Pipit di Paris

Posted on December 15, 2006. Filed under: Jalan-jalan - Travel |

Akhirnya..akhirnya, bisa juga saya berkunjung ke kota Paris di negara tetangga. Setelah hampir enam tahun, baru akhir minggu kemarin saya menjejakkan kaki di kota cahaya itu.

Diawali dengan deg-degan, memeriksa visa di paspor setiap 5 menit. Nunggu di antrian loket imigrasi sambil ngedumel melihat kenyataan abadi dimana Xaf cuma perlu 2 detik (serius…petugas imigrasi cuma lihat sampul paspor merah langsung ngangguk) sedangkan saya terhenti di depan loket, membuat laju antrian terhambat, ketika petugas imigrasi memeriksa paspor dan visa dengan amat teliti.

Akhirnya..akhirnya, kesampean juga naik TGV. Dari dulu saya sangat ingin mencicipi pengalaman naik kereta cepat macam ini.

Excusez-moi, excusez-moi, sampai juga ke tempat duduk.

Seperti layaknya kereta api di Indonesia, di TGV karcis menentukan nomor tempat duduk. Tidak seperti di CFF, kereta api Swiss. Karcis CFF (antar kota di dalam Swiss) tidak ada jam dan nomor tempat duduk, jadi kita bisa naik kereta jam berapa pun dan bisa duduk di mana saja, sesuai dengan kelas tiket tentunya.

Satu jam pertama perjalanan si TGV belum tancap gas, masih melaju seperti kecepatan kereta normal lainnya. Setelah sampai Belle Garde, barulah kereta cepat ini memberikan bukti bahwa dia bisa melaju sampai 220 km/jam! Perjalanan dari Jenewa ke Paris pun cuma memakan waktu 3 setengah jam, mirip-mirip dari Jakarta-Bandung.

Di setiap stopan kereta, masinis sibuk berkoar-koar mengingatkan kalau tujuan kereta adalah langsung ke Paris, Gare de Lyon (Stasiun Lyon). Si pipit yang setengah budek dan kurang berpengalaman dalam hal perkeretaan di Eropa dengan polosnya nyeletuk, “Ahh…so after Paris this train will go to Lyon. I heard about the centralisation of train in France.” (Lyon adalah nama kota di Perancis) Xaf sambil ketawa kecil mengelus kepala istrinya, “no..it’s gare de lyon, not lyon”.

*malu*

Sampai-sampai di Paris, satu perbedaan menyolok antara Jenewa dan Paris.

Besarnya!

Paris jauh lebih besar dari Jenewa, lebih banyak orang, lebih banyak kemacetan lalu lintas, tata kota lebih megah dengan bangunan dan monumen à la romawi bertebaran di mana-mana, banyak paven road yang sempit dihiasi dengan lampu-lampu jalan tinggi langsing yang membuat malam terang dan romantis, banyak jalan sempit yang semakin dipersempit dengan deretan mobil yang diparkir di kedua sisi jalan, dan lebih berpolusi!

Koper diparkir di kamar hotel, kamera dikalungkan di leher, payung dan botol air minum sudah dipak dengan manis di tas ransel, kaki pun siap menelusuri rute turistik dan menikmati pemandangan kota di Paris.

Paris dan belanja

Sampai di Paris hari Sabtu, dua minggu menjelang Natal membuat siapapun bisa mengerti kenapa Paris sering disanjung sebagai salah satu pusat belanja dunia.

Jalanan Paris dipenuhi oleh deretan toko dan butik. Tidak hanya di jalan besarnya saja, bahkan di jalan kecil yang membuat orang non-Paris ragu untuk menapakkan langkah. Inilah uniknya kota Paris, banyak jalan tikus yang menyembunyikan kejutan menarik. Butik dengan desain toko yang sangat menarik, etalase toko dihias dengan berbagai gaya dan dihiasi dengan tudung berbagai bentuk dan warna, membuat acara lihat-lihat menjadi sangat menyenangkan dan kultural. Produk yang dijual sangat beraneka ragam dan orisinil dengan harga yang terjangkau oleh pelajar sekali pun.

Salahnya saya tiba di hari Sabtu. Jalanan penuh dengan mereka yang berbelanja, baik sebagai bagian dari tradisi turis atau mencari kado natal. Saya pun tidak bisa menikmati berbagai etalase antik sangking banyaknya manusia. Setiap tikungan selalu terjadi kemacetan arus manusia yang disebabkan dengan rampingnya trotoar di Paris. Untuk pasangan yang suka bergandengan tangan, harap siap-siap untuk melepas gandengan karena harus memberikan jalan bagi mereka yang di depan atau di belakang.

Keunikan lain Paris adalah imutnya para butik (kecuali untuk butik merek-merek mahal seperti Armani atau Prada). Ini mungkin yang membuat para pemilik atau pengurus butik untuk sangat memperhatikan desain dan pengaturan produk di dalam butik. Pengaturan produk dan ruang di dalam butik tak jarang menjadi bagian dari desain interior, yang tidak hanya berhasil memanfaatkan ruang tapi juga menonjolkan produk unggulan. Tapi kadang saya merasa seperti gajah di tengah-tengah toko porselen, karena jarak antara produk display kadang sangat sempit bagi para konsumer. Terlepas dari minimnya ruang gerak, permainan warna dan ruang berhasil membuat “tumpukan” menjadi berseni. Kreatif. Saya tidak pernah merasa sumpek di butik sekecil apapun, yang ada hanyalah kekaguman akan kreatifitas manusia.

Untuk masalah toko, ada dua macam toko yang mendominasi wajah kota paris: kafe, restoran, atau toko roti dan kue; dan toko buku atau perusahaan percetakan. Berbeda sekali dengan Jenewa yang didominasi oleh apotek dan bank. Ini, menurut saya, menunjukkan ciri masyarakatnya yang terkenal dengan budaya gastronomi dan sastra.

Bagi manusia pecinta buku seperti saya, sungguh kejutan yang menyenangkan ketika tiba-tiba bertemu sebuah toko buku atau percetakan di tengah-tengah pertualangan di jalan-jalan tikus kota. Tidak jarang toko buku memiliki spesialisasi sendiri. Antik, bekas, sastra, seni (ini masih bisa dibagi-bagi lagi), karya pengarang tertentu, pegunungan Alpen, komik, dsb.

Pemandangan dari balik etalase sebuah toko buku antik yang tidak akan saya lupakan: sebuah ruangan sempit dengan buku antik berlapiskan kulit yang berganti warna memenuhi hampir setiap inci dinding toko, tumpukan buku yang tersusun rapi yang membentuk pilar mengikuti anak tangga, di setiap sudut dan tengah-tengah ruangan, di balik pintu sebuah meja kecil terdapatlah si penjaga toko, bapak setengah baya berkaca mata, menundukkan kepala membaca sebuah buku yang menguning. Si Bapak seperti tidak perduli akan hampanya pengunjung, menikmati buku sebagaimana layaknya dan tenggelam di dalam dimensi sastra yang hening namun tidak pernah membosankan.

Pertanyaan narsis: Belanja apa aja di Paris, kota pusat mode dan belanja? (dengan nada mupeng)
Jawaban: Buku🙂

bersambung

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

4 Responses to “Pipit di Paris”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

ke belanda sih udah dong?

Dear Pipit, betul bgt ttg sampul paspor merah. Antrian di sebelahku bgitu terlihat sampul merahnya aja langsung disuruh lewat aja sama petugas imigrasi.

Tapi alhamdulillah, yg aku kira bakal lama diperiksa, paspor2 kami cuma dilirik2 aja spintas visanya. Mungkin karena kami berempat sama anak2, yah.

Itu crita pas mo balik.

Pas baru nyampe Paris tentunya lbh deg2an dong. Nggak disangka, cuma diliat skilas trus ditanya ‘Tinggal di Prancis?’ sama bliau pake basa Prancis yg untunge aku masih nangkep.

Hehehhe…

TGV, aaaah… itu yg blom kesampean sampe kebawa mimpi brapa hari yg lalu.

Met hari Rabu, Pipit.

komikist sepertinya seorang spammer, kok komentarnya diaprove sih?

Pit…lo juga harus nyoba ke Le Mans, bagian barat dari Paris, tempat yang adem ayem gak ada polusi dan pemandangan yang super indah…..

Have fun ‘n take care
dina


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: