Turis kritis

Posted on September 19, 2007. Filed under: Jenewa - Geneva |

Inginnya menyambung cerita jalan-jalan bersama orang tua, tapi apa daya foto-foto yang patutnya melengkapi cerita tersimpan di komputer rumah. Ingin terus berusaha melakukan penelitian yang datanya hampir mustahil tersedia di dunia maya kecuali kalau saya fasih dalam membaca abjad cina dan huruf kanji, tapi apa daya frustasi sudah memuncak. Jadilah saya akan meneruskan cerita dengan menuturkan berbagai komentar orang tua saya selama di sini. Macam-macam komentarnya, dari yang heran, berkeluh kesah, kagum, berbau nasionalis, sampai iseng.

Bener Pit, Swiss bersih banget!
Ini komentar pertama kedua orang tua saya. Keluar bandara dan selama perjalanan menuju rumah, orang tua saya terkagum-kagum melihat rindang dan bersihnya jalanan kota Jenewa. Keduanya langsung berhandai-handai..wah, enak banget nih kalau mau lari pagi. Trotoarnya adem tidak gersang seperti di Indonesia.

Pertama kali berdiri di balkon apartemen, papa langsung menikmati kesegaran udara, terlepas dari kenyataan kalau apartemen saya terletak di samping jalan besar. “Seger…enak untuk tidur ini,” begitu celetuknya.

Sewaktu Mama saya melihat mobil sapu, dia cuma bisa komentar…”ya ampun, jalanan aja disapu sampai begitu. Bener-bener kurang kerjaan deh. Tapi bener, kok ya ndak ada sampah sama sekali.”

Pertama kali masuk ke kamar kecil umum Mama juga sampai terkagum-kagum. “Halah…toilet umum stasiun kota aja kinclong begini. Bener…bener…Swiss memang bersih!”

Jenewa aman banget ya…kalau di Indonesia sudah…
Kedua orang tua saya juga kagum dengan amannya Jenewa. Mama saya sempet kaget sewaktu melihat saya dengan santainya meletakkan kotak berisi berbagai macam pesanan dari Indonesia di balkon rumah. “Kok ditaruh di luar, nanti diangkut orang lho!” Sewaktu saya dengan santainya bilang, “Pipit mau lihat siapa sih maling yang mau merayap sampai lantai dua buat menggondol mie instan. Lagian mama, di sini nggak ada maling yang berkunjung ke balkon.” Beliau cuma bisa senyum-senyum kecil.

Jalan-jalan di kota, orang tua sempat kaget jiwa dan raga melihat mobil mewah terparkir dengan jendela yang terbuka. “Wah…kalau di Indonesia, dua menit itu jas yang disenderin di kursi mobil sudah raib; kalau enggak mobilnya sekalian.” Sewaktu melihat orang dengan santainya meninggalkan mobil tidak dikunci dengan kunci mobil masih bertengger di slotnya karena keluar sebentar membeli koran di pinggir jalan, orang tua saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kenekatan orang di Jenewa. Mobil-mobil mewah juga kadang diparkir begitu saja di parkiran terbuka dan terpencil.

Papa saya yang kadang suka sinis langsung nyeletuk, “Lha iyalah mereka cuek, wong kalau dicolong ada asuransi yang bakal mengganti rugi semuanya. Mereka tinggal beli mobil baru. Lagian di sini mana ada orang yang mau beli mobil colongan.”

Kalau transportasi umumnya begini sih enak!
Begitu komentar papa dan mama selama kunjungan di Jenewa. Mereka berdua takjub melihat efisiennya sistem kereta api di Swiss yang nota bene negeri bergunung. Kereta api menjangkau berbagai penjuru negeri, sampai ke puncak gunung yang tingginya lebih dari 1000 m sekalipun. Topografi pegunungan tidak menghalangi perambahan rel kereta api, pembuatan terowongan menembus gunung sudah menjadi salah satu keahlian teknisi Swiss.

Kereta api yang canggih, tepat waktu, bersih, dan nyaman membuat mama saya sangat bahagia. Naik kereta InterCity yang bertingkat, mama langsung maksa untuk duduk di lantai dua. Papa dan mama terkagum-kagum melihat interior design kereta yang tidak hanya cantik tapi juga egronomis dan canggih. Pintu antar kompartemen dengan sensor gerak, meja samping tempat duduk yang bisa dilipat, tempat sampah di bawah meja yang tidak macet dan bersih, cantolan jas di samping setiap tempat duduk, beragamnya tempat penyimpanan bagasi, kompartemen khusus sepeda, dan lantai kompartemen yang dilapisi karpet yang tidak dipenuhi dengan noda dan debu. Sayang kami lupa untuk poto-poto.

Nanti ya ‘pa, kalau pipit pergi-pergi, pipit bakal potoin isi dalam kereta.

Papa juga sempet ngidam naik tram kota. Tram kota yang sungguh bersih, designnya yang sungguh cantik, dengan kamera video untuk keamanan, kursi yang nyaman dan tidak empet-empetan, ruang gerak yang sungguh luas, ber-AC, layar TV yang menunjukkan pemberhentian tram berikutnya, membuat kedua orang tua saya betah keliling-keliling kota naik tram. Saya pun tidak terlalu merasa bersalah dan sedih karena tidak memiliki mobil.

Melihat pengamen di tram, papa langsung berceletuk ringan, “wah ada juga pengamen di Jenewa ya. Kayak di Indonesia aja.”

Orang tua saya cuma kadang suka capek harus terburu-buru, karena bis dan kereta selalu tepat waktu. “Paling tidak”, mama bilang, “kita tahu pasti kapan harus berangkat dan kapan sampai. Nggak seperti kereta Lampung-Palembang. Nggak jelas kapan bakal sampai. Kalau sudah ada kereta babaranjang, bisa nunggu berjam-jam.”

Mereka pun akhirnya mengerti keputusan saya untuk tidak membeli mobil (kenyataan yang selalu membuat orang tua sedih, membayangkan miskinnya hidup saya di sini). “Lha kalau transportasi umumnya begini, nggak perlu punya mobil. Bis dan tram banyak, bersih, dan selalu tepat waktu.” Begitu komentar mereka.

Xaf sempet iseng: “Mama, coba dengerin bunyi keretanya…nggak ribut kayak kereta di Indonesia kan yang gruduk gruduk bising.” Mama cuma bisa nyengir dan ketawa, “Sialan!”

“Tapi bener ya pit, keretanya nggak bising. Jalannya juga mulus, nggak gradak gruduk. Kita bisa tidur. Nggak kayak di Indonesia, boro-boro mau tidur, kalau lengah bisa-bisa jatuh ngeguling dari kursi,” komentar mama saya selama perjalanan ke Lucerne. Sedangkan papa saya sudah dengan nyamannya tidur di kursi depan.

Sewaktu mau pulang, mama sempet bilang, “Mama puas pit. Udah naik kereta berbagai macam bentuknya selama di Swiss. Banyak cerita yang mama bisa ceritain sama temen-temen di Lampung. Tinggal nanti di Jepang, mama mau naik Shinkansen!” Komentar mama saya yang tiba-tiba jadi pencinta kereta api.

Orang Swiss toleransinya tinggi ya….

Saya yang denger sempet bingung. Ternyata mama saya mengomentari sopannya para penduduk Jenewa di tempat umum. “Iya pit, naik ke bis atau ke kereta nggak dorong-dorongan. Jalan di trotoar pun nggak grasak grusuk. Di mana-mana antri. Terus…coba, mana ada di Indonesia mobil yang mau berhenti sewaktu kita mau menyebrang. Yang ada, semakin dilihat orang mau nyebrang semakin digas mobilnya. Iseng….biar kita terbirit-birit,” penjelasan singkat mama saya.

Mama saya yang clean and control freak kayaknya nyaman banget dengan teraturnya masyarakat Jenewa.

Aduh kembangnya…kok bisa begitu bagusnya?
Kedua orang tua yang sangat cinta tanaman dan kembang, terkagum-kagum melihat tata kota Jenewa yang penuh dengan taman yang dihiasi berbagai bunga warna-warni. Trotoar pun dihiasi dengan pot-pot bunga besar yang penuh dengan untaian bunga.

Mama saya sempet kalap melihat bunga-bunga “nganggur” di pinggir jalan. “Kok bisa rimbun dan subur begitu. Kalau di Indonesia dua hari aja pasti sudah gundul, dipotelin sana-sini. Kok nggak ada yang iseng nyabutin bunga? Di rumah, bunga mama di balik pagar aja masih digondol maling,” renung mama saya. Mama dan papa saya sibuk mengagumi berbagai susunan bunga di pinggir jalan, di balkon berbagai apartemen, dan taman kota setiap saat kami keluar rumah.

Duduk di taman pinggir danau, mama berceletuk, “Kalau ibu-ibu ada di sini, kita udah gelar tiker, nyambel sambil bakar ikan asing. Pasti seru.” Mama sibuk membayangkan nyamannya arisan di lapangan rumput hijau di kelilingi oleh pohon-pohon tua sambil menikmati semilir angin danau dan lenggok puluhan tangkai bunga berwarna-warni. Sambil memandangi danau dan angsa, mama komentar ke papa “Seandainya aja kita bisa bahasanya, enak pensiun di sini. Sore-sore bisa duduk-duduk di taman kayak begini.”

“Punya anak kecil di sini juga enak. Banyak taman bermain untuk anak kecil. Ngedorong kereta anak sambil menyusuri danau, enaknya…. ” komentar mama saya sambil mengamati berbagai keluarga yang juga sedang menikmati sore di taman pinggir danau.

Kebanyakan peraturan!
Kedua orang tua saya ngedumel. Nggak bisa masak malam-malam, nggak bisa ngobrol bebas di bis, nggak bisa bersih-bersih malam-malam, nggak boleh ini nggak boleh itu. “Mama mau masak dan klontang klontang kapan aja kayak di rumah,” gerutu mama saya sewaktu saya ingatkan untuk tidak terlalu membuat keributan di dapur malam-malam.

Hidup di Jenewa mahal!
Keluh kesah kedua orang tua. Kayaknya setiap kita jalan-jalan keluar kota, orang tua selalu melihat harga tiket kereta api sambil agak sendu. Mungkin sibuk ngitung berapa banyak biaya yang saya keluarkan untuk acara jalan-jalan mereka.

“Mama nggak rela bayar 15 ribu cuma untuk buang air kecil (di Jenewa, toilet umum kadang diurus oleh perusahaan swasta. Dan untuk bisa menggunakannya kita harus membayar CHF 2 untuk perempuan. CHF 2 itu sekitar Rp 15.000). Memang sih toiletnya bersih dan wangi, tapi tetep aja mama nggak rela. Di Indonesia aja cuma bayar 500 perak!” dumel mama saya.

Papa juga sama, sewaktu mau membeli oleh-oleh sampai surut semangatnya. “Haduh…nggak ada ya oleh-oleh yang di bawah CHF 5 ya? Kalau harus beli pena CHF 15 untuk setiap orang kemahalan,” keluh papa.
Acara belanja pun jadi acara perbandingan harga. Dari harga tomat, beras, sampai ke sepatu dan tas tangan. Orang tua saya yang mungkin sempat mimpi-mimpi shopping di Jenewa, jadi hilang semangatnya sewaktu melihat daftar harga yang jauh lebih mahal dari di Indonesia. Paling tidak, sekarang mereka sadar kenapa saya selalu berusaha berhemat setiap saat. Tapi sempet sedih juga, karena minimnya keuangan saya menjadikan saya tidak bisa memberikan dana yang cukup untuk orang tua untuk berbelanja sepuas hati.

Nanti ya ‘pa, ‘ma, pipit selesai kuliah dan dapet kerjaan yang bener, papa sama mama bisa ke Eropa lagi, dengan budget yang berbeda.🙂

Orang di sini beda ya pit?

“Orang tua di sini mandiri sekali ya pit,” kata mama saya setiap melihat para manula yang dengan gagahnya naik bis atau belanja sendirian. “Sudah begitu, nenek-neneknya terurus dan gaya lagi. Kalau di Indonesia, paling cuma pakai daster seharian, boro-boro mau dandan. Di sini, nenek-nenek aja rambutnya tertata rapi. Lihat pit….kukunya, dimanikur. Pakaiannya gaya-gaya, modis,” celoteh mama saya sambil curi-curi pandang ke seorang nenek di bis.

“Iyalah, mereka pensiun uangnya pasti banyak. Anak sudah pada mandiri dan nggak jadi pikiran mereka lagi. Mereka benar-benar bisa menikmati masa tua dan uang pensiun,” renung mama saya. Dalam hati saya cuma bisa ngomong, “Tenang ‘ma. Anak mama sudah mandiri dan tidak akan merepotkan mama di hari-hari pensiun mama nanti.”

Suatu hari sambil menunggu bis, tiba-tiba ada bis yang datang di jalur bis di belakang punggung. Mama saya menengok, dan langsung noel-noel saya. “Pit, sopir bis di sini ganteng-ganteng ya. Nggak kayak di Indonesia. Dekil, keringetan. Lha tuh…lihat sopir di sebelah. Cakep, bersih, gaya,” kata mama saya sambil cengengesan.

Singkat cerita, kedua orang tua akhirnya bisa melihat dengan mata kepala mereka sendiri keadaan hidup saya di Jenewa. Bagus kalau mereka bisa memahami masyarakat di sini dan terbuka matanya akan dangkalnya stereotype orang Indonesia akan orang dan masyarakat Eropa. Sekuler tidak harus selalu diasosiasikan dengan terkutuk, dan masyarakat sekuler tidak berarti masyarakat yang amburadul dan tidak memiliki hati nurani. Paling tidak saya harap mereka bisa mengerti mengapa anaknya jatuh cinta dengan kota dan masyarakat Jenewa, dan memutuskan untuk menetap di sini. Saya juga berharap mereka bisa melihat bahwa saya sudah memiliki kehidupan baru di sini dan bahwa Jenewa adalah rumah kedua saya.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

11 Responses to “Turis kritis”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Pipiiiiiittt kapan gue ‘didatangkan’ ke Jenewa!!!

Kereta api menjangkau berbagai penjuru negeri, sampai ke puncak gunung yang tingginya lebih dari 1000 km sekalipun.

mungkin maksudnya 1000 m? Everest saja cuma 8 km😉

Anda benar, sepertinya kalo ada foto-foto, postingan yang menarik ini akan jadi jauh lebih menarik!🙂

Ollie: Nanti..nanti, tunggu saya dapet lotre dulu ya🙂

Amir: Oooppss…ya itu maksudnya. Terima kasih koreksinya. Brosur turisnya ketinggalan di rumah, berhubung pengetahuan geografi saya cetek, jadi salah deh. Salam kenal.🙂

mBu: Cerita yang pakai poto menyusul. Terima kasih sudah berkunjung.🙂

Waaah….pingiiin……😦
Tapi ke Mekkah dulu kali yak..
Trus pulangnya lewat swiss😛

«nggak bisa ngobrol bebas di bis»

bah’ on peut pas, c’est pas vrai …!
kalo ngobrolnya santai, tenang, knp ngga “bebas”?

Haikal: Kalau jadi ke Swiss, bilang-bilang ya. Nanti tak tunjukkan keindahan kota Jenewa🙂

Macchi: Lha, jujur aja toh pak. Kebanyakan orang kalau ngobrol rame-rame kan pasti riwuh. Bukannya tidak boleh ngobrol sama sekali, boleh…tapi harus bisik-bisik dan jangan sampai mengganggu yang lain. Kalau sudah ada orang yang nengok-nengok ke kita sewaktu lagi ngobrol di bis, ini artinya musti ngecilin volume atau diam sebentar.

Salam Kenal Mba, aku sudah lama baca blog mba…
Menarik N nambah pengetauan BGT!!!
ummm kapan yah bisa kesanaaaa

Tapi sekarang Swiss sudah tidak terlalu aman dibandingkan jaman dulu. Sejak mulai banyak kaum pendatang yang datang ke Swiss. Salah satu tamu adik ipar saya, kaca mobilnya pecah dan semua dokumen dan barang berharganya hilang.. sayang sekali. Tapi sudah pasti lebih aman swiss dibanding Jakarta😉

Geneve juga beda banget sama jaman dulu, sekarang rame banget, kalo weekend di lac rame banget yah, kayak pasar aja.. tapi seruuu jadi ingat Jakarta..

@Putri: terima kasih sudah sudi mampir, seneng kalau tulisan saya bisa bermanfaat.

@Rosa: Kalau mengikuti pendapat kamu, berarti saya yang nota bene pendatang adalah tipe maling? Saya paling hati-hati untuk ikut-ikutan terperosok ke dalam diskursi à la UDC (partai politik extreme right di Swiss) yang dengan angkuhnya mengagungkan diskriminasi dan rasisme. Jadi Rosa, tidak, saya tidak setuju dengan kamu. Maaf. Saya menolak stereotype tersebut, saya pendatang dan saya tidak pernah melanggar hukum sekalipun di negara ini.

Masalah keamanan dan imigrasi di negara ini jauh lebih kompleks dari sekedar “Swiss tidak aman karena para pendatang.” Generalisasi seperti ini sangat gampang untuk dimobilisasi untuk mendukung diskriminasi dan rasisme, dan sangat mempengaruhi kehidupan para pendatang, termasuk saya.

Kalau Rosa sempat mengikuti perkembangan politik dan pemilu di Swiss beberapa tahun terakhir ini Rosa akan mengerti akan keprihatinan saya.🙂

mau dong ke jenewa


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: