Ketika puasa adalah suatu minoritas

Posted on October 5, 2006. Filed under: Komentar - Passing thoughts and opinions, Sehari-hari - daily |

Sudah lima tahun saya tidak dimanjakan oleh suasana puasa massal di Indonesia. Berpuasa di negeri ini rasanya sangat amat berbeda dengan di rumah orang tua. Dari jam berpuasa, suasana berpuasa, sampai hikmah yang dirasakan.

Tidak seperti di Indonesia yang jam berpuasa selalu sama dari tahun ke tahun, di sini waktu berpuasa bisa sangat berbeda. Di musim dingin, hari lebih pendek, sedangkan di musim panas, matahari terus bersinar sampai jam 9 malam lebih. Banyak yang bilang, enak dong kalau puasa musim dingin, puasanya jadi lebih pendek. Pernah mencoba berpuasa dan tetap harus ke kantor atau ke kampus ketika cuaca minus 10 derajat?

Tahun ini puasa jatuh di akhir musim panas. Hari berakhir jam setengah delapan malam, sedangkan suhu udara sudah mulai dingin dengan tibanya musim gugur. Saya pun dengan sabar harus menunggu sampai jam tujuh malam lebih untuk akhirnya bisa berbuka puasa. Tapi paling tidak akhirnya suhu udara memungkinkan saya untuk berpuasa.

Suasana berpuasa pun berbeda, karena puasa di sini adalah sebuah minoritas. Tidak ada azan atau mama yang membangunkan saya untuk sahur, dan tidak ada azan magrib yang mengundang saya untuk minum segelas air. Akhirnya, saya pun jarang sekali sahur dan sampai sekarang sering tidak sadar kalau sudah magrib, karena masih sibuk dengan berbagai kegiatan.

Mau sahur pun harus mengendap-ngendap, seperti kucing mengintai daging rendang. Kan saya tinggal di rumah susun. Jam lima pagi belum boleh melakukan berbagai kegiatan yang berisik (legalnya kita baru boleh mulai melakukan ‘keributan’ setelah jam 6 atau 7 pagi). Menghangatkan makanan pelan-pelan, membuka keran sambil deg-degan karena takut bunyi air yang mengalir membuat tetangga sebelah terbangun, dan makan pun dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi kelontang-kelontang.

Tapi paling tidak ada satu hikmah yang sangat berarti bagi saya. Saya di sini puasa tanpa dimanjakan.

Tidak semua orang di kantor tahu kalau saya berpuasa, dan memang tidak ada perlakuan khusus untuk mereka yang berpuasa. Bekerja seperti biasa, tanpa ada tuntutan perlakuan istimewa seperti kata teman saya nana. Saya pun tetap menghadiri acara makan siang dengan teman-teman untuk sekedar berdiskusi. Mereka santap makan siang, saya hanya duduk manis sambil tersenyum. Meeting jam makan siang pun tidak saya tolak dengan alasan puasa. Habisnya, hanya ketika jam makan sianglah, teman-teman yang bekerja di berbagai tempat yang berbeda bisa bertemu, dan profesor yang sibuk bisa punya waktu untuk diskusi tentang proyek. Hari pertama saya puasa pun jadi diperpanjang sampai jam delapan malam lebih, karena profesor memutuskan untuk mengadakan meeting jam enam sore.

Sengsara? Pasti. Tapi saya bangga.

Saya memang belum bisa menghilangkan rasa marah, benci, dan berbagai sifat negatif lainnya, seperti yang diharapkan dari kegiatan berpuasa. Tapi paling tidak saya sudah bisa melaksanakan kewajiban agama saya secara mandiri, tanpa dorongan, dukungan, atau tekanan dari masyarakat di sekitar saya. Saya tidak memerlukan berbagai keringanan untuk berpuasa, dan bisa dengan nyaman menjalankan kepercayaan saya tanpa membebani atau mengkondisikan yang lain.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

4 Responses to “Ketika puasa adalah suatu minoritas”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

lho emang misoa kagak puasa ?

emang tinggal di mana seeh? wah klo manusia malem seperti saya gimana ya… baru bisa tidur klo ada matahari… huehehehehehe…

betuul!!! rasanya memang sangat membanggakan.. hehehehe… tidak dimanjakan dengan keadaan “eh si anu lg puasa.. jangan makan didepannya deh..”😀

gak kayak di indo.. yg justru smua disamaratakan utk menjadi “gw puasa.. yg gak puasa.. MINGGIR!!” hihihi..

no offense..

groetjes van amsterdam..😉

ikutan koment yaa.., pit.., btw aku kayak dejavu dech sm kamu, krn nama kamu sama kyk sobat aku yg skrg entah dimana, btw pngalaman puasa kamu kyk pngalaman aku wkt kul dulu, aku kul di daerah yg mayoritas non-muslim tp msh di indo jg, puasa disitu sprt yg kamu alami gak ada kemanjaan dech utk orang2 yg puasa, setiap warung makan buka sprt biasa, baik anak kecil maupun org dewasa makan dit4 umum bnyk jg, pertama2 sih aku kaget krn suasana puasanya gak kentara (ya iya lg orang didaerah non-muslim hehehehe…) tp lama2 biasa jg sich.., memang lain ladang lain belalang ya pit.., lain lubuk lain ikannya…, to pipit GBU & tetap cerah ceria slalu…, salam…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: