahami kebijakan ini. Tapi ketika Frimousse, kucing kesayangan keluarga suami saya yang berusia 15 tahun menderita sakit parah dan tidak bisa disembuhkan karena usianya, saya pun bisa memahami keputusan ibu mertua saya untuk ‘menidurkan’ teman setianya itu. Dengan mata berkaca-kaca, maman menerangkan kalau lebih baik Frimousse pergi dalam tidur tanpa kesakitan. Maman terus terang nggak tega melihat penderitaan Frimousse dari hari ke hari.

Jadi, bukannya orang sini berhati batu. Jen pun sibuk menahan tangis sewaktu bercerita ke saya, dan sangat berharap saya mau menampung salah satu anaknya Bidon.

Oleh sebab itu, biasanya para dokter hewan menganjurkan para pemilik hewan, terutama yang tinggal di apartemen dan tidak mengkehendaki anak kucing atau anjing, untuk mensterilisasi para hewan kesayangannya. Sterilisasi akan menghindari penelantaran hewan pada kemudian hari, dan lebih baik untuk kesehatan para kucing atau anjing yang tinggal di apartemen dan memiliki ruang gerak yang terbatas. Para hewan pun akan lebih ‘tenang’ sewaktu masa birahinya muncul. Lagipula, dengan sterilisasi kucing atau anjing betina biasanya akan berumur lebih panjang, karena tidak harus mengalami proses hamil dan melahirkan yang sangat melelahkan bagi para hewan tersebut.

Berbekal pengetahuan inilah saya membawa kucing kesayangan saya, Blony, yang sewaktu itu sudah melahirkan tiga kali ke dokter hewan untuk disteril. Blony, terlepas dari perawatan saya yang cukup telaten, terlihat jauh lebih tua dibandingkan umurnya yang baru 3 tahun. Kekhawatiran saya semakin memuncak ketika Blony mengalami kesulitan sewaktu melahirkan terakhir kalinya. Tidak seperti kucing lainnya, Blony selalu minta ditemani sewaktu melahirkan, dan dulu saya selalu menemani proses melahirkan kucing saya itu.

Tapi apa kata bu dokter? “Maaf, saya tidak bersedia melakukan operasi sterilisasi karena bertentangan dengan agama saya (Islam, red).”

Saya yang mendengar cuma bisa bengong. Terus terang saya tersinggung sekali. Saya dianggap pembunuh apa? Dianggap tidak sayang binatang dan mau menghalangi rencana alam.

Sambil menahan amarah saya pun hanya bisa menggendong Blony yang masih deg-degan sehabis periksa kesehatan dan disuntik. Niat baik saya untuk menjaga kesehatan kucing saya dan untuk menghindari penganiayaan anak kucing malah dipandang hina!

Saya bingung, kejam mana mensterilisasi kucing atau menelantarkan anak kucing? Mama saya penyayang binatang, tapi mana bisa rumah menampung 20 anak kucing? Kalau anak kucing itu tidak ada yang mau menampung bagaimana? Untung Blony kucing campuran, jadi sampai sekarang anaknya selalu mendapat rumah baru. Tapi bagaimana dengan kucing-kucing kampung lainnya? Tidak jarang saya mendengar diskusi ‘ringan’ tentang membuang kucing, berbagai teknik dan tempat tujuannya.

Terlalu sering saya menangis dalam hati melihat anak kucing jalanan, kurus dan tidak terurus. Belum lagi mereka sering dijadikan obyek penyiksaan anak-anak kecil ataupun orang dewasa. Disiram air, diusir-usir, diusilin pakai ranting kayu, dsb. Saya pun pernah menyaksikan anak kucing tergilas mobil, sampai sekarang saya tidak akan lupa. Sampai sekarang saya tidak akan memaafkan lambatnya saya untuk bertindak, untuk berusaha menangkap anak kucing itu sebelum lari ke tengah jalanan. Si pengendara mobil mewah besar itu, langsung melaju tanpa menoleh. Saya pun hanya bisa meraih tubuh rapuh makhluk kecil itu yang sedang menuju ajalnya. Menaruhnya di pinggir jalan, seperti disarankan oleh orang yang kebetulan juga berada di pinggir jalan itu.

“Udah neng, ditinggal saja. Udah nggak bisa diapa-apain lagi.” Begitu kata si bapak melihat saya termangu dan tidak tahu harus berbuat apa.

Sewaktu batin saya memberontak dan balik lagi untuk melihat keadaan kucing kecil itu dan mau membawanya pulang, walau sekedar untuk menguburkannya, tubuh kecil itu sudah tidak ada lagi.

Anjing jalanan apalagi, tidak hanya mereka harus mengais sampah di sana sini, mereka pun sering jadi sasaran timpukan batu, dimaki-maki, dikejar-kejar, dan kalau perlu diracun!

Sampai sekarang saya masih bermimpi untuk bisa membangun penampungan hewan di rumah saya di Indonesia nanti. Untuk menampung semua kucing dan anjing jalanan, untuk akhirnya bisa berbuat sesuatu dan tidak hanya memalingkan muka dan berharap kenyataan penderitaan para hewan itu akan lenyap seperti lenyapnya mereka dari mata saya.

Kejamkah sterilisasi? Tidak! Sterilisasi, menurut saya, adalah bentuk pencegahan kekejaman. Sterilisasi adalah salah satu bentuk solidaritas manusia sebelum akhirnya dunia ini benar-benar menjadi milik bersama, dimana para hewan akan memiliki tidak hanya tempat untuk bernaung tapi juga di hati manusia, si ‘penguasa dunia’.

Paling tidak mereka dan mereka mengerti.

P.S. Sampai sekarang Blony tetap hamil setiap tahun, dan menurut laporan mama saya, kucing kesayangan saya itu semakin kurus dan layu. Saya hanya bisa berdoa untuk bisa tetap bertemu sewaktu saya pulang nanti.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

27 Responses to “Sterilisasi: kejam atau mencegah kekejaman?”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Wah aku baru tahu sterilisasi ada juga buat hewan ya dan dengan niat yang bagus pula😀

Hi Pipit.
salam kenal donk
gak sengaja lagi browsing resep tahu isi, eh malah kebawa ke “sini”
well, anyway…
do you chat?
add me in sundae_velvet@yahoo.com

see ya!

tigger divasektomi pas umur 3 bulan, lionel dijadwalkan bulan ini? saya kejam? menurut saya tidak. mana lebih kejam orang2 yang membiarkan anjingnya melahirkan tiap saat lalu membuangnya? atau tidak memeliharanya dengan baik?

ah sudahlah, yang penting i love tigger and lionel more than anything in the world😀

saya suka kucing…
kasian aja kl dia di
sterilisasi…

Italia mungkin negeri paling protectoreur terhadap kucing. Di sini ada hukum semua kucing appartiennent à l’état.
hehee… terutama di Roma yang punya legenda, aduh lupa detilnya, yg pasti kira-kira ttg Roma Antica lepas dari ancaman serangan musuh oleh kucing atau gimana gitu.

Di Torre Argentina, Roma, ada rumah perlindungan kucing, dg jumlah ratusan dan dibiayai, diorganisasi oleh sukarelawan. Tapi saya blm pernah liat sendiri sih.

ciauzzz

bix

pajang dong poto si empus, dirumah ibuku jg jadi tempat pembuangan kucing…tapi seringnya diambil orang lagi setelah menjadi terawat gitu…walopun sekedar kucing kampung

saya juga suka kucing. namun, sebagai orang desa, kucing dipelihara untuk melindungi gabah dari serangan tikus😀

Pet lover :D! Thanks udah ngasih tau kegunaannya sterilisasi. Pekerjaan saya menjadi lebih ringan.

Pit,
Kita punya cita-cita yang sama, memiliki rumah tempat pemeliharaan hewan, terutama kucing2 yang terlantar. Moga-moga someday cita-cita kita bisa terlaksana. Salam manis.
dewina66@yahoo.com

Dear Pipit…

Hallo bu.. pa kabar? I stil owe you those pictures =)
G sangat2 tersentuh en setuju bgt sama tulisanmu ttg hewan2 tsb… Di Indo masih sgt kurang kesadaran akan kasih sayang thd binatang… Terbukti dgn keisengan2 thd binatang2 jalanan yang bisa berakhir dgn kesadisan… Mereka masih menganggap binatang hanya sebagai “binatang” dan bukan hewan yang bisa kita curahkan kasih sayang sepenuhnya..
Cita-cita kita sama.. Someday we have to work on it dan kampanye untuk menghentikan “animal abuse and especially stop eating rare animals”.

Luv,
Sanny

Menurut saya, binatang ya binatang. Pemikiran atau ide untuk sterilisasi terhadap hewan peliharaan, hal itu terlalu berlebihan. Mencegah agar tidak ada anak-anak kucing atau anjing yang terlantar, animal abuse, hewan tidak cepat terlihat tua atau hal lain yang digunakan sebagai alasan untuk melakukan sterilisasi dan pembunuhan terhadap hewan, sekali lagi, buat saya itu sangat berlebihan.

Tidak ada alasan yang masuk akal maupun manusiawi untuk tindakan sterilisasi dan pembantaian terhadap bayi-bayi hewan yang baru lahir maupun hewan tua yang sakit. Semua alasan yang dikemukakan oleh para pelaku hanyalah kamuflase agar mereka terlihat lebih manusiawi saat melakukan tindakan-tindakan tersebut. Karena alasan yang sesungguhnya menurut saya adalah:
1. Karena mereka tidak ingin direpotkan oleh anak-anak kucing/anjing lain yang tentunya akan menyita waktu, biaya dan tenaga. Unwanted child pada hewan propaganda untuk melegalkan pembantaian bayi-bayi binatang dan pemandulan binatang (saya sudah lihat kampanye seperti itu disiarkan di televisi).
2. Tak ingin repot membersihkan bangkai binatang yang mati terlindas, kelaparan atau karena sakit.
3. Ingin binatang peliharaannya awet terlihat cantik, agar sesuai budget yang telah mereka keluarkan untuk membeli dan pemeliharaan.
4. Tidak perlu menghabiskan biaya dan tenaga untuk binatang tua yang sudah tidak bagus lagi.

“Binatang terlantar”? hal itu hanya terjadi pada hewan yang dipelihara dan disia-siakan oleh pemiliknya. Sedangkan untuk binatang yang tanpa majikan/liar kata ‘terlantar’ tidaklah berlaku bagi mereka, dan LIAR adalah sifat dasar mereka.
They are animals, they are beast. It’s their nature for being wild. Kalo pada akhirnya mereka kelaparan di jalanan, tertabrak mobil atau sebagian anaknya mati karena tak terurus, itu hal yang biasa.

Saran saya:
Kalo memang merasa iba saat melihat ada hewan yang kelaparan, ya beri saja mereka makan. Toh salah manusia juga yang merusak ekosistem dan mempersempit ruang gerak mereka.
Melahirkan keturunan sudah tugas mereka, lalu menjadi tua adalah hal yang wajar, natural.
Rawatlah mereka hingga ajalnya tiba. Mungkin bagi para pembantai, itu hal yang merepotkan atau menjijikan melihat binatang tua dan sakit-sakitan tergolek di rumah mereka. Tapi tidakkah mereka ingat, bagaimana binatang itu dulu menemani mereka, membuat mereka bahagia… Tidak ingatkah mereka saat pertama mereka jatuh hati untuk memiliki binatang-binatang itu? Dan mereka membuat binatang itu tergantung pada mereka, tapi pada akhirnya mereka membantai binatang itu setelah menjadi tua tak berguna.

Tidak usah memelihara hewan betina jika tidak mau direpotkan oleh bayi-bayinya.

Semua keputusan yang diambil pasti ada konsekwensinya, termasuk untuk memelihara binatang. Tapi janganlah melawan kodrat alam dengan mengatasnamakan ‘mencegah kekejaman’.

Samsyul bin kampung:

Sekarang gue mau tanya situ punya kucing yang dibiarkan berkembang biar, terus anak-anaknya sama lo diuruskan? Elo perhatiin itu anak-anak kucing yang terlantar dari kucing peliharaan lo nggak? Jangan asal ngemeng lo dasar pemilkiran bangsa arab jahiliyah!

Kalau boleh menjawab komentar Samsul, saya mau menegaskan kalau saya tidak pernah menelantarkan anak kucing ataupun anjing piaraan saya. Kalau menurut Samsul saya termasuk manusia yang tidak mau direpotkan oleh piaraan, baik kotoran maupun bangkainya, terus terang saya menolak dicap seperti itu.

Dari saya berumur 8 tahun, saya sudah terbiasa mengurus anjing-anjing saya, dari mereka berumur 3 bulan sampai harus menggendong tubuh lunglai mereka ke kuburan di belakang rumah. Saya tahu konsekuensi memelihara binatang dan tidak pernah menolak atau menghindar dari kewajiban saya tersebut.

Semua anak kucing saya pun tidak rela saya terlantarkan. Saya juga tidak pernah menyiksa binatang, dan selalu berusaha memberi makan kucing kelaparan walaupun harus berantem dengan orang rumah.

Tapi kalau saya disuruh memilih melihat kucing saya mati melahirkan atau mencegahnya, saya lebih memilih mencegahnya. Satu lagi, saya tidak melihat binatang piaraan sebagai suatu kegunaan, dan kemudian ‘menidurkan’ karena sudah tidak berguna. Binatang piaraan saya adalah bagian dari saya dan saya sayangi sepenuh hati.

Dua minggu yang lalu saya mendapat telpon dari mama saya. Blony ternyata harus dilarikan ke dokter hewan karena mengalami komplikasi kandungan. Tiga anak kucing mati di dalam kandungan sebelum dilahirkan dan bangkainya mengancam nyawa kucing saya. Mau tahu akhir ceritanya? Dokter hewan yang dulu menolak mensteril Blony adalah dokter yang sama yang kemudian memvonis kalau Blony harus dioperasi dan disteril.

Untuk kucing dan anjing liar, saya pun menolak untuk menyetujui alasan “memang sudah nasibnya.” Jadi kalau mau mati tertabrak mobil atau dianiaya sama orang lain ya tidak perlu dipikirkan. Pola pikir seperti ini, menurut saya, yang dapat membentuk seorang manusia egois, yang bisa dengan nyaman menikmati hidangan mahal dan berlebih-lebihan di restoran mewah sambil memandangi mereka yang kurang beruntung tanpa merasa tersentuh karena “memang sudah nasibnya.”

Menurut saya batas antara normalitas dan ketidakperdulian sangat tipis. Binatang memang binatang, tapi saya menolak untuk terkukung dalam pola pikir yang melihat binatang sebagai bagian pinggir dari dunia manusia yang tidak perlu untuk dicintai, dilindungi, dipelihara hanya karena mereka hanya binatang. Suatu bagian tidak penting.

Memang binatang bagian dari alam, tapi ketika manusia telah merubah karakter alam dimana para binatang ini hidup, tidak perlukah manusia untuk mencoba melakukan sesuatu akan kondisi binatang yang terkondisikan oleh perubahan alam tersebut?

Pipit, Saya senang sekali mengetahui bahwa kamu sangat menyayangi binatang peliharaanmu. Saya juga pernah memelihara kucing betina belang tiga, tapi ketika saya tahu dia sudah mulai ‘gebetan’ dengan kucing-kucing jantan, maka saya ‘liarkan’ dia. Mulai di titik itu saya tidak ikut campur soal kehidupannya. Tapi dengan cara begitu, sampai saat ini saya masih bisa melihat dia bergerak ke sana-sini atau kadang memberinya makanan (walau tak bisa menyentuhnya lagi) dan anak-anak yang dilahirkanya pun tumbuh besar, sehat dan tangguh. Tak ada yang dibuang, tak ada yang terlantar dan tak ada hal yang perlu didramatisir.

Ketika seekor kucing mati tertabrak, saya kira sama saja dengan kucing yang masuk wilayah anjing. Bisa menghindar dia selamat, tidak bisa berarti mati.

Berbeda dengan animal abuse, untuk hal ini saya rasa bisa dibuatkan undang-undang perlindungan hewan dari penganiayaan dan pembantaian.

Melindungi binatang terutama dari kepunahan sangatlah penting. Menyayangi hewan peliharaan juga penting. Tapi melakukan sterilisasi dan mengumandangkannya sebagai bentuk tanggung jawab atas kehidupan binatang yang tertindas adalah perampasan hak, yaitu hak untuk dapat melanjutkan keturunan —meski terlihat lebih instant/compact ketimbang harus merelokasi atau meratakan populasi—.

Kasihan si Meong dan si Bleki, dosa apa yang telah mereka perbuat di masa lalu sehingga mereka harus bernasib seperti ini. Padahal telah ribuan tahun mereka mendampingi manusia, tapi apa yang mereka dapatkan? Sterilisasi as an award?

hallo..ga sengaja baca blognya
kebeneran seneng binatang juga..
saya rasa lebih baik binatang kita disterilisasi daripada entar anak2nya ga keurus.
soalnya sekarang kebeneran lagi menghadapi masalah kucing.
kucing dirumah udah ada 6 ekor. udah gitu sekrang ibunya hamil lagi..orang rumah jadi bingung harus ngapain..
soalnya ga mungkin kalo di rumah ada kucing lebih dari 6..
untuk masalah kaya gini saya rasa sterilisasi lebih baik dari pada nantinya kucing atau binatang tersebut akan terlantar atau malah `ditidurkan`.
jadi semoga di indonesia ga ada lagi (walaupun sepertinya tidak mungkin) binatang yang terlantar.

rusty

Ibu yang baik saya mengerti perasaan Ibu… Karna saya juga cinta kuncing dan insyaAllah saya sebentar lagi lulus dari FKH dan melanjutkan mengambil koas Dokter Hewan… Terkadang memang da hal2 yang bisa kita lakukan dan tidak kita lakukan… Yang ibu cerita seorang dokter hewan yang tidak bersedia melakukan sterilisasi pada kucing ibu mungkin karna dokter tersebut punya prinsip yang dan telah menimbang2 kalo kucing ini masih sehat dan mampu untuk terus melahirkan… atau pun pertimbangan beliau yang memperhatikan bahwa kondisi sterilisasi akan membuat beliau resah karna tidak sesuai dengan hati nurani dan tidak sesuai dengan sumpah yang diemban sebagai dokter hewan… Sepengetahuan saya sterilisasi boleh dilakuakn ketika hewan/pasien mengidap penyakit yang berhubungan dengan reproduksi atau dalam kondisi darurat… Niat ibu untuk membuat kucing ibu sehat juga baik karna jarang orang yang begitu sayang pada hewannya seperti ibu… Tapi kucing juga makhluk hidup…Yah, disinilah pentingnya kerjasama yang baik antara klien dan dokter hewan…

Terakhir semoga keinginan ibu untuk mempunyai rumah singgah untuk kucing dapat terwujud…

Terima kasih….

Anda tidak sendirian. Kendati artikel ini sudah 2 tahun lalu dibuat, hingga kini saya pun masih mengalaminya. Pemilik kucing ternyata juga bisa dihadapkan pada kondisi dilematis. Disteril; jika penanganan medisnya kurang memperhatikan aspek higienisme, bisa berakibat nyawa kucing saya melayang. Tidak disteril: “gangguan” kucing liar juga sulit dikontrol. Tetapi saya bersyukur dari tulisan ini membuat saya tidak sendirian. Pemilik kucing bisa mengalami pasang surut emosi, terutama ketika lingkungan terdekatnya kurang mendukung keinginan untuk merawat anak kucing terlantar. Perasaan inilah yang bisa dibagi, untuk selanjutnya kita kembali pada kegiatan merawat mahkluk ciptaan Tuhan yang nama spesiesnya unik: felis tigris itu.

huaa… mo nangis kalo denger ini.. Gw bukan pet lover yg baik.. Tapi gw gak suka kekejaman terhadap hewan!! Terutama di peternakan!! Gw sumpahin orang yang melakukan kekejaman terhadap hewan TERSIKSA 7 KALI LIPAT SETIAP MENYIKSA HEWAN!!!

Maaf sbelumnya krn sy telat mmbaca artikelny..

mnanggapi soal sterilisasi yg tdk dilakukan oleh dokter yg kbetulan muslim, mnurut islam memang dilarang, karna itu bntuk dr suatu penyiksaan dan pemusnahan binatang itu sndiri..

di dalam islam mnusia di beri ALLAH SWT brbgai macam ujian, slah satunya dengan mmlihara binatang.

apabila mnusia itu brani mnerima ujian mmlihara maka psti ada cobaan2 lain yg akan dberikan,salah satunya ketika kucing itu berkembang biak maka kita harus menyiapkan tmpat, mkanan & sbgainy..

mbak gk prlu kuatir bgaimana menanggulanginya krna manusia hanya di titipkan, semua msh ALLAH yg mengatur rezekinya, ajalnya, tempat tinggalnya tnpa kita sadari..tugas kita hanya menyayangi dan membiarkan mereka brkmbang biak..

Inilah bukti kekuasaan ALLAH yg maha adil dan bijaksana, manusia yg hanya dititipkan saja sudah kerepotan, tp mnusia tdk berpikir bgaimana ALLAH mengurus mereka, terkadang malah meniggalkannya (ALLAH)..

Buat mbak yang sempat bingung ini, cukup sayangi saja kucing itu, biarkan mereka berkembang biak, jngan takut bgmana keadaannya nanti, karena psti ALLAH yg mengurusnya..

Jngan kt bertanya bgaimana cara ALLAH mngurusnya, krna tidak akan ada jwabannya sebab tidak terjangkau sama akal manusia..

saya jg pecinta kucing, setiap saya kluar rumah pasti mmbawa tas yg isinya makanan kucing, yang pasti sya kluarkan apabila ktmu kucing di jalanan,saya mmabg tidak mkn bisa mngurus smua kucing, tp stidaknya min ada hal yg bisa saya lakukan untuk kucing jalanan, yaitu mmberi makan walau cm 1x..selanjutnya urusan hdup mreka serahkan debgan ALLAH SWT..

Jd sya sngat tdk mendukung sterilisasi, itu sama dengan pemusnahan, seandainya mereka bisa berbicara saya ykin mereka tidak akan mau..atau saya kembalikan pertanyyan itu ke mbak “MAUKAH MBAK DISTERILISASI BIAR HDUP MBAK TIDAK REPOT”..saya yakin jwabannya “TIDAK MAU”..

hehehe..maaf kl ada salah kata..

kl mbak kurang puas dengan respon saya, silahkan kita berbagi lagi, email saja saya di md_aldon@telkom.net..

terima kasih..

Saya setuju sekali, semestinya disteril dan penderitaanmu saya rasakan juga..Saya minta ke yayasan international untuk buka Tmpt penampungan tapi mreka tdk punya dana..:( sedih banget semakin banyak korban jalan tol..dah rescued 4 kittens tapi masih ada lagi di deket rumah..sudah tdk bisa menampung lagi karena qta mau pndah ke LN, lantas klo diambil trus diapakan nanti yang sekarang aja ada 18 nanti mau diapakan?? hiks..bingung!!!

stuju aja dg adanya sterilisasi,, terutama untuk hewan2 liar biar mereka tidak terlantar.
sy ini paling tidak tega klo liat anak kucing yg terlantar di pinggir jalan atw di tempat sampah, makanya drumahku penuh kucing liar(skitar 20 ekor), yg smuanya dipungut kecuali 1 ekor yg memang lahir di rumah dan udah diplihara skitar 4 tahun.

saya mempunyai perasaan yang sama, saya suka menangis melihat ketidakberdayaan saya untuk menampung kucing jalanan. karena saya masi tinggal dengan orang tua. Saya sampai bertanya kenapa Allah menciptakan hewan hanya untuk disiksa manusia, apa kelebihan manusia sehingga mempunyai hak menyiksa binatang. Mengapa..

idenya bagus sekali, denger2 sih udah ada tempat penampungan hewan, memang bagus bgt tuh. iya, bener tauk, aku juga sering liat kucing dianiaya, dipukul pake kayu besar sampai mati, trus disiram air panas, adalagi nih anak2 SD suka banget matahin kaki anak kucing, astaghfirullah, mereka membuat kerusakan di muka bum ini, merusak ciptaan AllahSWT, naudzubillah.
mungkin pada jarang sholat ya, kan sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar, kadang aku suka mikir gitu, meski tergantung nurani manusianya juga sih.

kalo aku masih ga begitu setuju soal sterilisasi dan menidurkan, karna kucing juga makhluk hidup.
jumlah anak jalanan dan gelandangan di indonesia pun ga kalah jumlahnya dengan kucing liar, coba banyangkan kalo mereka juga di perlakukan sama seperti kucing yang di sterilisasi dan ditidurkan dengan alasan yang sama,
memang tujuan dari sterilisasi itu baik, tapi itu udah menjadi hukum alam, manusia dan hewan memiliki nasib yang berbeda.
lagi pula kalo memang penyayang hewan coba lah liat nasib tikus dan kecoa, kenapa kalian ga memperhatikan nasib mereka, apa karna mereka ga lucu seperi anjing dan kucing ?

Aku baru baca sekarang waktu sedang cari2 alamat dokter di dekat sini untuk menyeterilkan si moca,awalnya aku takut kalo ntar moca operasi steril bahaya g y…apalagi orang tua juga g ngebolehin operasi steril cz alasan biaya,orang tuaku g terlalu suka sebenarnya pelihara hewan, apalagi kucing, yang aku pelihara ini juga kucing mix anggora ma kampung,jadinya ya gitu setengah setengah,yang moca (betina) bener2 dapat darah kampung 90% dari bapaknya, sedang miiko (jantan) dapat 50-50…makanya orang tua nyuruh biar moca dikasih ke orang lain aja(cz moca lebih mirip kampung daripada miiko yg agak mirip anggora wlo dikit…), tapi aku g tega cz belum tentu orang yang aku kasih moca bakal ngerawat n peduli ma moca kayak aku…makanya aku pikir jalan satu-satunya steril itu tadi dan ini juga masih nyari2 dokter dsekitar rumah, kalo ada kalo g y mungkin aku bawa aja ke Jogja, biar disteril dsana n rawat inap sekalian…aku g mau moca dikasih ke orang lain yang cuma suka kucing, karena kadang orang suka kucing hanya mau enaknya aja, tapi ntar klo kucingnya sakit luka ato apa mereka dah masa bodo,,aku g mau yang kayak gt….Sebelumnya aku malah punya 5 kucing 4 jantan dan 1 betina (ya si moca itu) tapi yang 2 g pnah pulang lagi ke rumah, terus yang satu lagi mati di pinggir jalan, g ketabrak sie cz katanya jasadnya g luka2 gt (aku g tw cz waktu itu lagi ada di Jogja) dan akhirnya dikubur di samping rumah…Waktu itu seluruh keluarga emang kehilangan banget apalagi mamaku seharian katanya nangis g berhenti-berhenti, tiap keinget ma Herpin (nama kucingku yang mati itu, sebenarnya namanya Heero tapi karena pincang habis keserempet mobil namanya jadi Herpin)padahal mamaku g terlalu suka kucing…
Aku juga sebenarnya pengen membangun penampungan untuk hewan-hewan terlantar baik itu kucing maupun anjing biar mereka punya tempat pulang yg nyaman…ingin rasanya segera bekerja lalu ngumpulin uang buat membangun penampungan hewan disini…

kasian kucingnya

Ya pilihannya kan selalu :

A). “kamu buka forum publik untuk menyadarkan mereka bahwa menelantarkan hewan itu mudah tapi bukan pilihan yang baik” (Pilihan susah, dan hasilnya lama baru kelihatan, belum lagi ketidak-acuhan pihak berwenang yang harusnya turun tangan), atau
B). “kamu buka grup penyayang kucing yang nyumpahi dan mempermalukan orang-orang yang menelantarkan hewan, lalu mempromosikan steril dengan biaya lebih murah kalo jadi member. (Pilihan mudah)

Pilihan ada di tangan kamu sendiri.

BTW, ada yang bisa bantu saya berhitung ndak, kalo ada orang yang punya 5 kucing kampung di rumah, semua steril, dan tiap bulan rutin ambil 3-5 kitten dan semua di steril setelah dewasa. Lalu mempengaruhi 10 orang dengan jumlah kucing dan kebiasaan ambil kucing lalu steril. lalu masing-masing dari 10 orang itu mempengaruhi 10 orang untuk mempunyai kebiasaan steril yang sama dan seterusnya, Biaya steril semua kucing itu cukup ndak buat beli tanah di pinggiran kota buat bangun semacam dan pusat edukasi masyarakat tentang kucing kampung?🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: