Tidak amankah Jenewa?

Posted on November 1, 2008. Filed under: Jenewa - Geneva |

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa blog ini dibiarkan telantar tanpa tulisan baru. Sebenarnya bukan maksud untuk tidak menulis, tapi apa daya penelitian saya di benua kangguru dan Indonesia telah menyita energi dan keinginan untuk menulis.

Walau banyak sudah kesan, pesan, dan tentunya keluh kesah tentang penelitian di 3 negara dan 5 kota yang ingin saya tulis, tapi ceritanya harus menunggu lain waktu. Kali ini saya mau bercerita (kembali) tentang hidup di Jenewa sebagai reaksi terhadap berbagai cerita tentang tidak amannya Jenewa dari beberapa orang Indonesia yang ketumpuan sial di kota kediaman tercinta saya itu.

Setelah menerima surat dari seorang teman baru yang akan tinggal sementara di Jenewa sebentar lagi yang mengutarakan kekhawatirannya akan keamanan kota Jenewa, saya sempat tercengang. Tak hanya karena teman saya itu tinggal di Jakarta, tapi lebih karena cerita-cerita horor tentang Jenewa itu ternyata sudah terlalu banyak diceritakan oleh mereka orang Indonesia yang pernah tinggal atau berkunjung ke sini.

Saya terus terang sebal dengan cerita heboh yang kemudian dijadikan generalisasi dan memberikan citra ketidakamanan kota Jenewa. Jadi, ijinkanlah saya menceritakan sedikit tentang kota ini dan bagaimana saya tetap merasa hidup saya jauh lebih aman daripada di Indonesia.

Saya cinta sekali dengan Jenewa, bukan hanya karena tata kota yang cantik, transportasi publik yang kenyamanan dan pelayanannya telah memberikan standar ideal bagi apapun yang menamakan dirinya transportasi publik, berbagai taman kota yang indah dan rindang, atau berbagai cafe dan restoran langganan saya. Tapi karena kota Jenewa itu AMAN untuk seorang pipit, seorang perempuan yang penakut dan tidak punya jiwa petualang sama sekali. Mungkin saya subjektif, mungkin saya termasuk yang beruntung, tapi mungkin juga tidak.

Banyak orang menggerutu akan meningkatnya tingkat kriminalitas di Swiss dan Jenewa, dan menuduh peningkatan jumlah imigran (gelap) sebagai sebabnya. Untuk yang mengikuti perkembangan politik di Jenewa dan Swiss pastinya tidak asing akan topik ini. Sebagai seorang pendatang dan pelajar ilmu politik, saya sungguh merasa cemas akan perkembangan yang dengan gampangnya memberikan pembenaran akan generalisasi dan diskriminasi. Tidak semua pendatang tipe maling, dan tidak semua kejahatan dilakukan oleh pendatang. Jadi sebelum dengan gampangnya ikut-ikutan menyalahkan para imigran, sebaiknya pikirkan dulu konsekuensi pendapat tersebut.

Seberapa tidak amankah Jenewa? Menurut penelitian dari Overseas Security Advisory Council, peningkatan tingkat kejahatan di Jenewa memang cukup mencengangkan. Peningkatan tingkat kejahatan seksual di tahun 2004-2005 misalnya, sampai mencapai lebih dari 50%  atau 71 kasus yang dilaporkan.  Tapi apakah ini berarti kekerasan seksual sesuatu yang jauh lebih banyak terjadi di Jenewa daripada di Jakarta? Saya ragu. Saya tidak naif dan tidak percaya sepenuhnya bahwa ada kota yang benar-benar aman di dunia ini untuk seorang perempuan, nama lain untuk obyek tindakan kejahatan. Tapi bila dibandingkan dengan tingkat kejahatan di Jakarta misalnya, paling tidak 3,200 kasus pemerkosaan di tahun 1993 (saya yakin angka ini jauh lebih rendah daripada banyak kasus yang sebenarnya terjadi mengingat korban pemerkosaan mendapatkan tekanan sosial untuk tidak melaporkan kasusnya di Indonesia), Jenewa jauh lebih aman. Memang data statistik tersebut tidak dapat benar-benar dibandingkan mengingat perbedaan waktu dimana statistik tersebut diambil, apalagi mengingat tingginya angka kekerasan seksual sewaktu kerusuhan tahun 1999 di Jakarta. Tapi paling tidak bisa memberikan sedikit gambaran.

Rendahnya atau tidak adanya statistik kejahatan yang bisa dipercaya bagi Indonesia tidak berarti bahwa angka nominal yang disebutkan untuk negara lain merupakan bukti bahwa negara tersebut jauh lebih rawan! Angka kecopetan di Jenewa memang cukup memalukan, 4,546 kasus yang tercatat di tahun 2004-2005, tapi apakah angka tersebut jauh lebih banyak dari Jakarta? Saya ragu. Memangnya kasus kecopetan selalu dilaporkan dan selalu dicatat di Jakarta? Untuk bisa membandingkan secara objektif antara tidak amannya Jenewa dan kota besar lainnya di Indonesia cukup mustahil, karena tidak adanya statistik kejahatan yang dapat dipercaya untuk Indonesia. Terlebih lagi, laporan terakhir dari kepolisian neuchâteloise (canton tetangga Jenewa) menyatakan bahwa tingkat kejahatan di Swiss menurun pada tahun 2007.

Data statistik secara obyektif ternyata tidak membantu banyak untuk membandingkan keamanan di Jenewa daripada di Indonesia. Bagaimana dengan pengalaman subyektif?

Saya datang ke negara Swiss pada tahun 2001, sewaktu saya belum genap berumur 23 tahun. Berhubung saya berasal dari keluarga sederhana, saya belum pernah jalan-jalan keluar negeri sebelumnya. Saya sendiri seorang yang penakut, dan pengalaman tinggal di kota Lampung dan didikan orang tua membuat saya sangat waspada akan kejahatan. Jadi bayangkan takutnya saya ketika harus tinggal di negeri orang, sendirian.

Tapi ternyata, Swiss dan Jenewa-lah yang membuat saya bisa mengatasi berbagai ketakutan saya sebagai seorang perempuan. Selama 6 tahun lebih saya tinggal di Jenewa, tidak terhitung banyaknya waktu dimana saya harus pulang naik bis umum pada malam hari (kadang sampai jam 11 malam) sendirian. Kegiatan yang tidak akan pernah saya lakukan di Indonesia! Tapi tidak pernah saya mendapatkan masalah. Deg-degan pasti, karena saya takut dengan gelap. Diganggu orang di bis? Tidak pernah.

Kenapa saya merasa aman di bis bahkan di malam hari? Bis dan tram di Jenewa sangat nyaman dengan jendela yang buesar. Pada malam hari, lampu di dalam bis atau tram akan menyala dengan sangarnya. Jadi tidak ada itu pojok remang-remang yang mengundang aktivitas kejahatan. Lagipula, setiap sopir angkutan umum bisa menghubungi polisi atau ambulans langsung dari bisnya. Setiap dia melihat ada kegiatan yang mencurigakan di bisnya (setiap bis dilengkapi kamera atau kaca) dia bisa dengan gampangnya menelpon polisi yang kemudian akan tiba di pemberhentian bis berikutnya.

Jalan-jalan di Jenewa pun kebanyakan memiliki penerangan jalan yang sangat baik. Kebanyakan trotoar diterangi lampu malam yang sangat membantu saya merasa aman.

Ditambah, yang namanya kerusuhan massa itu bisa dibilang hampir tidak ada. Kalau di Indonesia saya sering ketakutan setiap melihat gerombolan massa, di sini, jumlah penduduk yang sedikit dan relatif lebih gampang diatur sangat menyejukkan. Di sini tidak ada tawuran antar pelajar, pengeroyokan maling, tawuran antar kampung atau antar ras. Pendek kata, Buser akan sepi berita kalau harus meliput Jenewa.

Demonstrasi sekalipun jarang yang berbuah kekacauan, kecuali beberapa demonstrasi anti globalisasi yang pernah mencoreng kota Jenewa karena ditunggangi oleh kelompok anarkis pada tahun 2003 (berita). Saya ingat bagaimana masalah ini menjadi topik pembicaraan dan debat selama beberapa bulan kemudian, dan bahkan menyebabkan mundurnya beberapa pejabat.

Demonstrasi memang makanan sehari-hari di kota ini, tapi tidak pernah saya merasakan was-was seperti halnya setiap ada demonstrasi di Indonesia. Selain peristiwa tahun 2003 itu, seingat saya tidak ada masalah kekerasan yang berbuah atau mewarnai demonstrasi. Satu yang perlu diingat, berdasarkan hukum, militer tidak diperkenankan untuk ikut campur dalam pengamanan demonstrasi. Ini disebabkan suatu peristiwa berdarah pada tahun 1960-an (kalau tidak salah) di kota tersebut yang tugunya selalu saya lihat setiap ingin ke University of Geneva. Saya harus konfirmasi dulu dengan suami saya yang tahu lebih jelas tentang peristiwa tersebut.

Lucunya lagi, demonstrasi selalu dijadwalkan dan diberitahukan secara luas kepada publik untuk mencegah terganggunya aktivitas yang lain. Bis dijadwal dengan baik dan mengumumkan berbagai rute yang akan terjadi kemacetan. Demonstrasi pun secara umum berjalan sangat damai dan bahkan menyenangkan. Lagipula banyak demonstrasi di sini yang memiliki motivasi yang jauh dari kekerasan.

Saya pernah tinggal sendirian di apartemen selama satu tahun tanpa suami, tidak pernah mendapatkan masalah apapun. Bisa tidur dengan nyenyak waktu malam, dan bisa dengan nyaman meninggalkan apartemen kosong setiap harinya.

Saya tidak pernah kecopetan, kecolongan, ditodong, menjadi korban pelecehan seksual, atau dikompas. Sayangnya semua hal tersebut (kecuali ditodong) pernah saya alami di Indonesia, terlepas dari sederhananya saya dalam hidup dan berpenampilan.

Tapi mungkin juga gaya hidup saya yang kutu buku dan waspada yang selalu “melindungi” saya. Saya memang tidak suka ke pub atau bar di malam hari, kecuali bila diajak dengan teman ramai-ramai. Saya tahu diri untuk tidak mengundang kejahatan dengan tidak berada di titik-titik rawan kota di malam hari sendirian, seperti di beberapa pojok gelap stasiun kota, beberapa tempat di daerah Pâquis dan des Eaux-Vives, atau berjalan sendirian tengah malam menyusuri taman kota yang gelap. Saya tidak lengah menaruh tas setengah terbuka di kursi di bis, memamerkan emas 10 kilo di badan saya, atau lengah dalam menjaga tas tangan saya di keramaian. Saya juga selalu waspada bila berjalan di daerah yang penuh dengan cafe atau pub, karena saya takut dengan orang yang mungkin tipsy atau sedikit mabuk. Tapi apakah ini artinya saya merasa Jenewa tidak aman?

Bukannya sikap waspada juga selalu dianjurkan di Indonesia? Saya hanya melakukan hal yang sama dengan apa yang akan saya lakukan di Indonesia, bahkan kurang! Mana berani saya naik bis kota setelah jam 8 malam di Indonesia sendirian. Saya waspada bukan karena saya takut, tapi karena saya berpikir dan sudah terbiasa.

Inilah salahnya. Mungkin banyak orang Indonesia yang mentang-mentang berada di Swiss langsung menjadi naif kemudian menjadi lengah, dan ketika sial menimpa langsung menghujat ketidakamanan Swiss. Suatu komentar yang sungguh tidak proporsional.

Untuk menghindari kejahatan di Jenewa resepnya ya sama saja dengan dimana saja. Waspada. Ketahui titik-titik rawan kota (yang semua kota juga ada) dan hindarilah. Itu saja.

Mungkin Jenewa memang sudah kurang aman dibandingkan 10 atau 20 tahun lalu (banyak sekali komentar dan cerita tentang amannya Swiss dan Jenewa pada waktu lalu bila dibandingkan dengan sekarang), tapi tidak berarti Jenewa tidak aman. Saya merasa jauh lebih aman di kota tersebut dibandingkan dengan kota manapun yang pernah saya tinggali atau kunjungi.

Jadi, jangan takut untuk datang dan berkunjung ke Jenewa.🙂

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

4 Responses to “Tidak amankah Jenewa?”

RSS Feed for Another try Comments RSS Feed

Hello,..nice blog.nggak sengaja nemu blog anda🙂
Sepertinya menyenangkan ya tinggal di Swiss,…atau paling nggak di Eropa dan luar Indonesia.krn di Indonesia terlalu bnyk masalah.he.he…kriminalitas,bentrokan,tawuran,
polusi,kemacetan,..semuanya sptnya jadi satu di sini🙂
Terpaksa deh sy nikmati,krn blm bisa ke negeri orang.
Salam kenal ya dr saya..(gmn sy hrs memanggil anda,..? mbak,..ibu,..atau tante..)
trims atas wkt nya.Salam🙂

hai, pit. Emang sih pada umumnya tidak ada satu kotapun di dunia ini yang seratus persen aman. Paling barometernya cuman bisa dilihat dari statistik tingkat kriminalitas pada suatu kota aja.
Aku besar di Jakarta juga Pit, tapi alhamdulillah yang namanya kena copet, kecolongan di kendaraan umum juga belum pernah. Mungkin saya yang beruntung atau mungkin juga saya tipe yang amat sangat waspada. Tapi takut untuk menggunakan transportasi umum di Jakarta justru saya rasakan setelah merasakan tinggal di Eropa. Entah kenapa. Padahal dulu saya paling ‘jagoan’ pulang malem di Jakarta. entah dengan ojek, bis ataupun taksi.
Saya pikir mungkin tidak ada korelasinya sama sekali .Wong daerah tempat saya tinggal di Inggris relatif aman. Saya juga gak pernah merasa diganggu sewaktu di bis ataupun kereta selama di sini.
Hmm is it probably just a psychological effect? I don’t know for sure. Tapi setelah merasakan tinggal di Eropa, ketika liburan ke Jakarta, saya malah jadi ‘pengecut’ gak berani kemana2 pada malam hari kalo bukan dengan kendaraan pribadi.
It’s a shame that those Indonesian feel unsafe when they stay in Geneve as I believe they should be able to live anywhere if they have lived in Jakarta!

halo nemu aja ni blognya…kebetulan september ini mo pindah jenewa…tanya2 doong..bole tak imel pribadi?

helloo

humm, nice blog ..

aq mw nanya, kamu koq bisa tinggal di swiss?? gimana caranya?? hehe


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: