Kisah upik abu

Posted on November 1, 2006. Filed under: Kehidupan pelajar - Student life |

Apa hubungannya makan di rumah orang dengan event organizer? Tidak ada rasanya. Tapi dulu waktu mama hamil saya katanya dia hanya mau makan di rumah orang lain, dan saya kok selalu ditawarkan pekerjaan untuk mengurusi acara: seminar, loka karya, konferensi. Semua acara yang tidak ada unsur seneng-senengnya.

Jadi untuk yang sempet mampir dan tidak disuguhkan postingan baru, ini disebabkan karena saya sudah menjelma jadi upik abu. Seperti tahun lalu, tahun ini saya kembali pasrah mengurusi lokakarya internasional yang mengundang 13 makhluk cerdas dari tiga benua. Persiapan 5 bulan paruh waktu, pelaksanaan satu minggu lembur.

Terus terang pekerjaannya persis seperti sekretaris dicampur sopir dilengkapi dengan tukang katering dan office girl. Saya sendirian, benar-benar sendirian berpusing ria dengan berbagai masalah kecil (tapi menyita waktu) logistik, bersabar ria menunggu keputusan bos, dan bertabah profesional dalam menghadapi berbagai permintaan, pertanyaan, atau konfirmasi dari para peserta lokakarya.

Paling tidak tahun ini saya merasa jauh lebih siap.

Tahun lalu saya dibentak sama sekretaris direktur karena ruangan welcoming ceremony belum siap. Tahun ini saya malah sampai merelakan pergelangan tangan kiri setengah keseleo karena harus membawa rangkaian bunga cantik oranye ketika tangan yang lain harus menggeret kotak berisi map informasi dan laptop.

Tahun lalu saya dibentak petugas kafetaria karena makanan banyak terbuang dan selalu terlambat. Tahun ini saya bertanya sampai tiga kali ke peserta untuk cari tahu siapa yang herbivora dan siapa yang omnivora. Tadi sudah sempet mau dibentak, tapi akhirnya dengan ilmu ngeles yang sudah semakin canggih, saya malah dihadiahi kecupan di kening!

Tahun lalu saya dibentak sama petugas kantor akuntan dan harus tergopoh-gopoh mengumpulkan uang yang harus disuguhkan kepada para peserta. Tahun ini, tanda terima sudah siap. Uang pun sudah selesai diamplopkan sebelum hari Rabu.

Tahun lalu saya selalu disuguhi, “why didn’t you …..” setiap hari sama bos saya yang sangat tidak bertanggung jawab dan memiliki ingatan bersumbu pendek. Tahun ini, sebelum mereka sempat bilang “why don’t you …”, saya sudah bertanya duluan “Professor, why don’t you…..? I have done …., …., …”

Tahun lalu saya sempat hampir meledak dan senyum ramah sempat hilang dari wajah cemas saya. Tahun ini saya beberapa kali dibuai oleh pujian para peserta yang kagum akan efisiennya pelaksanaan lokakarya dan profesionalisme saya yang selalu tersenyum terlepas dari nafas saya yang ngos-ngosan karena harus bolak-balik antara gedung atau antara lantai.

Tapi…hari ini saya pun mendapatkan pelajaran baru.

Sambil makan siang sambil kular-kilir (memang bisa?), saya pun sibuk memastikan kalau semua peserta yang punya janji profesional siang ini tahu bagaimana harus mencapai tempat pertemuan mereka masing-masing.

Satu peserta Asia, yang seumuran dengan saya, yang selalu tampak muram dengan dinginnya bertanya kalau bis no 1 bisa dipakai sampai Rive. Saya yang masih dalam situasi ingin membantu sampai mati kemudian bertanya, memang mau kemana?

“Rive”
“Iya, saya tahu. Memang bisa. Tapi kamu mau kemana?”
“Kota tua”
“Tapi kalau dari Rive mau ke kota tua agak ribet. Soalnya kamu harus….(upik abu berusaha berat menerangkan jalan yang paling gampang)”
“Nggak perlu, saya sudah tahu. Saya sudah pernah ke sana kok.”

duegggg

“Untuk yang lain, apakah kalian punya janji? Kalau punya sudah tahu bagaimana harus ke sana?” (upik abu masih keukeuh seperti induk ayam)

“Tenang aja. Kami bisa kok cari jalan sendiri” Kata si Mbak yang tahu segalanya itu.

Hilang sudah kesabaran saya. Sambil berusaha mengontrol volume dan tekanan suara saya pun menjelaskan:

“Saya tahu kalian semua manusia dewasa dan bisa mencari tahu jalan sendiri. Saya hanya ingin memberi tahu kalau saya akan pergi ke ruang komputer untuk menunjukkan alamat yang mau dituju oleh salah satu teman kalian. Menurut saya, kalau memang ada yang juga harus mencari alamat, kenapa tidak sekalian saja? Saya hanya bermaksud untuk mempermudah hidup anda sekalian.”

Giliran si Mbak yang dueegggg.

Dia kayaknya cukup peka dan kemudian bilang…”it is really appreciated.”

Capek saya. Sudahlah saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mereka, membantu lebih dari seharusnya, malah disepet seperti itu.

Satu ajaran penting, kadang terlalu baik bisa menjadi tidak profesional.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

3 Responses to “Kisah upik abu”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

wah, pengalaman dibentaknya banyak juga..

Pengalaman memang guru yang terbaik Pit, senang baca cerita elo bisa handle event nya dengan baik. Gua ingat elo tuh orangnya memang pada dasarnya gesit, perfeksionis dan cepat kerja nya.

Gua sendiri baru sadar sekarang kalau gua cenderung fokus dan nggak terlalu optimal untuk multi tasking loh..–>

haloo mba…
salam kenal
saya suka bgt baca blog_nya mba…
seru and asyik bgt
kebetulan saya jg suka bgt entertine
pengen_nya seh kerja di EO kaya mba…
gmn cara_nya and hal apa aja yg hrus di miliki oleh orang EO?
tlg blz ke emailku ya mba…
thanks bgt…aq lg butuh bimbingan
1x lg thanks b4


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: